Gelar Pertemuan, Gusdurian Rekomendasikan Pribumisasi Islam

Banua.co, JAKARTA – Setelah menggelar pertemuan virtual selama sepuluh hari, akhirnya Jaringan Gusdurian menelurkan sembilan poin rekomendasi, salah satunya Pribumisasi Islam.

“Mendorong konsep Pribumisasi Islam sebagai metodologi pemikiran dan strategi gerakan masyarakat untuk mewujudkan Indonesia berketuhanan, berkemanusiaan, bermartabat, dan berkeadilan. Untuk itu, perlu disosialisasikan pandangan Pribumisasi Islam tentang manusia sebagai subjek dan objek dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” demikian poin kelima rekomendasi Gusdurian.

Menurut salah seorang perumus, Abdul Gaffar Karim, Pribumisasi Islam ini agar kehadiran agama yang berasal dari Arab ini sesuai dengan konteks lokal Indonesia.

“Pribumisasi Islam yaitu untuk menjadikan Islam punya konteks lokal yang kuat di Indonesia. Ini risiko ketika agama datang dari tempat yang berbeda, dan punya asal-muasal yang berbeda dari tempat kita berkembang sekarang,” jelas Akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Ide ini sebenarnya adalah cara Gus Dur agar Islam tidak bertentangan dengan konteks lokal di Nusantara.

Baca Juga: Gus Dur: Salahkah Jika Islam Dipribumikan?

“Nah Pribumisasi Islam (adalah) cara Gus Dur untuk mengingatkan bahwa penerapan dan pengembangan nilai-nilai keagamaan harus disesuaikan dengan konteks lokal. Tidak perlu bertentangan. Sesederhana itu sebenarnya,” ujarnya dalam sebuah program galawicara yang ditayangkan langsung melalui Kanal Youtube TV9 Official, Sabtu (19/12) pagi.

Sementara, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid menjelaskan bahwa Pribumisasi Islam adalah sebuah metodologi, cara, dan model agar nilai-nilai dasar ajaran Islam bisa dimasukkan ke dalam konteks di mana pun seseorang berada.

Puteri Gus Dur ini mencontohkan kopiah dan sarung. Gaya berbusana seperti itu hanya ada di Indonesia dan tidak ada pada masa Nabi Muhammad ketika masih hidup.

Demikian pula dengan tradisi selametan. Tradisi lokal pribumi di Nusantara namun kemudian ketika Islam hadir, para pendakwah zaman dahulu memberikan nilai-nilai Islami di dalamnya, tanpa menghilangkan traidisinya.

“Semua itu (dalam acara selametan) dilakukan dengan nilai-nilai keislaman. Tapi ekspresinya sangat lokal di Indonesia. Apakah ajaran agama bisa digunakan untuk membingkai kebudayaan tesebut? Kalau bisa ya kita digunakan. Itulah Pribumisasi Islam,” katanya.

Gusdurian adalah kelompok yang beranggotakan individu, komunitas, atau lembaga yang sama-sama memiliki pemikiran untuk meneruskan perjuangan Gus Dur. Fokus gerakan ini ialah pada isu-isu tertentu. Di antaranya ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, keksatriaan, kearifan tradisi. Kelompok Gusdurian ini kerap menamakan diri sebagai murid Gus Dur.

Editor: Shakira.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *