Roadshow Kebangsaan di Kandangan, Lakpesdam PWNU Kalsel: Jaga NKRI dari Perpecahan

Banua.co, KANDANGAN – Lembaga kajian pengembangan sumberdaya manusia (Lakpesdam) PWNU Kalimantan Selatan memulai agenda roadshow kebangsaan di Kandangan, Rabu (18/12) kemarin.

Roadshow yang merupakan bagian dari program kerja Lakpesdam PWNU Kalsel itu mengangkat tema besar “Pendidikan Wawasan Kebangsaan, Hubbul Wathan Minal Iman; Cinta Tanah Air Sebagian Dari Iman”.

Dalam kegiatan yang mengambil tempat di Ponpes Al Baladul Amin, Kandangan tersebut, Ketua Lakpesdam PWNU Kalsel, M. Hafizh Ridha SH memberikan sambutan pertama.

Dia mengutip Surah al-Hujurat ayat 13. Surah yang menceritakan tentang penciptaan manusia di muka bumi dan perbedaan yang memang menjadi sunnatullah. Dijelaskan di dalamnya, manusia diciptakan bersuku-suku, berbangsa-bangsa, tidak lain dan tidak bukan guna saling mengenal satu sama lainnya dan yang paling mulia di sisi Allah SWT adalah orang yang bertakwa.

“Seyogyanya ayat ini menjadi pijakan, landasan dalam bertindak dan bergaul dalam muamalah setiap harinya sebagai anak bangsa. Sehingga satu sama lainnya bisa saling menguatkan dan membangun dengan ragam perbedaan,” ujarnya.

Negara ini, kata Hafizh, punya kunci kebersamaan yang menjadi dasar yaitu kebhinekaan, Bhinneka Tunggal Ika.

“Bagaimana panjang lebarnya dijelaskan dengan poin akhir bahwa kita berbeda tapi satu kesatuan. Oleh sebab itu mencintai negara ini menjadi kewajiban, termasuk juga di dalamnya merawat serta menjaganya sebagaimana diajarkan oleh para masyayikh (guru/ulama) kita, Hubbul Wathan Minal Iman; Cinta Tanah Air Sebagian dari Iman,” jelasnya.

Baca juga: Ketua PC GP Ansor Tapin: Dulu Binuang Basisnya Banser Tapin

Terkait menjaga kebhinekaan dan menjaga persatuan, Sekretaris LazisNU Kalsel, M. Shaufi menyoroti persoalan ghirroh beragama dalam sambutannya. Ghirroh yang diharapkan adalah ghirroh yang baik dan benar, sehingga berbuah kebaikan. Bukan sebaliknya.

Jebolan Ponpes Darul Ilmi dan Darussalam ini mengingatkan agar menyerap ilmu agama dengan guru langsung (tatap muka).

“Belajar dengan guru langsung lebih berkah. Selain bisa langsung sharing hal yang tidak kita ketahui, juga minta petunjuk dengan seabrek pilihan-pilihan menjalani masa depan yang penuh misteri di depan,” terangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *