Kode Rahasia di Muqaddimah Manaqib Abah Guru Sekumpul

Tentu saja, yang bisa menangkap “kode” dalam Muqaddimah Manaqib Abah Guru Sekumpul Bughyatul Muhibbin ini adalah mereka yang dibukakan Allah pemahaman atasnya.

Oleh: Khairullah Zain

Membaca kitab Manaqib Abah Guru Sekumpul terbitan Al Zahra yang diberi judul “Bughyatul Muhibbin”, di muqaddimah kita menemukan kalimat yang unik:

الحمد لله الذي احتص قوما لمحبته واقام قوما لخدمته

“Segala puji bagi Allah yang telah memilih suatu kaum untuk mencintaiNya dan menegakkan kaum yang lain untuk berkhidmah kepadaNya”.

Menarik untuk kita telaah bersama, apa bedanya antara yang berkhidmah dengan yang mencinta? Saya kira, kalimat ini tidak sederhana.

Sebelumnya, ada redaksi yang mirip dengan kalimat tersebut, yaitu ungkapan Imam Ibn ‘Athaillah as Sakandari:

قوم أقامهم الحق لخدمته وقوم أختصهم بمحبته

“Ada suatu kaum Allah yang tegakkan mereka untuk berkhidmah padaNya, dan ada pula suatu kaum yang Allah khususkan untuk mencintaiNya“.

Al Imam as Sayyid Ibn ‘Ujaibah Al Hasani dalam Iqazhul Himam memberikan ulasan menarik tentang hal ini.

Menurutnya, orang orang yang telah terpilih untuk mendapat ‘inayah (pertolongan) dari Allah terbagi pada dua kelas, kelas pengabdi atau yang berkhidmah, dan kelas pecinta.

Diantara kelas pengabdi adalah mereka yang menyibukkan diri dengan ibadah, kelak disebut ‘abid atau ahli ibadah. Ada pula yang menyibukkan diri menuntut dan menyebarkan ilmu agama, untuk menjaga keberlangsungan syariat, kelak disebut ulama.

Ada yang menyibukkan diri dengan berjuang demi membela agama, kelak disebut para mujahid. Ada menyibukkan diri menjaga stabilitas negeri dan kedamaian, kelak disebut pemerintah.

Mereka itu semua, meski berbeda profesinya, dikategorikan oleh Al Hasani sebagai para pengabdi atau berkhidmah kepada Allah.

Sementara, yang disebut para pecinta adalah mereka yang telah dipilih untuk memakrifahiNya. Mereka adalah para ‘arif billah yang makrifatnya sempurna. Mereka telah menempuh perjalanan (baca: suluk) dan sampai di ujung pencapaian (baca: washil) pada titik ‘ainul haqiqah (kebenaran sejati).

Selanjutnya: Perbedaan Pengabdi dengan Pecinta.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *