Menelan Liur yang Ada Rasa Makanan, Membatalkan Shalat?

Apakah menelan liur yang masih ada rasa makanan ketika sedang shalat akan membatalkan shalat?

Oleh: Khairullah Zain.

Mungkin ada yang pernah mengalami, ketika sholat menelan air liur yang masih ada rasa sisa makanan, terutama makanan yang manis semisal permen. Hal ini bisa terjadi bila sehabis memakan sesuatu, kita lupa berkumur langsung mengerjakan shalat. Nah, apa hukumnya?

Secara prinsip, menurut dalam kitab Ghayah wa at Taqrib, ada 13 perkara yang membatalkan shalat, yaitu Perkara yang membatalkan shalat: perkataan yang disengaja, gerak (di luar gerakan shalat) yang banyak, berhadats, timbulnya najis, tersingkapnya aurat, berubahnya niat, merubah arah kiblat, makan, minum, tertawa terbahak-bahak, dan murtad. Dengan demikian, menelan makanan termasuk termasuk pembatal shalat.

Namun, apakah menelan liur yang ada rasa makanan termasuk dianggap makanan dan membatalkan bila ditelan ketika sedang shalat?

Menurut dalam I’anah at Thalibin, yang dimaksud menelan makanan ini adalah adanya materi atau benda yang ditelan. Kalau hanya menelan air liur yang rasa makanan saja, maka tidak dianggap makanan.

أَمَّا مُجَرَّدُ الطَّعْمِ الْبَاقِي مِنْ أَثَرِ الطَّعَامِ فَلَا أَثَرَ لَهُ لِانْتِفَاءِ وُصُولِ الْعَيْنِ إلَى جَوْفِهِ 

“Semata mata rasa yang tersisa dari bekas makanan tidak berdampak bagi (keabsahan shalat), karena menafikan alasan -sampainya benda ke dalam rongga perut-“.

Namun, masih dalam kitab I’anah at Thalibin, tidak termasuk dari ‘semata mata rasa makanan’ bekas yang tersisa setelah minum kopi, yang merubah warna air liur atau rasa liur. Maka menelan yang semacam ini berdampak pada membatalkan shalat.

وَلَيْسَ مِثْلُ ذَلِكَ الْأَثَرُ الْبَاقِي بَعْدَ الْقَهْوَةِ مِمَّا يُغَيِّرُ لَوْنَهُ أَوْ طَعْمَهُ فَيَضُرُّ ابْتِلَاعُهُ؛ لِأَنَّ تَغَيُّرَ لَوْنِهِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ بِهِ عَيْنًا 

“Tidak termasuk dari ‘semata mata rasa makanan’ bekas yang tersisa setelah minum kopi, yang merubah warna air liur atau rasa liur. Maka menelan yang semacam ini berdampak pada membatalkan shalat. Karena berubahnya warna air liur menunjukkan bahwa masih ada materi makanan”.

Kendati demikian, masih dimungkinkan pula tidak berdampak membatalkan shalat, yaitu bila yang berubah hanya warna air liur saja, bukan rasa.

وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُقَالَ بِعَدَمِ الضَّرَرِ؛ لِأَنَّ مُجَرَّدَ اللَّوْنِ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ اكْتَسَبَهُ الرِّيقُ مِنْ مُجَاوَرَتِهِ لِلْأَسْوَدِ مَثَلًا وَهَذَا هُوَ الْأَقْرَبُ أُخِذَ مِمَّا قَالُوهُ فِي طَهَارَةِ الْمَاءِ إذَا تَغَيَّرَ بِمُجَاوِرٍ .

“Dimungkinkan untuk dikatakan tidak berdampak (membatalkan shalat), karena semata berubahnya warna air liur saja boleh jadi sebab berdekatan dengan warna hitam (kopi) misalnya (bukan karena adanya percampuran). Pendapat ini lebih mendekati kebenaran, karena didasarkan pada pendapat para ulama yang mengatakan air masih dianggap menucikan bila warnanya berubah dengan sebab mujawir (berdekatan saja, tidak bercampur)”.

Nah, dengan demikian menelan air liur yang masih ada bekas makanan tidak membatalkan shalat, selama dipastikan tidak ada benda atau makanan tersebut. Demikian pula bila menelan air liur yang berubah warna karena bekas makanan, tanpa berubah rasa.

Kendati demikian, hemat penulis, setelah memakan makanan atau meminum minuman sebaiknya berkumur terlebih dahulu sebelum mengerjakan shalat.

Baca Juga: Menelan Air Liur Bisa Membatalkan Puasa!

Baca Juga: Telah Mandi Janabat, Tidak Wajib Wudhu?

Editor: Shakira.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *