Kisah Abah Guru Sekumpul dengan Wanita (yang dianggap) Gila

Banua.co – Kisah Abah Guru Sekumpul dengan seorang wanita (yang dianggap) gila ini selalu dikenang oleh beliau, buktinya beberapa kali beliau ceritakan di pengajian.

Peristiwa ini terjadi ketika Abah Guru Sekumpul masih usia belia. Saat itu beliau masih menjadi santri Pondok Pesantren Darussalam. Pesantren yang tertua di Kalimantan yang berdiri sejak tahun 1914.

Kondisi Martapura ketika itu jauh berbeda dengan saat ini. Tentu saja, sebagaimana daerah lainnya, belum ada pasar modern.

Pasar tradisional, selain menjadi pusat perbelanjaan, juga menjadi sarana cuci mata para penduduk. Mereka yang ke pasar tidak terbatas pada orang-orang yang ingin berbelanja keperluan saja, namun juga mereka yang ingin jalan-jalan, sekedar cuci mata.

Namun, berbeda dengan Abah Guru Sekumpul. Tidak seperti kebanyakan orang, Abah Guru Sekumpul hanya ke pasar apabila ada keperluan.

Seperti hari itu, Abah Guru Sekumpul berangkat ke pasar, karena ada yang dicari. Kebetulan rumah beliau tidak begitu jauh dari pasar. Cukup jalan kaki saja.

abah guru sekumpul ketika muda.Foto Banua.co - Kisah Abah Guru Sekumpul dengan Wanita (yang dianggap) Gila
abah guru sekumpul ketika belia. Foto-Banua.co

Siang itu, suasana pasar Martapura seperti biasa. Selalu ramai dengan para pedagang. Orang-orang berlalu lalang, mencari dan berbelanja kebutuhan. Tidak ketinggalan para pengemis dan orang-orang yang mencari penghidupan dengan cara meminta sedekah.

Di pasar Martapura, ketika itu ada seorang wanita yang dianggap orang-orang tidak waras. Kesehariannya selalu di pasar. Dengan pakaian yang lusuh dan tampilan yang tidak sedap dipandang.

Meski dianggap gila, sebenarnya wanita itu tidak pernah mengganggu orang. Hanya tampilannya saja yang tidak terawat dan sembarangan.

Di tengah berjalan di lorong pertokoan, Wanita tersebut berpapasan dengan Abah Guru Sekumpul. Ia memandang Abah Guru Sekumpul tidak seperti memandang kebanyakan orang. Sepertinya ada yang diketahuinya di balik sosok anak santri tersebut.

Tiba-tiba, lewat seorang pria parlente, dengan pakaian yang mewah dan menunjukkan dirinya orang berada, di antara mereka.

Berjalan dengan pongah, pria itu menandai dirinya sebagai seorang yang lebih hebat dari kebanyakan orang. Tidak ada keramahan terpancar dari wajahnya.

Wanita gila tersebut memandang pria parlente yang lewat dengan wajah tidak suka. Kemudian pandangannya beralih, menatap Abah Guru Sekumpul.

Tiba-tiba, ia berkata, “Nyawa Nang lah jangan beagak-agak! Sama ja keluar dari *k*k jua!” (Kamu jangan berpongah-pongah ya Nak! Manusia sama saja, keluar dari kemaluan perempuan juga!), ujarnya lugas.

Abah Guru Sekumpul tersadar, wanita itu tidak seperti yang dianggap kebanyakan orang gila. Buktinya, nasehat bijak bisa keluar dari lisannya, bak mutiara yang memancarkan kilau.

Semua manusia sama saja, lahir dengan telanjang, dari alat kelamin perempuan. Apa yang mau disombongkan. Bila kemudian seseorang memiliki harga yang banyak ataupun pangkat yang tinggi, itu hanyalah ujian dalam kehidupan. Kelak akan dipertanggungjawabkan. Itu makna nasehatnya.

“Orang-orang menganggapnya gila, tapi aku kada wani (kada berani),” ujar Abah Guru Sekumpul ketika menceritakan kisah tersebut.

Semoga kisah Abah Guru Sekumpul di atas menjadi inspirasi untuk kita semua, bahwa ilmu dan hikmah bisa kita ambil dari siapa saja.

“Hikmah bagi seorang mukmin adalah umpama barang yang tercecer, di mana ia menemukan niscaya dipungutnya” Demikian makna sebuah hadits yang disebutkan dalam kitab Ta’limul Muta’allim. Kitab pegangan anak santri.

Baca Juga: Manaqib Sayyidatina Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha

Dikisahkan ulang dengan redaksi berbeda oleh: Khairullah Zain.

Silakan Klik Untuk Membaca Tulisan lainnya tentang Abah Guru Sekumpul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *