Dampak Covid-19 Terhadap Pesantren, Ini Sorotan Ketua RMI

Banua.co, MARTAPURA – Refleksi akhir tahun 2020, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU soroti 4 dampak Covid-19 terhadap pesantren.

Hal ini disampaikan Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (RMI) PBNU KH Abdul Ghaffar Rozin dalam refleksi via media YouTube yang diselenggarakan oleh PCNU Jakarta Selatan, Selasa (29/12/2020).

Dalam video yang disiarkan 164 Channel, KH Abdul Ghaffar Rozin menyebutkan bahwa ada 4 dampak Covid-19 terhadap pesantren yang harus menjadi sorotan utama bagi seluruh pesantren di Indonesia.

Baca Juga: RMI PBNU: 234 Ulama NU Wafat Selama Pandemi Covid-19.

Dampak Covid-19 terhadap pesantren yang pertama adalah berkaitan dengan kesehatan. Tentunya, seluruh orang saat ini sangat menyorot hal tersebut. Namun, ketika berbicara soal dunia pesantren yang dikenal dengan suka berkumpul-kumpul, maka ada pekerjaan yang terkesan berat untuk pesantren sendiri.

“Pesantren itu kan sistem pendidikannya jauh berbeda dengan sekolah-sekolah lain, lebih sering kumpul-kumpul, di mesjid, di kelas, bahkan di asrama. Makanya ini menjadi hal pokok yang kita bahas,” ucap pria yang juga menjadi staf presiden khusus bidang keagamaan ini

Kemudian ia melanjutkan dampak Covid-19 terhadap pesantren yang kedua, yaitu tentang ekonomi. Bahwasanya akan ada gangguan arus ekonomi dari pihak masing-masing pesantren, maka membangunnya kembali serta mempertahankannya akan terkesan sulit. Ia menjelaskan mengapa hal tersebut menjadi sangat tidak mudah

“Anggaran dana pesantren itu pastinya fokus pada pendidikan saja, dari pembangungan berkelanjutan, gaji para guru dan lain-lain. Namun ketika pandemi ini datang, maka anggaran dana ini tidak terfokus kepada apa yang sebelumnya sudah menjadi bahan administrasi, ini sangat menggoyahkan ekonomi pesantren,” tuturnya.

Untuk dampak Covid-19 terhadap pesantren yang ketiga, ia menyinggung sistem pendidikan. Kiai Rozin menyebutkan bahwa pencetusan sistem pembelajaran online saat ini masih kurang efektif, karena tidak bisa meratakan seluruh siswa mendapatkan hak belajar yang sama. Diantaranya ada siswa yang kekurangan atau bahkan tidak mempunyai fasilitas belajar online. Apalagi ketika hal ini masuk ke dalam pembelajaran pesantren

“Saat ini kita lihat, pasti banyak santri yang dipulangkan ke kampung halamannya, ada yang tinggal jauh di pelosok pulau sana. Sampai saat ini pun untuk sekolah lain masih cukup kesulitan mengenai proses pembelajaran online, apalagi pesantren yang notabanenya diisi oleh santri santri yang berasal dari daerah jauh, saat ini belum ada model pengganti pembelajaran ala pesantren yang efektif,” lugasnya.

Selanjutnya, hal yang menjadi luka bagi wajah pesantren adalah tradisi. KH Abdul Gaffar Rozin menuturkan bahwa banyak sekali perubahan tradisi yamg berubah. Padahal tradisi tersebut didasari oleh landasan landasan adab.

“Tradisi pesantren itu banyak menggunakan interaksi fisik, cium tangan dengan kyainya, berdempet di pengajian, dan sebagainya. Ya sekarang kita lihat bahkan untuk dekat dengan kyai saja sudah dibatasi. Takutnya di new normal nanti perubahan tradisi seperti ini justru menjadi kebiasaan,” imbuhnya.

Di masa pandemi Covid-19 kali ini, masing-masing dari sekolah hingga perkuliahan melanjutkan pendidikan dengan melakukan transformasi pada sistem pembelajaran. Tak terlepas dari hal tersebut, dunia pesantren pun ikut melakukan pembenahan-pembenahan dan beberapa sistem lainnya. Pesantren yang identik dengan ruang keagamaannya ini juga mendapatkan ‘luka’ yang menjadi ‘pekerjaan rumah’ dan kesulitan tersendiri.

“Untuk itu, setelahnya dalam menghadapi new normal, kita menggandeng pondok pesantren se Indonesia untuk menerapkan new normal. Beradaptasi dengan cara untuk menghadapi 4 dampak yang saya sebut tadi”, pungkasnya di penghujung sesi kesempatan berbicara.

Perlu diketahui, PCNU Jakarta Selatan mengadakan refleksi akhir tahun dengan tema “Qou Vadis Pendidikan Pasca Pandemi”.

Acara yang dilaksanakan secara online ini selain dihadiri oleh Wakil Ketua Umum PBNU Prof Dr H Mochammad Maksum Machfoedz dan Ketua Tanfidziyyah PCNU Jakarta Selatan, Drs KH Abdul Rozak Alwi, juga menghadirkan beberapa tokoh penting NU yang terjun ke dunia pendidikan, termasuk Wakil Ketua LPTNU sekaligus Direktur Perpustakaan Universitas Internasional Islam Indonesia Dr Phil Syafiq Hasyim MA.

Baca Juga: Refleksi Akhir Tahun PBNU: Intoleransi Masih Merebak!

Reporter: Auzan.

Editor: Shakira.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *