KH. Idham Chalid Angkat Suara, Pasukan Gerombolan Tak Jadi Membegalnya

Banua.co, MARTAPURA – KH. Idham Chalid diceritakan pernah dihadang sekelompok gerombolan pada malam hari. Namun, setelah mendengar suara dari sang ulama, pimpinan gerombolan itu mengurungkan niat untuk menggeledahnya. Bagaimana bisa?

Sekilas Riwayat Hidup KH. Idham Chalid

KH. Idham Chalid bin Muhammad Chalid adalah seorang ulama kharismatik asal Amuntai. Beliau pernah menjabat sebagai Ketua Umum PBNU terlama dan termuda dalam sejarah periode 1956 sampai 1984.

Selain itu, KH. Idham Chalid juga merupakan pengajar di beberapa pondok pesantren. Di antara Pesantren yang diasuh oleh KH. Idham Chalid adalah Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (RAKHA) Amuntai, Ponpes Darul Qur’an Cisarua Bogor, dan Pondok Pesantren Darul Ma’arif Cipete Jakarta Selatan.

Dalam buku Idham Chalid Dimensi Spiritual Negarawan Agamis susunan Nur Hidayatullah diceritakan, pada tahun 1954 KH. Idham Chalid pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS). Sistem pemerintahan saat itu adalah sistem parlementer dengan Kabinet Ali Sastroamidjojo 1.

Baca juga: Cara Cerdas Tuan Guru di Martapura Meredakan Gejolak Pemberontakan

Ketika DPRS reses, KH. Idham Chalid pulang kampung ke Amuntai bersama istri dan anaknya, Taufik dan Nurul Huda. Dari Banjarmasin menuju Amuntai  berjarak sekitar 196 km.

Pada waktu itu, gerombolan pemberontakan yang dipimpin oleh Ibnu Hadjar sedang merajalela. Mereka menamakan dirinya Kesatuan Rakyat Yang Tertindas (KRYT). Mereka sangat membenci dengan pemerintahan pusat, begitu juga kepada anggota parlemen.

Sebelum berangkat, KH. Idham Chalid diperingatkan oleh kawan-kawannya bahwa di daerah Kandangan sedang hebat-hebatnya aksi gerombolan. KH. Idham Chalid pun berkata, “Kalau sebelum jam 21.00 malam insyaa Allah selamat.”

Berangkat KH. Idham Chalid dan keluarga menggunakan mobil. Tiba tiba, kurang lebih 5 kilometer sebelum memasuki daerah Kandangan (Hulu Sungai Selatan), KH. Idham Chalid beserta anak dan istrinya di-stop oleh kelompok bersenjata yang menggunakan pakaian hitam. (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *