Menjamak Shalat Akibat Banjir, Bolehkah?

Menjamak atau mengerjakan dua shalat dalam satu waktu akibat banjir mungkin bahasan yang urgen kita perbincangkan hari ini. Mengingat musibah ini sedang menimpa warga Kalimantan Selatan yang mayoritas muslim.

Oleh: Muhammad Shofian*)

Sekretaris LBM NU Banjar

Sebelumnya, dalam Madzhab Syafii, madzhab mayoritas kaum muslimin di Indonesia, menjamak shalat merupakan sebuah rukhsah (dispensasi) dari agama, jika seseorang sedang dalam perjalanan jauh yang dibenarkan oleh syari’.

Selain sebab melakukan perjalanan jauh, dalam Madzhab Syafi’i juga dibolehkan menjamak shalat karena turunnya hujan lebat yang menjadikan para jama’ah shalat di masjid tidak bisa berhadir kembali ke masjid andaikata dia pulang ke rumahnya di waktu hujan tersebut.

Dalil diperbolehkannya jamak adalah hadits yang diriwayatkan Al Bukhari dalam kitab shahihnya dari Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma yang berbunyi:

كان يجمع بين الظهر والعصر في السفر

“Dahulunya Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam menjamak Shalat Zhuhur dengan Ashar ketika sedang diperjalanan”.

Dalam hadits lain yang diriwayatkan Al Baihaqi melalui jalur Nafi’ dari Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma:

“Bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa aalih wa sallam menjamak Shalat Zhuhur dan Ashar karena turun hujan lebat”.

Kendati demikian, para ulama kalangan Syafi’iyyah memberikan beberapa syarat kebolehan jamak ketika hujan, yaitu:

  1. Jamak hanya boleh dengan jamak takdim (menjamak di waktu shalat pertama).
  2. Melakukan niat jamak ketika shalat yang awal dikerjakan.
  3. Tartib (berurutan) antara shalat pertama dan kedua.
  4. Wala’ (bersambung) antara shalat pertama dan kedua, tanpa ada pemisah dengan waktu yang lama.
  5. Hujan masih turun ketika takbiratul ihram shalat pertama dan ketika salamnya dan berlanjut sampai takbiratul ihram shalat kedua.
  6. Shalat dilakukan berjama’ah di masjid yang jauh dari tempat tinggal para jama’ah.

Lantas, bolehkan jika seseorang menjamak shalat akibat banjir dan melaksanakannya tidak di masjid ?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kiranya kita perlu mengetahui dulu bahwa kebolehan menjamak shalat merupakan dispensasi dari syari’at yang dititik beratkan kepada adanya Al Masyaqqah (kesulitan) dan Al Adza (ketergangguan).

Kalau kita lihat, banjir merupakan sebuah musibah yang sangat menyulitkan masyarakat. Jika hujan yang hanya sekedar membasahi badan dan pakaian dikategorikan sebagai masyaqqah (kesulitan) dan adza (ketergangguan) yang melahirkan Rukhsah (dispensasi), maka lebih pantas lagi banjir, sebab bukan hanya pakaian dan badan saja yang basah, namun rumah serta isinya ikut kebasahan bahkan hingga berminggu-minggu.

Memang tidak ditemukan secara eksplisit redaksi para fuqaha terdahulu dalam kitab-kitab klasik tentang kebolehan menjamak shalat akibat banjir, namun ada dari sebagian fuqaha kontemporer yang membolehkannya dengan berpijak pada sebuah hadits riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma diatas dengan alasan diqiyaskan kepada hujan yang dititikberatkan kepada Al Masyaqqah

Karenanya, menurut hemat kami, menjamak shalat akibat banjir termasuk masyaqqah yang dibenarkan oleh syara’.

Dr. Muhammad Gaber Al Alfi menjelaskan dalam sebuah makalahnya dengan redaksi sebagai berikut:

ونحن نرجح قياس الثلج والبرد والأوحال الشديدة والرياح العاصفة ونحو ذلك على المطر في جواز الجمع، بجامع المشقة التي تتنافى مع سماحة الإسلام ويسره.

“Kami lebih mengunggulkan pendapat yang menganalogikan hujan es, embun salju, lumpur berat, angin kencang dan semacamnya kepada hujan pada dibolehkan menjamak shalat, dengan illat-nya berupa masyaqqah yang berseberangan dengan (prinsip) kemudahan dan keringanan agama Islam” 

Bagaimana Bila Shalat Tidak di Masjid?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *