Paribasa Banua Banjar: Mangaji Matan di Alif

Mangaji Matan di Alif adalah salah satu Paribasa dan ungkapan bubuhan Banua Banjar. Apa maksudnya, bisa kita simak dalam refleksi budaya berikut ini.

Oleh: Noorhalis Majid *)

Norhalis MajidBelajar apapun, mesti dari awal, dari yang paling dasar. Jangan langsung meloncat ke level paling tinggi. Perlahan-lahan, tahap demi tahap, sehingga mengetahui sejelas-jelasnya ilmu yang dipelajari. Bila pengetahuan dasarnya sudah dikuasi, mudah saja melanjutkan pada tingkat lebih tinggi, itulah yang dimaksud mangaji matan di alif.

Mengaji – belajar mulai dari huruf alif, huruf pertama ketika belajar mengaji. Dipinjam mengilustrasikan cara belajar atau menuntut ilmu – keterampilan dan pengetahuan lainnya. Mulailah dari paling dasar, jangan terburu-buru ingin lebih tinggi, nanti justru tidak akan menguasai ilmu tersebut.

Ketika pengetahuan dasar sudah dikuasai, mudah melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi. Sebaliknya, bila pengetahuan dasarnya tidak diketahui, sulit, bahkan tidak mungkin menguasai pengetahuan level selanjutnya. Kalau hal-hal paling mendasar sudah sangat paham, mudah mengembangkan, melakukan inovasi – terobosan pada tahapan selanjutnya.

Begitu juga dalam bekerja, karena bagian dari belajar, ada baiknya memulai bekerja dari yang paling dasar, sehingga mudah memberikan arahan kepada bawahan. Kalau tidak pernah merasakan pekerjaan bawahan, hanya bisa menyuruh, tanpa mampu mengarahkan. Agar bisa mengarahkan, perlu pengetahuan atas apa yang diarahkan.

Ada banyak yang tidak sabar, inginnya langsung di atas, seketika menjadi bos, menjadi tukang perintah. Sementara tidak tahu apa yang diperintah dan bagaimana seharusnya perintah dilaksanakan. Akhirnya hanya bisa marah, mengumpat, menyalahkan dan tidak mampu memberi solusi apapun tentang sesuatu yang seharusnya dilakukan.

Ungapan ini memberikan pelajaran agar dalam segala hal, hendaknya harus bertahap, memulai dari yang paling awal, mendasar. Kalau dasar sudah kokoh, sebagaimana suatu bangunan – bagian atasnya juga akan ikut kokoh. Tentu perlu kesabaran – proses, tapi begitulah bila ingin mumpuni dalam bidang apapun.

Jangan kira yang dilihat sangat ahli, piawai, mampu melakukan berbagai pekerjaan dan pengembangan, langsung mampu seketika seperti itu. Pasti belajar mulai dari awal, dari paling dasar. Tinggal, apakah kemampuan belajar dan menyerap ilmunya cepat atau lambat. Karena itu, jangan terburu-buru, lebih baik perkuat ilmu-ilmu dasar, mangaji matan di alif. (nm)

*) Penulis adalah Kepala Ombudsman RI perwakilan Kalsel, pemerhati Budaya Banjar.

Silakan ikuti refleksi Budaya Banjar selanjutnya di website ini.

Baca Paribasa Selanjutnya: Kada Sawat Karing Pangayuh.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *