Kekejaman Para Khalifah, Beda Pendapat Disiksa!

Kekejaman para Khalifah dalam cerita berikut menggambarkan bahwa sistem khilafah ataupun sistem syariah tidak menjamin kepastian adanya keadilan. Karena pemerintah bisa saja menggunakan dalil-dalil agama untuk membela kepentingan kelompoknya, seraya menghukum siapa saja yang berbeda. Tentu saja atas nama agama.

Oleh: Khairullah Zain.

IMG 20200822 WA0044 1 150x150 - Kekejaman Para Khalifah, Beda Pendapat Disiksa!Membaca sejarah para penguasa yang mengatasnamakan Islam dalam menjalankan pemerintahannya, ternyata tidak seperti yang digembar gemborkan oleh para pejuang khilafah saat ini.

Beberapa penguasa yang konon pemerintahannya memakai sistem syariat malah mengkriminalisasi para ulama. Mirisnya, mereka menghukum dan menyiksa para ulama dengan mengatasnamakan bela agama.

Zaman kekuasaan Khilafah Bani Umayyah, seorang ulama besar pendiri madzhab ditahan hanya karena ketika diminta menduduki jabatan sebagai Qodhi, tidak berkenan.

Ulama yang bernama Nu’man bin Tsabit ini ditahan Khalifah Marwan bin Hakam (623 – 685 M) sebab teguh pendirian, tidak berkenan menerima jabatan yang ditawarkan.

Kemudian, ulama yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Hanifah ini mengalami hal serupa pada zaman pemerintahan Khalifah Abu Jakfar Al Manshur (714 – 775 M). Bahkan tidak hanya ditangkap, tapi ia dipenjara dan dicambuk, hanya karena menolak untuk diangkat menjadi hakim.

Sejarah mencatat, pendiri Madzhab Hanafi ini wafat dalam penjara pada tahun 767 M. Ada yang mengatakan karena diracun, ada pula yang mengatakan karena siksaan. Terlepas mana yang benar, beliau wafat dalam tahanan pemerintahan yang mengatasnamakan Islam dan penguasaannya digelari ‘khalifah’.

Selanjutnya, Imam Malik bin Anas (711 – 795 M) dihukum hanya karena mengeluarkan fatwa yang berbeda dengan pemerintah.

Ketika itu penguasa kekhilafahan Bani Abbasiyah mengeluarkan peraturan pemerintah boleh memaksakan talak kepada rakyatnya.

Menurut Imam Malik, fatwa orang yang dipaksa tidak sah. Ia mendasarkan pendapatnya pada sebuah hadits “Talak tidab berlaku bagi orang yang dipaksa.’

Namun, Khalifah Abu Ja’far Al Manshur tidak bisa terima. Ia beranggapan adanya fatwa yang berbeda bermakna pembangkangan terhadap penguasa.

Abu Jakfar pun memerintahkan agar ulama pendiri Madzhab Maliki itu ditangkap dan disiksa.

Al Fadl bin Ziyad pernah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal, “Siapakah yang memukul Imam Malik Rahimahullah?” Imam Ahmad menjawab, “Penguasa, dalam masalah talak orang yang dipaksa. Beliau tidak membolehkannya, maka mereka memukul beliau karena hal tersebut.”

Lain lagi dengan Imam Muhammad bin Idris (767 – 820 M). Pendiri Madzhab Syafi’i ini ditangkap di zaman pemerintahan Khalifah Harun Ar Rasyid (765 – 809 M) karena dituduh Syi’ah dan berpihak kepada Alawiyyin.

Ketika itu Imam Asy Syafi’i tinggal di Yaman. Usianya masih 29 tahun. Kedekatannya dengan para keluarga Nabi dianggap ia ikut Madzhab Syi’ah. Madzhab yang berbeda dengan penguasa dan dianggap membahayakan kekuasaan khalifah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *