Pahitnya Perjuangan Abah Guru Sekumpul di Masa Muda

“Orang bahari (orang jaman dulu, red) mencari jalan supaya anak jangan ketulahan (kualat, red). Nang wayahini (malah sekarang, red) dicari-cari jalan supaya anak ketulahan,” ucap Abah Guru Sekumpul.

“Lalu arwah (almarhum, red) nini (nenek, red) Salbiah nang memandiri (yang berbicara, red), ikam cu handak sekolah kah, handak becari kah (cu, kamu mau sekolah atau bekerja, red),” lanjut Abah Guru Sekumpul.

Baca Juga: KH Hatim Salman: Abah Guru Sekumpul Sang Mujaddid!

Setelah ditanya oleh sang nenek, barulah Abah Guru Sekumpul mengatakan ingin memilih sekolah saja. Sebab, jika ia bersekolah, maka Abah Guru tidak akan merasakan sulitnya pekerjaan menggosok intan.

Akan tetapi, pilihan Abah Guru Sekumpul bukan berarti tidak memiliki resiko. Ketika Abah Guru mengatakan lebih memilih sekolah, Abdul Ghani—ayah dari Abah Guru, memberitahu beberapa kesusahan yang akan Abah Guru alami sebagai risiko keputusan tersebut.

“Ujar Abah, lamun (kalau, red) handak sekolah, nyawa (kamu, red) nah kaya ini keadaan nah. Tapih selambar diawak (hanya sarung di badan, red), kedada selawar di dalam (tidak memakai celana dalam, red),”

“Duduk pulang di muhara lawang (didepan pintu, red). Limbahnya angin betiup (kalau angin bertiup, red), tajalak tapih (sarungnya tersingkap, red). Ujar kawalku nang di higa (temanku yang sedang duduk disamping, red), beh jar siapa nang kawin wan izai nih untung banar (wah, yang dinikahi oleh izai nanti pasti beruntung, red). Aku supan ja (malu, red) nang ae. Tapi, dimapa orang besalawar di dalam (tapi bagaimana mau memakai celana dalam, red) aku kada kawa (aku belum mampu, red),” sambung Abah Guru Sekumpul.

Baca Juga: Kisah Sufi dari Sekumpul, Kehendaknya Itulah yang Aku Kehendaki.

3 thoughts on “Pahitnya Perjuangan Abah Guru Sekumpul di Masa Muda

  • 27 Desember 2020 pada 19:06
    Permalink

    Masya Allah punnn

    Balas
  • 27 Desember 2020 pada 20:59
    Permalink

    Yaa Allaah Yaa Rasulollaah, perjuangan waliyullaah abah guru Sekumpul dari buayan sampai keilmuan beliau bermunajab dialam dunia sampai alam akhirat..

    Balas
  • 31 Desember 2020 pada 15:01
    Permalink

    MasyaAllah, mambaca kisah nya ja berat banar, apalagi menjalani, ini hasil kesabaran beliau. Allah beri kemuliaan yg sampai meninggal pun masih banyak yg rindu

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *