Selesai Haid Tapi Belum Mandi Wajib, Boleh Berhubungan Badan?

Seorang wanita yang selesai haidnya, tapi belum mandi wajib, bolehkah berhubungan badan dengan suaminya? Ini salah satu pertanyaan yang diajukan member WAG Kajian Fikih Wanita yang saya asuh.

Oleh: Khairullah Zain *)

IMG 20200822 WA0044 1 150x150 - Selesai Haid Tapi Belum Mandi Wajib, Boleh Berhubungan Badan?Mayoritas ulama mujtahid yang madzhab fikihnya masih bertahan hingga saat ini, yaitu Maliki, Syafi’i dan Hanbali menyepakati bahwa haram berhubungan badan antara suami isteri bila pihak isteri belum mandi wajib, meski haidnya telah selesai. Demikian pula para ulama mujtahid yang madzhabnya telah punah, seperti Imam al Laits, ats Tsauri, Ishaq ibn Rahawaih, dan Abu Tsaur.

Para ulama yang memutuskan haram ini berdalil dengan ayat 222 surah Al Baqarah:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, “Haid itu adalah suatu kotoran.” Oleh sebab itu, hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”

Kata “suci”pada ayat tersebut mereka maknai dengan ‘suci dari hadats’ alias telah melaksanakan mandi wajib.

Namun, berbeda dengan pendapat mayoritas, madzhab Hanafi memutuskan boleh berhubungan badan suami isteri bila isteri telah selesai haidnya, meski belum mandi wajib. Ulama mujtahid yang sependapat dengan Hanafi adalah Imam Al Auza’i. Ada riwayat yang mengatakan bahwa beberapa ulama hadits generasi Tabi’in juga berpendapat seperti ini, yaitu Imam ‘Atha, Thawus, dan Qatadah.

Bahkan, menurut yang disebutkan dalam Fath al Mu’in, Imam as Suyuthi seorang ulama madzhab Syafi’i juga berpendapat seperti ini:

واذا انقطع دمها حل لها قبل الغسل صوم لا وطء خلافا لما بحثه العلامة الجلال السيوطي رحمه الله 

“Bila darah haidnya telah terhenti, halal/boleh baginya puasa meski belum mandi wajib, tidak boleh hubungan badan. (Pendapat ini) berbeda dengan yang dibahas Al ‘Allamah Al Jalal As Suyuthi rahimahullah.”

Syekh Sayyid Bakri Syatha dalam I’anah at Thalibin mempertegas:

قوله (خلافا لما بحثه العلامة الجلال السيوطي) أي من حل الوطء أيضا بالانقطاع اهـ

“Redaksi ‘berbeda dengan yang dibahas Al ‘Allamah Al Jalal As Suyuthi’ maksudnya Ia menghalalkan pula hubungan badan dengan semata selesainya haid (meski belum mandi wajib)”.

Menurut mereka yang membolehkan, makna ‘suci’ pada Al Baqarah ayat 222 adalah terhenti dari haid, meski belum mandi wajib. Mereka berargumen, bila puasa telah dibolehkan bagi wanita yang telah selesai haidnya meski belum mandi wajib, maka berhubungan badan pun demikian.

Argumen lainnya, wanita yang telah selesai haidnya meski masih berhadats besar namun tidak lagi ‘kotor’. Bukankah wanita yang berhadats besar (selain karena haid dan nifas) boleh berhubungan badan meski belum mandi wajib? Misalnya, pasangan suami isteri yang ingin mengulangi hubungan badan, mereka boleh melakukan padahal masih belum mandi setelah selesai dari yang pertama. Lantas, kenapa wanita yang telah selesai haid tidak diperbolehkan?

Imam Ibn Baththal Al Qurthubi menjelaskan beda pendapat ini dalam Syarh Shahih Al Bukhari:

قَالَ اللَّه تَعَالَى : ( يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى ( إِلَى : ( الْمُتَطَهِّرِينَ ).

اختلف العلماء فى تأويل هذه الآية ، فقالت طائفة : لا يجوز وطء الحائض ، وإن انقطع دمها حتى تغتسل بالماء ، روى هذا عن الحسن ، والنخعى ، ومكحول ، وسليمان بن يسار ، وعكرمة ، ومجاهد ، وهو قول مالك ، والليث ، والثورى ، والشافعى ، وأحمد ، وإسحاق ، وأبى ثور .

واختلف العلماء فى الحائض هل يجوز وطؤها إذا انقطع دمها قبل أن تغتسل أم لا ؟ فقال مالك ، والليث ، والثورى ، والشافعى ، وأحمد ، وإسحاق ، وأبو ثور : لا توطأ حتى تغتسل بالماء ، وهو قول الشعبى ، ومجاهد ، والحسن ، ومكحول ، وسليمان بن يسار ، وعكرمة .

 وقال أبو حنيفة وأصحابه : إن انقطع دمها بعد عشرة أيام ، الذى هو عنده أكثر الحيض ، جاز له أن يطأها قبل الغسل ، وإن انقطع دمها قبل العشرة لم يجز حتى تغتسل أو يمر عليها وقت صلاة ، لأن الصلاة تجب عنده آخر الوقت ، فإذا مضى عليها آخر الوقت ووجبت عليها الصلاة ، علم أن الحيض قد زال ، لأن الحائض لا يجب عليها صلاة . وقال الأوزاعى : إن غسلت فرجها جاز لزوجها وطؤها ، وإن لم تغسله لم يجز ، وبه قالت طائفة من أصحاب الحديث ، وروى مثله عن عطاء ، وطاوس ، وقتادة .

واحتج أهل هذه المقالة بقوله : ( حتى يطهرن ) أى حتى ينقطع دمهن ، فجعل تعالى غاية منع قربها انقطاع دمها ، والدليل على ذلك أن الصوم قد حل لها بانقطاع دمها ، فوجب أن يحل وطؤها قبل الغسل ، كالجنب يجوز مجامعتها قبل الغسل ، قالوا : ولا يخلو بعد انقطاع الدم وقبل الغسل أن تكون طاهرًا أو حائضًا ، فإن كانت حائضًا فالغسل ساقط عنها ، وفى اتفاقهم أن الغسل عليها واجب بانقطاع الدم دليل أنها قد طهرت من حيضتها ، والطاهر جائز وطؤها

Screenshot 20201203 113004 1 718x1024 - Selesai Haid Tapi Belum Mandi Wajib, Boleh Berhubungan Badan?
Dr Wahbah az Zuhaili juga membahas khilafiyah hubungan badan pasca haid tapi belum mandi wajib ini dalam Al Fiqh Al Islam wa Adillatuh

Jadi, menurut kelompok ini, wanita yang terhenti haidnya telah ‘suci dari haid’, namun masih berhadats besar akibat telah haid. Hadats besar inilah yang menghalangi mereka dari kebolehan melaksanakan sholat dan ibadah yang dilarang lainnya, sebelum melaksanakan mandi wajib. Namun hadats besar ini, sebagaimana hadats besar yang disebabkan hal lainnya, tidak menghalangi kebolehan melaksanakan ibadah puasa juga berhubungan badan suami isteri.

Kendati demikian, para ulama yang berada di kelompok ini berbeda dalam rincian hukumnya. Madzhab Hanafi mensyaratkan kebolehan ini bila haid telah benar-benar selesai dibuktikan dengan berlalunya masa maksimal haid, yang menurut madzhab mereka 10 hari. Namun bila terhentinya haid sebelum masa maksimal haid atau kurang dari 10 hari, tidak boleh melakukan hubungan suami isteri kecuali telah melaksanakan mandi wajib (atau bertayammun bila tidak ada air).

Sementara, Imam Auza’i tidak mensyaratkan demikian, hanya mensyaratkan wajib membasuh kemaluan bila telah selesai haid. Selama belum dibasuh, belum boleh berhubungan badan.

Kemudian, bagaimana sikap kita menghadapi perbedaan pendapat ini?

Diantara prinsip fikih adalah bila terjadi pertentangan antara yang melarang dengan yang membolehkan, sementara alasan keduanya sama-sama kuat, maka pilihlah yang melarang. Karena itu, dalam hal ini sepatutnya yang kita pilih adalah pendapat yang mengharamkan berhubungan badan selama belum melaksanakan mandi wajib.

Baca Juga: Haid Sebelum Sempat Mandi, Janabat Wajibkah Mandi?

*) Penulis adalah alumnus Jurusan Fiqihiyyah Ma’had’Aly Darussalam Martapura.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *