Guru Hatim Salman: Tidak Ada Bukti Otentik Penetapan Harta Gono Gini Oleh Syekh Arsyad Al Banjari!

Banua.co, MARTAPURA – Menurut Guru Hatim, panggilan akrab KH Hatim Salman, tidak ada bukti otentik Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari menetapkan pembagian harta gono gini.

DSC 1896 - Guru Hatim Salman: Tidak Ada Bukti Otentik Penetapan Harta Gono Gini Oleh Syekh Arsyad Al Banjari!
KH Hatim Salman, Pimpinan Ma’had ‘Aly Darussalam Martapura

Selama ini banyak yang mengatakan bahwa Syekh Arsyad Al Banjari atau Datuk Kalampayan memfatwakan keabsahan harta gono gini. Namun secara otentik tidak ada buktinya.

Baca Juga: Inilah Jihad Manhaj Datuk Kalampayan.

“Saya sudah membaca dan mengkaji kitab-kitab karya Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, namun tidak menemukan adanya tulisan beliau tentang harta gono gini,” ujar salah satu dzuriat Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari ini, Senin (21/12/2020).

Memang, menurut pimpinan lembaga pengkaderan ahli fikih, Ma’had ‘Aly Lit Tafaqquh fid Diin, pembagian harta gono gini bisa saja absah secara fikih, yaitu dianggap adanya syirkah (serikat kepemilikan, red) antara suami dengan isteri. Namun hal ini karena mengacu pada tradisi masyarakat Banua Banjar, di mana suami dan isteri bekerjasama dalam bekerja. Sehingga dengan demikian masuk dalam Bab Syirkah.

“Namun, untuk mengatakan bahwa hal ini telah difatwakan atau ditetapkan oleh Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari harus ada bukti otentiknya,” kata alumnus Universitas Al Azhar Mesir ini.

Lebih mengherankan lagi adanya sebagian orang yang mengatakan bahwa pembagian harta perpantangan ini dalam kitab Sabilal Muhtadin. Padahal kitab karya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari tersebut hanya memuat tentang ibadah. Tidak ada membicarakan tentang pembagian harta warisan.

Screenshot 20201221 031320 1 1024x883 - Guru Hatim Salman: Tidak Ada Bukti Otentik Penetapan Harta Gono Gini Oleh Syekh Arsyad Al Banjari!
Screenshot tulisan media yang mengatakan harta perpantangan ditetapkan Syekh Arsyad Al Banjari

“Aku telah tamat mempelajari, bahkan tamat mengajarkan Sabilal Muhtadin, tidak ada bahasan tentang harta gono gini,” tegas Kiai yang lama berguru pada Syekh Yasin Al Fadani ini.

Sementara, Pasal 53 UU Perkawinan membagi harta dalam perkawinan menjadi tiga macam, yaitu:

  1. Harta Bawaan, yaitu harta yang diperoleh suami atau istri dari sebelum perkawinan. Masing – masing mempunyai hak sepenuhnya untuk melaukan perbuatan hukum mengenai harta benda bawaannya.
  2. Harta masing-masing suami atau istri yang diperoleh melalui warisan atau hadiah dalam perkawinan. Hak terhadap harta benda ini sepenuhnya ada pada masing-masing suami atau istri.
  3. Harta Bersama atau Gono-gini, yaitu harta yang diperoleh selama perkawinan.

Baca Juga: Wadah Tinta Ini Saksi Sejarah Syekh Arsyad Al Banjari.

Editor: Shakira.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *