Pahitnya Perjuangan Abah Guru Sekumpul di Masa Muda

Akibat keseringan bekerja, ditambah usia Abah Guru yang saat itu masih tergolong sangat muda, menyebabkan pundak Abah Guru Sekumpul berbeda diantara sebelah kanan dengan yang sebelah kiri.

Namun, tatkala sang paman, Tuan Guru Semman kembali ke Martapura, setelah sebelumnya menetap lama di Mekkah, hal ini berubah.

images 90 - Pahitnya Perjuangan Abah Guru Sekumpul di Masa Muda
Abah Guru Sekumpul bersama Tuan Guru Semman Mulia

“Datang Guru Semman dari Makkah, ujar sidin pas lawan umaku (beliau mengobrol dengan ibuku, red), Masniah; Nih napa gawian nih (apa pekerjaan anak ini, red), anang ninih. Setengah hari ka ae begawi (bekerja, red), setengah hari sekolah,” ucap Abah guru mengisahkan percakapan paman dan ibunya.

“Nah enda madahakan lah (biar saya beritahu, red), botol uyah tah muharanya halus (tutup botol garam itu memiliki permukaan yang kecil, red), iya kalo (iya ‘kan, red). Tengahnya dan bawahnya ganal (besar, red). Jadi uyah kada kawa dimasukan bebanyak-banyak (garam tidak bisa dimasukkan secara sekaligus, red). Tunggal dikitan (sedikit demi sedikit, red) iya kalo. Mun kada, tebuang (kalau tidak, nanti sia-sia, red),” sambung Abah Guru Sekumpul, menceritakan apa yang diucapkan oleh pamannya.

“Nah ini kenanak ni kada sanggup dunia wan akhirat dikumpulkan seharian semalaman (anak-anak tidak akan sanggup mengerjakan antara pekerjaan dunia dan akhirat semalaman, red). Lucung bahasa orang sini, kada berhasil. Jadi, sebuting aja (pilih satu saja, red). Handak sekolah kah, handak bedagang kah. Mun handak (kalau mau, red) bedagang, bedagang ja. Mun handak sekolah sekolah ja. Mun dicampur jangan (kalau mau dicampur, jangan, red). Panderi inya (bicarakan dengan anak itu, red),” ucap Tuan Guru Semman Mulia.

Abah Guru Sekumpul menceritakan, bahwa orangtuanya tidak berani menanyakan hal tersebut kepadanya. Sebab, jikalau ia dilarang, mereka takut jika Abah Guru akan menentang dan menjadi anak yang durhaka.

Baca Juga: Haul Abah Guru Sekumpul dan Ekspresi Cinta Kita.

Baca Juga: Abah Guru Sekumpul, Figur Teladan yang Tak Tergantikan.

3 thoughts on “Pahitnya Perjuangan Abah Guru Sekumpul di Masa Muda

  • 27 Desember 2020 pada 19:06
    Permalink

    Masya Allah punnn

    Balas
  • 27 Desember 2020 pada 20:59
    Permalink

    Yaa Allaah Yaa Rasulollaah, perjuangan waliyullaah abah guru Sekumpul dari buayan sampai keilmuan beliau bermunajab dialam dunia sampai alam akhirat..

    Balas
  • 31 Desember 2020 pada 15:01
    Permalink

    MasyaAllah, mambaca kisah nya ja berat banar, apalagi menjalani, ini hasil kesabaran beliau. Allah beri kemuliaan yg sampai meninggal pun masih banyak yg rindu

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *