Haid Sebelum Sempat Mandi Janabat, Wajibkah Mandi?

Bagaimana hukum seorang perempuan yang tiba-tiba haid, padahal ia belum sempat mandi janabat setelah melakukan hubungan suami isteri, wajibkah mandi? Hal ini menarik untuk kita telaah, karena mungkin saja pernah terjadi di kalangan perempuan.

Oleh: Khairullah Zain *)

IMG 20200822 WA0044 1 150x150 - Haid Sebelum Sempat Mandi Janabat, Wajibkah Mandi?Pada prinsipnya, setiap muslim dan muslimah wajib melakukan mandi janabat apabila telah melakukan hubungan suami isteri. Karena sentuhan antara dua kelamin mengakibatkan seseorang berhadats besar. Mandi janabat berfungsi mengangkat hadats besar tersebut.

Sementara, khusus bagi setiap muslimah, haid juga mengakibatkan hadats besar. Karenanya bila telah selesai haid wajib melaksanakan mandi janabat.

Nah, secara sekilas, seorang wanita yang haid pasca melakukan hubungan suami isteri dan belum melaksanakan mandi wajib tertimpa dua penyebab hadats besar. Hadats besar akibat persentuhan dua jenis kelamin yang berbeda dan hadats besar akibat haid.

Namun, untuk melakukan mandi janabat akibat haid masih belum sah, karena haidnya masih belum selesai. Bagaimana dengan hadats besarnya akibat melakukan hubungan suami isteri?

Membahas hal ini, Imam as Syafi’i rahimahullah memandang kepada tujuan mandi janabat, yaitu suci dari hadats besar. Adanya beberapa penyebab bukan masalah. Menurut beliau, perempuan yang berhadats besar dan tidak sempat mandi janabat tidak diwajibkan mandi, selama haidnya belum selesai. Hal ini karena meski mandi janabat, hadats besarnya masih ada, yaitu yang disebabkan oleh haid. Berikut kutipan kitab al Umm (II/95):

إذا أصابت المرأة جنابة ثم حاضت قبل أن تغتسل من الجنابة لم يكن عليها غسل الجنابة وهي حائض، لأنها إنما تغتسل فتطهر بالغسل وهي لا تطهر بالغسل من الجنابة وهي حائض

“Apabila seorang perempuan tertimpa janabat, kemudian haid sebelum sempat mandi junub, ia tidak wajib mandi janabat selama masih haid. Karena perempuan diwajibkan mandi agar suci dari junub, sementara ia tidak akan suci selama masih haid”.

Kemudian, bila telah selesai haid, berapa kali perempuan seperti dalam kasus ini wajib mandi?

Menurut Imam as Syafi’i rahimahullah, cukup satu kali mandi saja. Bahkan meski seseorang tertimpa beberapa hal yang menyebabkan hadats besar, satu kali mandi wajib sudah cukup untuk mengangkat hadats besarnya.

 فإذا ذهب الحيض عنها أجزأها غسل واحد، وكذلك لو احتلمت وهي حائض أجزأها غسل واحد، لذلك كله ولم يكن عليها غسل، وإن كثر احتلامها حتى تطهر من الحيض فتغتسل غسلاً واحداً 

“Maka bila haid telah pergi darinya, cukup baginya satu kali mandi saja. Demikian pula seandainya seorang perempuan mimpi basah, kemudian haid, cukup satu kali mandi saja untuk mengangkat semua hadats besarnya. Tidak wajib baginya mandi, sekalipun beberapa kali bermimpi basah, sampai ia selesai dan bersih dari haidnya. Maka cukup satu kali mandi saja (untuk mengangkat semua hadats besarnya)”.

Memang, ada beberapa pendapat madzhab lain yang mengatakan sah mandi janabatnya, meski masih dalam keadaan haid, untuk mengangkat hadats besar selain yang disebabkan oleh haid. 

Namun hal ini bukan berarti perempuan yang melaksanakan mandi wajib di saat masih haid sudah suci. Kalaupun dianggap suci, maka hanya dari satu hadats besar saja, yaitu yang disebabkan hal lain bukan dari haid.

Madzhab Imam Ahmad rahimahullah misalnya, Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah menjelaskan dalam kitab Al Mughni (I/278): 

إذَا كَانَ عَلَى الْحَائِضِ جَنَابَةٌ ، فَلَيْسَ عَلَيْهَا أَنْ تَغْتَسِلَ حَتَّى يَنْقَطِعَ حَيْضُهَا، نَصَّ عَلَيْهِ أَحْمَدُ ، وَهُوَ قَوْلُ إِسْحَاقَ ؛ وَذَلِكَ لِأَنَّ الْغُسْلَ لَا يُفِيدُ شَيْئًا مِنْ الْأَحْكَامِ ، فَإِنْ اغْتَسَلَتْ لِلْجَنَابَةِ فِي زَمَنِ حَيْضِهَا ، صَحَّ غُسْلُهَا ، وَزَالَ حُكْمُ الْجَنَابَةِ، نَصَّ عَلَيْهِ أَحْمَدُ ، وَقَالَ : تَزُولُ الْجَنَابَةَ ، وَالْحَيْضُ لَا يَزُولُ حَتَّى يَنْقَطِعَ الدَّمُ

“Apabila seorang wanita yang sedang haidh mengalami junub, maka dia tidak wajib mandi sampai terhenti haidnya, ini adalah nash Ahmad dan perkataan Ishaq. Yang demikian karena mandinya tidak berfaidah (berpengaruh) dalam hukum. Apabila dia mandi karena junub ketika haidh maka sah mandinya dan terangkatlah junubnya, ini yang dinashkan oleh Ahmad, beliau berkata: Terangkat junubnya, adapun haid maka tidak terangkat sehingga terhenti darahnya “. 

Menanggapi hal ini, Imam As Suyuthi rahimahullah dalam Al Asybah wa an Nazhair (I/288), berkata:

إذا اجتمع أمران من جنس واحد ولم يختلف مقصودهما دخل أحدهما في الآخر غالبا فمن فروع ذلك إذا اجتمع حدث وجنابة كفى الغسل على المذهب كما لو اجتمع جنابة وحيض

“Jika berkumpul dua hal dalam satu jenis yang sama, namun maksud keduanya tidak berbeda maka biasanya yang satu sudah mencakup yang lainnya. Perincian masalah ini, seperti jika berkumpul antara hadats dan junub maka cukuplah sekali mandi menurut madzhab (maksudnya pendapat yang kuat dari beberapa perbedaan pendapat antara ulama madzhab Syafi’i), sebagaimana (cukup satu kali mandi saja) seandainya berkumpul antara junub dan haid.”

Kesimpulannya, wanita yang haid sebelum mandi janabat, tidak diwajibkan mandi. Namun juga tidak dilarang alias boleh saja kalau ia ingin mandi dengan niat niat mandi junub, namun hal itu bukan berarti telah suci selama haidnya belum terhenti.

Baca Juga: Sholat Wanita dengan Dagu Terbuka, Tidak Sah?

*) Penulis adalah alumnus Jurusan Fiqihiyyah Ma’had’Aly Darussalam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *