Paribasa Banua Banjar: Bacaramin di Banyu Karuh

Banua.co – Bacaramin di banyu karuh, salah satu Paribasa Banua Banjar yang sering digunakan bubuhan Banua Banjar. Apa maksud paribasa ini? Simak refleksi budaya banjar berikut ini.

Oleh: Noorhalis Majid*)

Norhalis MajidSuka mencontoh perbuatan tidak baik. Sebenarnya banyak perbuatan baik yang bisa ditiru. Tapi malah perbuatan tidak baik yang menjadi rujukan – sebagai contoh. Sehingga hasilnya selalu saja tidak jauh berbeda dengan contohnya. Hasilnya menjadi tidak baik pula, itulah maksud dari bacaramin di banyu karuh.

Bercermin di air keruh, begitu artinya. Tentu sulit bercermin pada air yang keruh, tidak jelas berfungsi sebagai cermin. Bahkan tidak mungkin dijadikan cermin. Lajimnya, air beninglah yang dijadikan cermin, sehingga jelas terlihat yang sebenarnya.

Untuk dapat melakukan perbuat baik dan benar, tidak cukup hanya diberi tahu. Penting ada contoh nyata yang dapat ditiru.

Sayangnya, sering kali bukan contoh baik yang menjadi rujukan, malah sebaliknya yang jelek. Sehingga tidak dapat melakukan perbaikan sebagaimana diharapkan. Apalagi melakukan lompatan inovasi – perubahan besar, agar melampaui capaian yang sudah ada.

Bagaimana contohnya? Misalnya, ditegur terlambat masuk kerja, bukannya mencontoh yang disiplin, tepat waktu. Tapi merujuk yang jarang masuk kerja. Beralasan, mending hanya terlambat, banyak kok yang jarang masuk kerja tanpa alasan. Begitu juga dalam soal lainnya, ditegur agar tidak korupsi, bukannya mencontoh perbuatan baik – jujur – berintegritas, sehingga terhindar dari korupsi, malah bercermin – iri pada korupsi kelas kakap, seperti korupsi bank century, dana bansos, dan korupsi kelas kakap lainnya.

Sering kali kita menemukan betapa sulitnya melakukan perbaikan, karena yang menjadi contoh dan rujukan, justru perbuatan tidak baik.

Dilarang menebang pohon, agar lingkungan menjadi hijau dan lestari. Bukannya mencontoh tempat-tempat hijau, subur dan asri. Justru iri dengan pembabatan hutan, pertambangan besar yang gegap gempita melakukan pengrusakan lingkungan.

Karena cerminnya buruk, menggunakan air keruh, penuh masalah, maka terhalanglah melihat yang lebih baik. Betul ada yang tidak bertanggungjawab pada pekerjaan, hingga jarang masuk kerja. Betul ada banyak korupsi kelas kakap yang merugikan negara. Betul ada perusak lingkungan membabi buta, beresiko bencana alam besar. Tapi ketika ingin baik, jangan dijadikan contoh, yang demikian sama seperti bacaramin di banyu karuh. (nm)

*) Penulis adalah Kepala Ombudsman RI perwakilan Kalsel, pemerhati Budaya Banjar.

Baca refleksi sebelumnya, paribasaKada Sawat Karing Pangayuh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *