Kisah Keramat KH Abdullah Schal Bangkalan

Banua.co – Kisah keramat KH Abdullah Schal menghentikan perjudian ini banua.co lansir dari Laduni.id. Kiai Abdullah Schal adalah seorang kiai yang berasal dari Bangkalan, Madura. Cicit Syekh Kholil Bangkalan ini termasuk salah seorang ulama yang akrab dengan Abah Guru Sekumpul, Martapura.

Kiai Abdullah Scahl lahir pada 15 Jumadil Ula 1354 H atau bertepatan pada 15 Agustus 1935 M di Desa Demangan, tepat di jantung Kota Bangkalan, Madura. Ibunya, Nyai Hj Romlah adalah puteri KH Imron bin Mbah Kholil Bangkalan. Sementara, ayahnya adalah KH. R Zahrowi.

Selain dirinya, beberapa saudaranya juga menjadi pemuka agama Islam, yaitu Ra Lilur yang terkenal majdzub, KH Fahrurrozi, dan KH Kholil AG.

Kisah keramat KH Abdullah Schal ini terjadi di suatu musim kemarau. Ketika itu langit cerah, angin bertiup dengan tenang, karenanya banyak masyarakat menghibur diri dengan bermain layangan.

Bermain layangan memang mengasyikkan. Di jaman sebelum gadget mewabah, permainan ini adalah salah satu hiburan favorit. Tua dan muda tidak ketinggalan.

Namun, masalahnya bermain layangan kadang tidak sekedar sebagai hiburan. Sebagaimana banyak permainan yang lain, ada saja orang-orang yang memanfaatkan permainan ini sebagai sarana melakukan taruhan alias perjudian. Memang, orang-orang yang bermental penjudi, permainan apa saja bisa mereka manfaatkan sebagai ajang judi.

Nah, suatu hari di musim layangan Kiai Abdullah Schal sedang istirahat di pondoknya. Tiba-tiba beliau memanggil seorang santrinya, “Coba kau lihat itu di luar pondok ada apa, ramai sekali?”

Santri yang diminta itu pun segera melaksanakan perintah kiainya. Ke luar pondok untuk menyaksikan apa yang sedang terjadi. Sejurus kemudian, ia kembali

“Orang orang sedang rame bermain layangan Kiai,” ujarnya.

“Oo, layangan,” sahut Kiai Schal.

“Enggeh Kiai, tapi mereka main sembari taruhan,”

“O Mander Tak Epa Deddieh,” kata Kiai Scahl.

Tentu saja sebagai seorang ulama yang mengetahui ilmu syariat, Kiai Scahl tidak menyukai adanya perjudian. Beliau pun merasa berkewajiban melakukan nahi munkar. Namun, cicit Syekh Kholil Bangkalan ini tidak bersikap frontal, melarang perjudian yang sedang berlangsung.

Kiai Schal memilih berdo’a, meminta kepada Allah agar perjudian yang sedang berlangsung dihentikan Allah.

Selesai berdo’a, Kiai Abdullah Schal kembali menyuruh santrinya.

“Coba lihat lagi apa mereka masih bermain taruhan?”

Santri pun bergegas melaksakan perintah. Heran, ternyata mereka yang sebelumnya ia saksikan sedang berjudi sudah tidak ada lagi.

Ternyata, dengan keramat KH Abdullah Schal, beriringan dengan do’anya, tiba-tiba muncul angin yang sangat kencang entah dari mana asalnya. Angin kencang tersebut menerbangkan semua layang-layang peserta hingga benangnya putus. Itulah rupanya yang membuat mereka mau tidak mau harus menghentikan permainan layangan, yang otomatis menghentikan judi taruhan yang mereka lakukan.

Cara nahi munkar para ulama dan kiai pesantren memang unik. Mereka melakukan dengan halus namun terbukti hasilnya. Keikhlasan mereka dalam ber-nahi munkar kadang menimbulkan keajaiban atau keramat. Tidak seperti orang orang yang mengaku nahi munkar, namun melakukannya secara frontal, sehingga bukannya berhasil menghentikan kemunkaran, namun malah menambah kemunkaran baru.

Editor: Shakira.

Baca Juga: Kisah Keramat Guru Tua, Sayyid Idrus bin Salim Al Djufrie Palu.

Baca Juga: Penting! Ini Cara Taubat dari Harta Haram.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *