Tiket Pesawat Gratis Berkat Keramat Abah Guru Sekumpul

Banua.co, MARTAPURA- Kisah mengenai keramat Abah Guru Sekumpul atau KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani memang tak ada habisnya untuk diceritakan. Banyak orang yang menyaksikan atau merasakan langsung keramat sang wali qutub ini.

Mustasyar PCNU Kabupaten Banjar, H Rusniansyah Marlim menceritakan keramat Abah Guru Sekumpul yang ia rasakan langsung ketika seminggu menjelang haul Abah Guru Sekumpul ke-14.

“Waktu itu kita wisata ke Bandung, sekaligus menghadiri resepsi pernikahan anak teman kuliah di Jakarta,” ucapnya memulai cerita kepada kru banua.co.

“Saya membeli tiket pesawat pulang pergi dengan jadwal kepulangan hari Minggu, pukul 20.00 WIB dengan maksud ingin menghadiri resepsi pada siang hari itu, ” ujar zuriat Datu Marlim ini.

Setelah membaca undangan, ternyata acara pernikahan tersebut pukul 19.00 WIB. Maka tiket kepulangan pun diundur ke penerbangan pagi pukul 05.50 WIB dengan menambah biaya tiket sebesar dua ratus ribu rupiah.

“Karena acara hingga larut malam, saya pun bangun tidur kesiangan sekitar pukul 05.00 pagi, ” imbuhnya.

Adzan subuh bergema, H Rusniansyah Marlim pun bergegas menuju Bandara Soekarno- Hatta. Ia menjelaskan dari Pasar Minggu menuju Bandara Soekarno-Hatta diperlukan waktu 45 menit.

Dalam perjalanan, H Rusniansyah Marlim pun bertawassul kepada Abah Guru Sekumpul berharap semoga sempat untuk berangkat pulang ke Banjarmasin.

“Sesampainya di bandara pukul 05.50 WIB, saat chek in, ternyata pesawat sudah berangkat, penerbangan berikutnya siang dengan harga tiket delapan ratus ribu, dikurangi tiket yang sudah ada dihargai dua ratus ribu, jadi totalnya enam ratus ribu, kebetulan sisa uang dikantong saya sekitar dua ratus ribu, saya pikir tidak akan cukup membeli tiket baru. ” ujarnya.

H. Rusniansyah Marlim pun menghubungi temannya yang menjual tiket pesawat. Akan tetapi, pada hari itu teman H Rusniansyah Marlim izin tidak hadir ke kantor, karena istrinya mau melahirkan di rumah sakit.

“Kemudian saya mengambil keputusan keluar bandara, ingin kembali ke rumah keluarga untuk nantinya menghubungi keluarga agar mengupayakan tiket kepulangan ke Martapura dan menelpon saudara sepupu yang mengantar untuk bisa menjemput kembali di bandara.” ucapnya.

Sementara menunggu jemputan, datanglah seorang laki-laki tinggi, berkulit putih, diperkirakan berusia 30 tahun, berpakaian putih baju lengan pendek, datang dari arah belakang kanan langsung bertanya kepada mantan Ketua PCNU Kabupaten Banjar ini.

“Mana tiket bapak?,” tanya orang tersebut.

“Saya mau keluar, ” jawab H. Rusniansyah

“Tidak bayar pak,” ucap orang tersebut.

“Kemudian saya serahkan tiket saya kepada laki laki tersebut. Orang itu tidak terlihat di dalam bandara dan tidak mengetahui saya ketinggalan pesawat, karena ditempat chek in maupun tempat informasi tiket hanya ada seorang perempuan.” jelas H Rusniansyah Marlim.

Sekitar lima menit, orang tersebut datang lagi dengan membawa kertas berwarna kuning sebagai pengganti tiket dengan jadwal keberangkatan pukul 10.50 WIB, dengan dituliskan waktu chek in pukul 09.00 WIB.

“Saya mengambil kartu nama di dompet, dikiranya mau memberi uang, dijawabnya tidak usah, tidak usah, ini tidak bayar, katanya. Lalu saya berikan kartu nama, dengan pesan, apabila kapan-kapan ke Banjarmasin hubungi saya,” ucap H Rusniansyah Marlim menirukan percakapannya waktu itu.

Kemudian laki-laki tersebut menghilang tanpa diketahui jejaknya.

Tiket Gratis Yang diberikan oleh Mr.X kepada H. Rusniansyah Marlim
Tiket Gratis Yang diberikan oleh Mr.X kepada H. Rusniansyah Marlim

“Sekitar pukul 06.10 pagi, saya keluar bandara, shalat subuh dan sarapan di pinggiran bandara. Dan pukul 09.00 saya pun chek in, petugas pun bertanya kepada saya, Bapak sudah Chek in?

lalu saya jawab belum, sebelumnya saya terlambat ketinggalan pesawat, baru saja dapat tiket,” ujar H. Rusniansyah Marlim.

Kemudian petugas menelpon beberapa menit. Ternyata H. Rusniansyah Marlim mendapat nomor kursi 32 bagian belakang. Tepat pukul 10.50 WIB pesawat berangkat dari Jakarta menuju Banjarmasin.

Beberapa hari kemudian, karena teringat pernah bertawassul kepada Abah Guru Sekumpul, H. Rusniansyah Marlim pun membelanjakan hartanya untuk membeli beberapa peralatan listrik yang dipergunakan untuk keperluan haul Abah Guru Sekumpul ke-14, berupa tiga lampu sorot, beberapa lampu untuk penerangan WC, kabel dan peralatan lainnya.

Secara kebetulan, uang yang dibelanjakan itu ternyata senilai dengan harga tiket yang digantikan laki-laki Mr. X, yaitu sejumlah delapan ratus ribu rupiah.

” Masya Allah, ini adalah keramat Abah Guru Sekumpul,” tutup H. Rusniansyah Marlim.

Reporter : Rohmiah

Editor : Muhammad Abdillah

Baca Juga: Amaliah Utama Abah Guru Sekumpul.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *