Bila Ahlul Bait Nabi Berbuat Kejahatan

Jarang kita mendengar bahasan, bagaimana bila seorang Ahlul Bait Nabi atau keluarga Nabi berbuat kejahatan alias maksiat. Apakah secara otomatis mereka tidak berdosa?

Oleh: Khairullah Zain

Imam Al Habib Abu Bakr asy Syili dalam mukaddimah Al Masyra’ Ar Rawi fi Manaqib as Saadah al Kiram Aal Ba ‘Alawi membahas hal ini dengan ulasan yang cukup jelas.

Al Masyra’ Ar Rawi sendiri adalah sebuah kitab klasik yang memuat penjelasan lengkap mengenai Ahlul Bait Nabi berikut manaqib para Awliya di kalangan Ahlul Bait tersebut.

Kitab Masyra’ur Rawi adalah salah satu kitab yang pernah dibacakan Abah Guru Sekumpul untuk umum.

“Hendaknya kita tutup mukaddimah ini dengan beberapa perkara, salah satunya adalah bahwa dipentingkan atas Ahlul Bait secara khusus dan seluruh manusia secara umum bahwa bersungguh menghasilkan ilmu syariat dan berhias dengan akhlak nabawiyah serta membersihkan diri dari sifat rendahan. Karena sesungguhnya keburukan (yang dilakukan) Ahlul Bait lebih buruk dari (apabila dilakukan oleh) selain mereka,” tulis Imam Asy Syili.

As Syili berargumen, “Karena Al ‘Abbas telah berkata kepada anaknya yang bernama Abdullah –radhiyallahu ‘anhuma- ‘Wahai anakku, sesungguhnya kedustaan tidak ada yang lebih buruk selain yang muncul dari umat ini. Lebih buruk dari itu bila muncul dari aku, darimu, dan dari ahlul baitmu. Wahai anakku, tidak ada dari yang diciptakan Allah yang lebih aku sukai darimu selain menaatiNa, dan tidak ada yang lebih aku benci darimu selain maksiat kepadaNya. Karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memberimu manfaat dengan yang demikian itu di dunia dan di akhirat’”.

Selanjutnya, As Syili mengutip Sayyidina Hasan al Mutsanna yang mengatakan,

“Sesungguhnya aku takut bahwa dilipatgandakan bagi yang maksiat dari kalangan kami –Ahlul Bait- azabnya dua kali lipat. Dan demi Allah, aku tidak berharap bahwa diberikan kepada yang berbuat baik dari kalangan kami –Ahlul Bait- dua pahala dari ketaatannya.”

Kemudian, Imam As Syili mempertegas argumennya dengan beberapa hadits Nabi, salah satunya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaih wa aalih wa sallam,

“Sungguh, ahlul baitku mengira mereka menjadi manusia paling utama dengan sebab aku. Padahal tidaklah demikian. Sesungguhnya kekasih-kekasihku dari kalian adalah yang paling bertakwa, siapapun dia, berasal dari mana pun dia.”

Menurut Al Imam Al Habib As Syili, bila hadits ini dianggap bertentangan dengan hadits-hadits tentang kemuliaan Ahlul Bait, sejatinya tidak.

“Karena sejatinya –Nabi- Shallallahu ‘Alaih wa Aalih wa Sallam tidak memiliki sesuatu pun, baik memberi kemanfaatan ataupun kemudharataan, tetapi –hakikatnya- Allah lah yang memberi manfaat kepada kerabat (Nabi) bahkan seluruh umat Nabi dengan syafaat umum dan khusus.”

Penjelasan Imam As Syili -yang juga seorang ulama besar dari kalangan dzuriat Nabi shallallahu ‘alaih wa aalihi wa sallam- inilah yang sesuai dengan pegangan Ahlusunnah wal Jamaah. Madzhab Ahlusunnah wal Jamaah atau Aswaja tidak menganggap Ahlul Bait Nabi ‘ma’shum’ alias dijamin selalu benar sebagaimana keyakinan Madzhab Syi’ah. Menurut Aswaja, yang mendapat fasilitas ma’shum hanya para Nabi ‘alaihimussalam saja.

Hal ini sejalan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang para isteri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam yang mulia dalam surah Al Ahzab ayat 30-31:

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ مَنْ يَأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرً, وَمَنْ يَقْنُتْ مِنْكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُؤْتِهَا أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا

“Hai istri-istri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah. Dan barang siapa di antara kamu sekalian (istri-istri Nabi) taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezeki yang mulia.”

Para Ahlul Bait Nabi shallallahu ‘alaih wa aalih wa sallam adalah orang-orang yang apabila mereka berbuat kebajikan akan mendapat pahala berlipat ketimbang orang lain yang bukan kalangan Ahlul Bait, dan sebaliknya akan mendapatkan dosa berlipat ganda bila berbuat kejahatan.

Wallahul Muwaffiq ilaa Aqwamith Thoriiq.

Baca Juga: Mengenal Wali Agung Imam Al ‘Ayderus.

Baca Juga: Sejarah Keturunan Habaib Al Kaff di Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *