KH Hatim Salman: Abah Guru Sekumpul Sang Mujaddid

Banua.co, MARTAPURA – Menurut KH Hatim Salman, Abah Guru Sekumpul adalah Sang Mujaddid atau pembaharu. Banyak pembaharuan dalam tradisi keagamaan yang dilakukan oleh Abah Guru Sekumpul.

Pembaharuan sendiri bermakna menghidupkan kembali tradisi keagamaan yang hampir punah dan sudah dilupakan oleh banyak orang.

Diantara tradisi keagamaan yang dihidupkan kembali oleh Abah Guru Sekumpul adalah Dzikir Nasyid.

“Zaman Syekh Arsyad Al Banjari, Datuk Kalampayan, Sidin (beliau, red) benasyid. Benasyid itu dalam rangka pengamalan tarekat. Makanya syair nasyid itu Ya Samman, karena tarekat Sidin Sammaniyah,” kata Guru Hatim, panggilan akrab KH Hatim Salman, Minggu (20/12/2020).

Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi Tarekat Sammaniyah itu kemudian lambat laun mulai dilupakan dan hampir punah. Bahkan di Martapura sendiri yang masih menjaga hanya di Kampung Melayu.

“Nah mun aku lagi kanak-kanak, di Kampung Melayu itu masih ada benasyid itu, walaupun setahun sekali digawi. Misalnya malam hari raya. Atau di kampung Melayu itu ada adat tradisional bekhatam Qur’an. Nah Martapura ni kosong sudah kada tegawi lagi,” kenangnya.

Abah Guru Sekumpul lah yang kemudian sebagai sang mujaddid, menghidupkan kembali tradisi ini. Beliau memerintahkan beberapa santri Sekumpul untuk mempelajarinya dan kemudian mengamalkannya.

“Nah, wahini rami kah benasyid di mana-mana?” tanya Pimpinan Ma’had Aly Darussalam ini.

DSC 1896 - KH Hatim Salman: Abah Guru Sekumpul Sang Mujaddid
KH Hatim Salman, Pimpinan Ma’had ‘Aly Darussalam Martapura

Tradisi lainnya adalah membaca manaqib dan ziarah kubur wali. Dahulunya masyarakat Banua Banjar mengadakan acara baca manaqib dan ziarah wali hanya pada momen momen tertentu, misalnya untuk menunaikan nazar. Namun kemudian Abah Guru Sekumpul mengajarkan dan mencontohkan bahwa ziarah makam para wali dilakukan kapan saja.

“Mungkin orang banyak yang tidak tahu, (makam) Datuk Pagatan didatangi beliau, Tenggarong, Balimau, Taniran didatangi beliau. (Dampaknya) wahini rami orang menziarahi makam makam tersebut,” terang alumnus Universitas Al Azhar Mesir ini.

Menurut Guru Hatim, Abah Guru Sekumpul sering menyampaikan di pengajian tentang penting dan perlunya menziarahi makam para wali Allah, yang kemudian memotivasi masyarakat agar rajin berziarah. Bahkan beliau menyusun manaqib dan membangun makam para wali. Juga mengadakan acara peringatan haul para wali Allah.

Guru Hatim mengenang jaman ia masih kecil, bahwa dahulunya mengenakan busana santri, seperti sehari-hari memakai sarung masih dianggap aneh. Tapi Abah Guru Sekumpul mengajak para santri agar tidak malu sehari-hari mengenakan sarung. Hingga kemudian tidak hanya kalangan santri, tapi masyarakat umum pun menjadi biasa memakai sarung sehari-harinya, tidak terbatas ketika sholat saja.

Abah Guru Sekumpul juga mempopulerkan pengamalan sholawat Dalail Khairaat, Burdah dan Maulid Habsyi. Bila sebelum zaman beliau hanya menjadi amaliah orang-orang tertentu saja, yaitu para kiai dan santri saja, berkat Abah Guru Sekumpul kini menjadi amaliah masyarakat sehari-hari.

Baca Juga: Amaliah Utama Abah Guru Sekumpul.

Editor: Shakira.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *