Bersuci Menggunakan Air Banjir, Ini Pendapat Sayid Ali Al ‘Ayderus.

Banua.co, MARTAPURA – Menyikapi adanya pertanyaan sebagian masyarakat tentang kebolehan bersuci menggunakan air banjir yang tidak jernih, Banua.co menghubungi Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Banjar, Sayid Ali Husein bin Habib Syahrul Abdurrahman Alaydrus, Jumat (22/1).

Mengingat sebelum melaksanakan shalat tentu perlu bagi mereka untuk bersuci, baik dari hadats kecil, yakni dengan wudhu dan dari hadats besar, yakni dengan mandi besar, Sayid Ali berpendapat bahwa pada saat musibah banjir seperti sekarang ini hal tersebut tetap wajib dilakukan.

Terkait hal ini, para korban banjir hendaknya tetap berupaya mencari air yang bersih dan jernih di sekelilingnya jika masih memungkinkan.

“Pertama, sebaiknya bagi para korban yang lagi dapat musibah banjir, kalau masih memungkinkan untuk mencari air yang bersih, misalnya dari PDAM, atau sumber air bersih, kalau tidak mempersulit diri, tapi seandainya mempersulit mencari air yang bersih, contoh berjalan jauh, itu boleh saja memakai air banjir tadi,” kata Sayid Ali.

Masalahnya kemudian adalah bagaimana dengan air banjir yang telah berubah warnanya karena bercampur dengan tanah dan lainnya. Bahkan terkadang ada yang airnya berubah aromanya.

“Sah saja bersuci menggunakan air banjir sesuai pendapat Madzhab Imam Syafiie. Dijelaskan dalam kitab-kitab fiqih bahwa tidak mengapa seandainya air itu berubah, disebabkan lama terdiam. Jadi tidak mengapa berubah karena lama terdiam, karena faktor bercampur dengan tanah tempat air tersebut, lumut, atau karena apapun yang menyebabkan air itu berubah dengan sendirinya. Itu tidak apa-apa, boleh tetap dipakai,” jelas alumnus Pondok Pesantren Darussalam ini.

“Dan alasan yang kedua, jumlah air yang banyak, sehingga tidak masalah dipakai,” tambahnya.

IMG 20210122 WA0047 1 - Bersuci Menggunakan Air Banjir, Ini Pendapat Sayid Ali Al 'Ayderus.
Sayid Ali Husein Al ‘Ayderus, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama Kabupaten Banjar.

Lain lagi apabila perubahan air itu, jelas Sayid Ali, telah diyakini lebih banyak benda lain selain tanah.

“Berbeda halnya jika seseorang yakin bahwa perubahan air banjir yang berada di sekitarnya lebih dominan karena faktor benda selain tanah yang mencampuri air atau mukhalith, seperti sampah, najis dan benda lainnya, sehingga sampai mengubah terhadap bau, rasa dan warna air, maka bersuci menggunakan air banjir tersebut sudah tidak sah,” tegas pengasuh Majlis Ta’lim Anwarus Syumus ini.

Menguatkan pendapatnya, Sayid Ali mengutip kitab al-Muqaddimah al-Hadramiyah susunan Syekh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Bafadhal.

“Dalam al Muqaddimah al Hadhramiyah disebutkan bahwa  وَلَا يضر تغير بمكث وتراب وطحلب وَمَا فِي مقره وممره Perubahan air sebab diamnya air (dalam waktu lama), sebab debu, lumut, dan sebab sesuatu yang menetap dalam tempat menetapnya air dan tempat mengalirnya air merupakan hal yang tidak dipermasalahkan”, pungkasnya.

Baca juga: Ternyata Ini Khasiat Air Sisa Wudhu, Jangan Abaikan!

Baca Juga: KH Hatim Salman Apresiasi PCNU Kabupaten Banjar Tangani Korban Banjir.

Baca Juga: Perintahkan Makam Sekumpul Dibuka di Tengah Banjir, ‘Ustadz’ ini Dinilai Suul Adab.

Reporter: Rohmiah.

Editor: Shakira.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *