Strategi Nadhliyyin di Australia Hadapi Islamofobia

Banua.co, AUSTRALIA – Islamofobia mengacu pada sikap atau emosi negatif sembarangan yang ditujukan kepada Islam atau Muslim. Orang Australia biasanya hanya tahu sedikit tentang Muslim dan keyakinan mereka. Akibatnya, mereka cenderung menyatukan kelompok yang sangat beragam ini sebagai kelompok terbelakang, penindas gender, dan kekerasan.

Dibandingkan dengan banyak negara Barat lainnya, Australia memang bukanlah tempat terburuk untuk minoritas Muslim. Sebuah survey 2015 menemukan hanya sekitar 10 persen responden Australia yang sangat Islamofobia. Namun, kita tidak boleh berpuas diri, terutama setelah serangan teroris masjid Christchurch 2019 silam yang dilakukan orang Australia.

Menghadapi hal ini, warga Nahdliyin menerapkan prinsip Islam rahmatan lil ‘alamin dalam pergaulan setiap hari dengan para penduduk non-muslim Australian.

Nahdliyin sadar sebagai minoritas dan mendakwahkan Islam kepada non-muslim di Australia tidak cukup dengan menyodorkan Al-Qur’an dan Hadits karena mereka tidak bisa membaca itu. Kalaupun bisa membaca, belum tentu mereka mengetahui artinya. Kalaupun mengetahui artinya, toh mereka belum tentu memahami makna dan kandungannya.

“They cannot read Quran or Hadis to understand Islam, but they will understand your religion from what you do, mereka tidak dapat membaca Al-Qur’an dan Hadis untuk memahami Islam, melainkan mereka akan memahami agamamu dari apa yang kamu lakukan,” kata Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia-New Zealand (ANZ) Yusdi Maksum sebagaimana dilansir dari NU Online pada Ahad (14/3).

Menurut Yusdi, beberapa tahun terakhir masyarakat umum di Australia dan New Zealand mulai terdidik dan membuka mata bahwa Islamofobia adalah bukti ketidaktahuan atau the ignorant seseorang terhadap perbedaan-perbedaan budaya dan agama yang hidup dan berkembang di lingkungan sekitar mereka.

“Karenanya, masalah Nahdliyin di Australia bukanlah Islamofobia di kalangan para penduduk Australia, sebab hampir seluruh warga Nahdliyin tidak mengedepankan atribut agama dalam berdakwah, seperti penampilan fisik yang dianggap lebih Islami. Pun Nahdliyin tidak menjadi masalah bagi masyarakat ANZ,” ujarnya.

“Warga Nahdliyin berdakwah melalui perilaku dan akhlakul karimah yang merangkul bukan yang memukul, sifat mengasihi bukan memaki karena action speaks louder than words, tindakan lebih berpengaruh ketimbang kata-kata,” lanjut alumnus Pondok Pesantren Wahid Hasyim, Yogyakarta itu.

Namun, masalah kemudian justeru datang dari kalangan internal sesama muslim asal Indonesia.

“Justru, kendala yang dihadapi umat Islam dari Indonesia di Australia saat ini adalah perpecahan di kalangan Muslim Indonesia akibat kecenderungan polarisasi politik pascapemilu dan pilkada.” pungkasnya.

Editor: Shakira.

Baca Juga: NU Mendunia, Berikut Daftar Cabangnya di 137 Negara. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *