Guru Kristen Mengajar Madrasah, Why Not?

Di sebuah kota bernama Tahna Al-Jabal, wilayah Menia, sekitar 293 kilometer dari Kairo, ibu kota Mesir, ada seorang guru beragama Kristen mengajar baca tulis Alquran kepada anak anak muslim di sana.

Oleh : Khairullah Zain *)

IMG 20200822 WA0044 1 150x150 - Guru Kristen Mengajar Madrasah, Why Not?Awal Februari, publik dihebohkan dengan kabar viral seorang guru beragama Kristen diterima mengajar di sebuah madrasah.

Kabar ini viral dibagikan, dengan bumbu provokasi yang lumayan pedas. Tidak sedikit yang terseret pada opini miring, yang sengaja digiring oleh mereka yang punya agenda tersendiri.

Heran memang, kenapa hal kecil semacam ini bisa dibesarkan sedemikian rupa. Padahal, bila kita membaca sejarah perjalanan umat Islam, belajar kepada non muslim adalah hal yang biasa, yang bahkan bagian dari sunnah. Lho?

Baiklah. Sebelumnya, definisi dari sunnah adalah sesuatu yang dinisbatkan kepada Nabi, baik perbuatan, ucapan, maupun penerimaan.

Pasca perang Badar, ada 70 tentara non muslim yang berhasil ditawan. Oleh Nabi, tawanan ini tidak dipaksa masuk agama Islam. Tapi mereka boleh menebus dirinya agar bebas merdeka. Mereka menebus tidak dengan membayar uang, tapi dengan mengajar baca tulis. Setiap satu orang bisa menebus kebebasannya dengan mengajar 10 orang muslim. Walhasil, 700 orang muslim menjadi murid 70 non muslim.

Oh iya, baca tulis yang mereka pelajari bukan baca tulis huruf latin lho! Tapi baca tulis huruf Arab yang kelak digunakan para sahabat untuk menulis ayat Alquran.

Jadi, belajar ilmu yang umat Islam belum pandai kepada pengajar non muslim yang memang mampu menjadi guru adalah sunnah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa aalih wa sallam. Nah, siapa berani menentang sunnah ini?

Oh iya, penulis pernah baca berita, di sebuah kota bernama Tahna Al-Jabal, wilayah Menia, sekitar 293 kilometer dari Kairo, ibu kota Mesir, ada seorang guru beragama Kristen mengajar baca tulis Alquran kepada anak anak muslim di sana.

Ayad Shaker Hanna, namanya. Selama lebih dari 50 tahun ia mengajar anak anak muslim membaca bahkan menghafal Alquran. Kebetulan Ayed pernah belajar bahkan menghafal Alquran, meski ia belum mendapat hidayah untuk masuk dalam agama Islam.

Pada prinsipnya, Islam tidak membatasi dalam belajar harus kepada siapa. Kecuali pada soal keahlian si pengajar. Tentu saja ketika kita mau belajar ilmu agama mesti kepada ulama, karena memang mereka yang ahli di bidangnya.

Penulis masih ingat, ketika dahulu di pesantren belajar kitab Ta’limul Muta’allim, ada sebuah riwayat hadits yang terjemahnya,

“Ilmu adalah umpama barang tercecer seorang beriman, di mana pun ia mendapatkannya, ia (boleh) mengambilnya”.

Sependek pengetahuan penulis, belajar ilmu pengetahuan kepada non muslim ini dari dahulu tidak pernah menjadi masalah. Baru kali ini saja diributkan. Bahkan, Imam Besar Ef Pe Ei, Habib Rizieq Shihab pernah mencontohkan, bukan hanya berguru kepada guru Kristen, tapi bahkan bersekolah di sekolah Kristen. Beliau sekolah di SMP Bethel Petamburan dan lulus pada tahun 1979. Jadi, belajar kepada guru bahkan bersekolah di sekolah non muslim termasuk salah satu ‘sunnah’ imam besar. Tentu saja sebagai makmum kita boleh bahkan harus ikut imam.

Nah, kalau begitu, saya kira kalau ada guru yang beragama Kristen mengajar di madrasah, why not?

*) Penulis adalah Wakil Ketua PCNU Kabupaten Banjar, Founder AMANNA Community, Pembina Majlis Raudhatul Murtaja.

Baca Juga: Rektor Unukase: Nahdlatul Ulama Menjadi Sasaran Tembak!

Editor: Shakira.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *