Kisah Ketaatan Abah Guru Sekumpul Terhadap Orangtuanya

Kisah ketaatan Abah Guru Sekumpul terhadap orangtuanya, jarang diceritakan dalam acara-acara pembacaan manaqib. Padahal, ini adalah salah satu sifat “khawariqul adat” (anti mainstream) yang luar biasa dari Abah Guru Sekumpul. Wallahu A’lam, mungkin inilah di antara yang menyebabkan beliau mendapatkan karomah dan kemuliaan jauh diatas kebanyakan manusia lainnya. Karena kemuliaan akhlak dan kehalusan budi pekertinya memang jauh melebihi standar manusia pada umumnya.

Oleh: Khairullah Zain *)

Khairullah ZainSelagi masih suasana peringatan haul seperti ini, beberapa cerita berikut yang merupakan gambaran bahwa ketaatan Abah Guru Sekumpul terhadap orangtuanya melebihi dari kebanyakan manusia, patut kita ingat kembali dan ceritakan kepada orang terdekat kita. Tentu saja, dengan harapan kita mampu meneladaninya.

Diceritakan oleh seorang sahabat saya yang menyaksikan peristiwa ini, yaitu ketika suatu kali Abah Guru Sekumpul menerima tamu di komplek Al Munawwar, Cempaka. Tibalah waktu makan siang. Hidangan pun disiapkan beberapa murid yang berkhidmah melayani Abah Guru Sekumpul, termasuk teman saya ini. Ketika hidangan sudah siap untuk disantap, rupanya ada yang terlupa. Tiba-tiba Abah Guru Sekumpul menelpon ibundanya di rumah Sekumpul.

“Mama, apa mama sudah makan?” beliau menanyakan apakah ibundanya sudah makan.

Kemudian, baru beliau minta izin untuk makan, “Ulun mau makan”.

Tidak cukup minta izin untuk makan saya, tapi -kata teman saya yang menyaksikan peristiwa ini- Abah Guru Sekumpul juga menyebutkan apa saja yang menu makanan yang ada dan akan beliau santap.

Kita bisa membayangkan, betapa untuk makan saja Abah Guru Sekumpul minta izin kepada ibundanya, apalagi terhadap hal lainnya. Bila beliau tidak mau memakan makanan, kecuali sudah mendapat izin dan restu dari ibunya, apalagi menikah, bepergian, dan lain sebagainya.

Ketaatan Abah Guru Sekumpul terhadap orangtuanya
Foto ibunda Abah Guru Sekumpul, Hajjah Masliyah binti Haji Mulia

Jangan dikira seperti kebanyakan orang yang hanya minta izin dan restu untuk pergi ke tempat yang jauh. Ada cerita lainnya yang sudah masyhur tentang bepergian ini. Setiap kali Abah Guru Sekumpul ingin pergi ke Langgar Ar Raudhah, tempat beliau memimpin jamaah beribadah dan mengajarkan ilmu, selalu meminta izin kepada ibunya, demikian pula ketika sepulangnya dari Ar Raudhah, yang pertama kali beliau temui adalah ibundanya. Padahal, jarak antara Ar Raudhah dengan rumah Abah Guru Sekumpul hanya beberapa meter. Iya, meter bukan kilometer. Hanya beberapa meter, bukan puluhan apalagi ratusan. Bila untuk pergi ke tempat sedekat itu saja beliau tidak mau melakukan tanpa izin dan restu ibunya, apalagi ke tempat yang lebih jauh.

Abah Guru Sekumpul Batal Ziarah ke Hadhramaut.

One thought on “Kisah Ketaatan Abah Guru Sekumpul Terhadap Orangtuanya

  • 5 Maret 2021 pada 09:43
    Permalink

    Bujur, beliau seorang sangat taat dan bakti dg orang tua, sangat langka bagi kita semua.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *