Inilah Jihad Manhaj Datuk Kalampayan

Seperti apa jihad manhaj Datuk Kalampayan? Sebagai orang Banua Banjar, penting bagi kita mengenali manhaj ulama kebanggaan Banua Banjar ini. Ulama yang dikenal kealimannya bahkan kewaliannya, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Hal ini agar tidak terjadi disrupsi, tercerabut dari akar Banua kita.

Oleh: Khairullah Zain *)

Sering diceritakan guru kami Sayyidi wa Mawlaya Abah Guru Sekumpul qoddasallah sirrah di pengajian, bahwa suatu kali Mawlana Syekh Muhammad Arsyad atau Datuk Kalampayan menerima surat dari sahabat seperguruannya Syekh Abdussamad Al Palimbani yang mengajak beliau perang jihad melawan penjajah Belanda di negeri Palembang.

Memang kala itu, Syekh Abdussamad lagi gencar menyerukan perang jihad fi sabilillah melawan penjajah Belanda.

Syekh Abdussamad menyusun kitab tentang jihad yang diberi judul “Nasihat al-Muslimin wa Tadzkirat al-Mu’minin fi Fadha’il al-Jihad fi Sabilillah wa Karamat al-Mujahidin fi Sabilillah”. Kitab yang tidak hanya berisi tentang keutamaan berjihad, namun juga bermacam amalan/wirid bagi mujahid.

Diriwayatkan bahwa Syekh Abdusssamad kerap bersurat dengan raja-raja Muslim di Nusantara untuk menggelorakan semangat jihad terhadap penjajah. Juga kepada para ulama. Termasuk sahabat seperjuangan dan seperguruannya Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Namun, apa jawab Datuk Kalampayan?

Mengajar anak cucu lebih afdhal (utama) daripada perang jihad. Demikian prinsip Datuk Kalampayan, sebagaimana dikisahkan Abah Guru Sekumpul. Inilah jihad manhaj Datuk Kalampayan.

Jihad fisik memang penting, namun hukumnya tidak sama bagi semua orang. Ada yang fardhu ‘ain dan ada yang fardhu kifayah.

Jihad fardhu ‘ain bagi penduduk yang daerahnya diserang musuh. Adapun bagi kaum muslimin di luar daerah tersebut, maka fardhu kifayah untuk membantu.

Hukum ini gugur bila sudah ada orang lain yang membantu. Bahkan bila ada yang amal ibadah lain yang lebih afdhal (utama), maka jihad bantuan ini menjadi mafdhul.

Bagi Datuk Kalampayan, yang negerinya yaitu negeri Banjar kala itu relatif aman untuk berdakwah dan mengajarkan ilmu, maka menurut Beliau lebih utama mendidik anak cucunya dan menyiapkan kader berilmu sebagai generasi penerus.

Dengan begitu, akan menghasilkan kader-kader berilmu yang bisa menyebarkan dakwah Islam ke segenap penjuru. Hal yang tidak akan terjadi andai beliau pergi ke medan perang dan syahid di sana. Inilah jihad manhaj Datuk Kalampayan.

Penting dicatat, ini adalah perang jihad melawan kaum kafir yang menjajah. Bukan demonstrasi melawan musuh politik yang seagama.

Bila terhadap kaum kafir yang menjajah negeri sahabatnya saja beliau bersikap demikian, apalagi terhadap sesama kaum Muslimin yang hanya berbeda pandangan politik.

Hari ini, kita disuguhi pemandangan orang-orang yang menyebarkan doktrin dan propaganda untuk menyeret kita keluar dari jihad manhaj Datuk Kalampayan ini.

Mereka meneriakkan jihad, alih-alih mengajak ummat agar mendalami ilmu dan menyiapkan kader-kader berilmu.

Parahnya, bukannya dalam rangka memerangi kafir harby, mereka memprovokasi massa agar saling tuntut-menuntut, berunjuk rasa hanya demi kepentingan politik praktis.

Pihak yang mereka serang adalah sesama umat Islam. Hanya saja beda pandangan politiknya. Aneka tuduhan dipropagandakan untuk mendoktrin dan memprovokasi massa membela pandangan politiknya.

Jihad model apa ini?

Tak ada yang mereka hasilkan selain perpecahan antar ummat, saling berburuk sangka, saling mencaci dan mencela, bahkan bukan tidak mungkin saling berkelahi antar sesama.

Ini bukan jihad fi sabilillah (jihad di jalan Allah) namanya, tapi jihad fi sabilisysyaithon (jihad di jalan setan), sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Israa ayat 53 :

“Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”.

Apakah kita mau menuruti ajakan setan (baik dari kalangan jin maupun manusia) ini dan meninggalkan manhaj pendahulu kita yang sudah dikenal keramat dan kewaliannya?

Jawabnya berpulang pada diri kita masing-masing.

Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thoriiq.

Baca Juga: Wadah Tinta Ini Saksi Sejarah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Baca Juga: Hukum Pidana Islam dalam Sejarah Islam Banjar.

Editor: Shakira.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *