Mengharukan, Kisah Perjuangan Guru Bakeri Menuntut Ilmu

Banua.co, MARTAPURA – Sebagaimana kisah para kiai pada umumnya, kisah perjuangan Guru Ahmad Bakeri juga mengharukan ketika menuntut ilmu agama.

Kali ini, penulis ingin menceritakan kisah perjuangan Guru Ahmad Bakeri ketika menuntut ilmu, dengan harapan bermanfaat untuk kita semua.

Kisah mengharukan perjuangan Guru Ahmad Bakeri menuntut ilmu ini penulis ambil dari buku “Jejak Sang Ulama dan Da’i Kondang Dari Seribu Sungai”.

Setelah lulus dari Madrasah Tsanawiyah pada tahun 1976, Guru Bakeri muda tak bisa melanjutkan pendidikannya. Terhalang oleh ekonomi, ia terpaksa harus menunda cita-citanya untuk belajar agama selama kurang lebih setahun lamanya.

Hingga pada tahun 1977, Guru Bakeri muda pun akhirnya mampu berangkat ke Martapura meskipun harus dibayar oleh sepeda merk Nortow tua peninggalan terakhir milik keluarganya.

Awalnya, keinginan Guru Bakeri muda untuk melanjutkan pendidikan agama di kota bergelar Serambi Mekkah itu mendapatkan cacian dan penolakan oleh teman-teman berikut kerabat.

Baca Juga: Ikhlas Berdakwah Ala Guru Bakeri

Hal itu terjadi lantaran melihat dari sisi ekonomi keluarga yang masih sangat sulit untuk membiayainya bersekolah disana.

Kendati demikian, Guru Ahmad Bakeri tidak mau kalah dengan sang kakak—Ahmad Tarmidzi—yang telah lebih dulu menyelesaikan jenjang pendidikannya di kota Martapura.

Sebagian dari anggota keluarga mengatakan, “Untuk apa bersekolah di Martapura? Jika nanti malah putus sekolah di tengah jalan, hanya akan membuang-buang uang. Kasihan dengan orangtuamu. Cukup kakakmu saja yang bersekolah di Pondok Pesantren Darussalam.”

Ada pula beberapa orang yang ikut menambahkan komentar, “Daripada sekolah, lebih baik kamu mencari istri untuk dipinang. Lihat teman-teman di sekitarmu, setelah lulus dari Tsanawiyah pun mereka langsung mencari istri.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *