Kisah Tuan Guru Zainal Ilmi, Bentengi Umat dari Propaganda Pemberontak yang Mengatasnamakan Islam

Banua.coTuan Guru Zainal Ilmi adalah sosok langka di Tanah Banjar. Ketika muncul pemberontakan yang mengatasnamakan Islam, dzuriat Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari ini adalah salah seorang yang mempunyai andil besar membentengi masyarakat dari pengaruh propaganda kelompok ini.

Ulama kelahiran Dalam Pagar pada 7 Rabi’ul Awwal 1304 silam ini disebut sebagai pengganti Syekh Abdurrahman Shiddiq, ketika beliau memutuskan untuk meninggalkan Martapura, menetap di Indragiri Riau.

Cerita yang sangat masyhur dan melegenda di kalangan masyarakat Martapura adalah ketika Tuan Guru Abdurrahman Shiddiq memutuskan untuk berangkat ke Tembilahan, Riau, ada yang bertanya dengan mimik sedih, “Siapa pengganti guru di kampung ini kalau guru berangkat nanti?”.

“Anang Ilmi penggantiku,” jawab Tuan Guru Abdurrahman Shiddiq.

Konon, sejak saat itu ulama besar ini senantiasa menundukkan wajahnya. Karena merasa malu dan rendah hati dianggap sebagai pengganti seorang ulama Syekh Abdurrahman Shiddiq.

Kisaran tahun 1954, Ibnu Hajar, seorang pejuang berpangkat Letnan Dua dari Kalimantan memutuskan ikut bergabung dengan gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia Kartosuwiryo yang ingin mendirikan Negara Islam Indonesia. Ibnu Hajar diangkat menjadi panglima Tentara Islam Indonesia di wilayah Kalimantan.

Gerakan Ibnu Hajar DI/TII Kartosuwiryo yang ingin mendirikan Negara Islam Indonesia, tentu saja membuat orang-orang awam mudah terbawa isu dan propaganda. Mereka yang minim literasi agama namun tinggi semangat beragamanya sangat rentan terpengaruh gerakan yang mengatasnamakan Islam. Demikian pula masyarakat Banjar yang agamis. Mereka sangat tinggi ghiroh keagamaannya.

Untuk membentengi pengaruh pemberontak yang mengatasnamakan Islam ini, Tuan Guru Zainal Ilmi setiap Jum’at berceramah menyampaikan ke masyarakat untuk tidak terpengaruh gerakan pemberontak DI/TII. Kelak pada tahun 1956 diangkat oleh pemerintah masuk dalam Badan Penasehat Pemulihan Keamanan Daerah Kabupaten Banjar.

Atas jasa-jasanya itulah, ketika wafatnya pada tanggal 13 Dzulqa’dah 1375 Hijriah, Tuan Guru Zainal Ilmi diusulkan oleh pemerintah untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Bumi Kencana Banjarbaru. Namun, ahli waris beliau meminta agar dimakamkan di Kalampayan, dekat makam datuknya, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Makam Tuan Guru Zainal Ilmi
Makam Tuan Guru Zainal Ilmi di Komplek Pemakaman Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, Kalampayan.

Uniknya, ketika itu sungai sebagai akses transportasi dalam kondisi kering, sehingga kalau mau menuju Kalampayan akan kesulitan. Namun, berkat keramat Tuan Guru Zainal Ilmi, hujan turun dengan derasnya, sehingga sungai dipenuhi air dan dapat dilalui perahu yang membawa jenazahnya ke Kalampayan.

“Tuan Guru Zainal Ilmi adalah sosok ulama besar, seorang Wali Allah SWT. Beliau juga sebagai pengusaha, juga pejuang. Presiden Pertama Republik Indonesia Soekarno pun sempat ziarah ke makam beliau. Ya, karena memang beliau seorang pejuang ketika menghadapi pemberontakan Ibnu Hajar”, cerita Bupati Banjar, KH Khalilurrahman dalam Peringatan Haul Tuan Guru Zainal Ilmi di Dalam Pagar, 13 Juli 2019 silam.

Tuan Guru Zainal Ilmi adalah seorang ulama yang mengikuti jejak langkah datuknya, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari dalam berjihad. Yaitu jihad melawan kebodohan dengan berdakwah dan mengakarkan ilmu untuk keluarga dan masyakaratnya. Alih-alih tertarik dengan isu dan propaganda perjuangan mendirikan Negara Islam Indonesia, beliau malah berjuang membentengi masyarakat awam dari pengaruh mereka.

Baca Juga: Inilah Jihad Manhaj Datuk Kalampayan.

Editor: Shakira. Dari berbagai sumber.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *