Menjamak Shalat Akibat Banjir, Bolehkah?

Sedangkan untuk jamak yang dilakukan tidak di masjid, baik berjama’ah atau sendirian, menurut pendapat mu’tamad (yang diperpegangi) Madzhab Syafi’i tidak diperbolehkan, karena tidak ada dalil yang mendasarinya.

Meski demikian, ada pendapat ulama dalam Madzhab Syafi’i sendiri yang membolehkannya, sebagaimana dikutip oleh Al-Imam Al Imrani dalam karyanya Al Bayan, Syarah Al-Muhadzzab dengan redaksi sebagai berikut:

وهل يجوز الجمع في المطر للمنفرد، أو لمن صلى في بيته، أو لمن يصلي في المسجد وبين بيته والمسجد سقف يمنع من وصول المطر إليه ؟ قولان:

أحدهما: لا يجوز، لأنا جوزنا له الجمع، لئلا تفوته الجماعة، وللمشقة التي تلحقه بالمطر، وهذا غير موجود ها هنا.

والثاني: يجوز؛ لأن العلة في جواز الجمع بوجود المطر، والمطر موجود، فوجب أن يجوز له الجمع، كمن يصلي في جماعة في مسجد لا سقف بينه وبين بيته.

“Apakah boleh melakukan jamak shalat sendirian disebabkan hujan, atau bagi orang yang shalat di rumahnya, atau bagi yang ingin shalat ke masjid, sedangkan antara masjid dan rumahnya masih ada atap yang mencegahnya dari terkena guyuran hujan ?

Pada kasus ini ada dua pendapat.

Pertama: tidak boleh, karena kebolehan jamak itu agar seseorang tidak tertinggal shalat berjama’ah, dan karena adanya masyaqqah yang dia temui akibat hujan, sedangakan alasan ini tidak ditemukan bagi orang yang shalat sendiri di rumahnya.

Pendapat kedua: boleh, karena yang menjadi alasan pada bolehnya jamak adalah turunnya hujan, sedangkan saat itu hujan memang turun, sehingga mengakibatkan pada bolehnya melakukan jamak, hal ini senada dengan orang yang shalat berjama’ah di masjid, sedangkan pada perjalanan antara rumahnya ke masjid tidak ada atap yang menaunginya. [Lihat: Al-Bayan Karya Al-Imrani, Juz 2, halaman 492, cetakan Dar Al-Minhaj].”

Pendapat kedua ini juga selaras dengan pendapat dalam Madzhab Hanbali yang membolehkan jamak shalat akibat hujan dan sebagainya bagi orang yang shalat di rumahnya, baik sendiri maupun berjama’ah.

Nah, dengan alasan-alasan di atas, penulis lebih cenderung membolehkan menjamak shalat akibat banjir, meski shalatnya tidak di masjid.

Bagaimana menurut Sampeyan?

*) Penulis adalah Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama Kabupaten Banjar, pengajar di Pondok Pesantren Waratsatul Fuqaha Banjarbaru, pengisi kajian fikih di Majlis Raudhatul Murtaja.

Baca Juga: Shalat diatas Genangan Air Banjir, Ini Pendapat Wakil Ketua LDNU Banjar.

Baca Juga: Wanita Haidh Mengungsi dalam Masjid, Ini Pendapat Wakil Sekretaris LBM NU Banjar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *