Paribasa Banua Banjar: Kada Batanam Nyiur

Banua.co – Kada Batanam Nyiur adalah satu satu Paribasa Banua Banjar. Apa maksud ‘Kada Batanam Nyiur’ ini? Simak ulasan pemerhati budaya Banua Banjar berikut ini.

Oleh: Noorhalis Majid*)

Norhalis MajidHidup di perantauan, hanya mencari nafkah – mencari uang untuk kesenangannya. Tidak peduli, tiada meninggalkan apapun yang memberi manfaat pada tanah. Tidak meninggalkan warisan berharga – legacy, pada tempat dimana ia menerima segala rezeki untuk kehidupannya. Pun di kampungnya sendiri, tidak pula meninggalkan manfaat bagi banyak orang, itulah yang dimaksud kada batanam nyiur.

Tidak ada menanam kelapa, begitu arti harfiahnya. Kelapa dipinjam, sebagai perwujudan legacy – warisan bagi keberadaan seseorang pada tempat di mana ia mencari nafkah. Kelapa, jenis tumbuhan keras berjangka panjang. Semakin tinggi kelapa, menggambarkan betapa tuanya kehidupan sebuah kampung. Banyak adat melarang menebang pohon kelapa, membiarkan tumbuh setinggi mungkin, apalagi bila masih produktif. Tingginya pohon kelapa, memberikan gambaran usia dari kampung tersebut – menjadi potret kenangan para tetuha pendiri kampung – pemberi legacy.

Dimanapun berada, baik di kampung sendiri, ataupun di perantau, tempat mencari nafkah. Hendaknya meninggalkan hal-hal yang memberi manfaat, meninggalkan warisan. Bisa berupa fisik, boleh juga non fisik seperti pengetahuan, nilai-nilai, dan berbagai bentuk jasa yang memberi kebaikan banyak orang.

Kalau tidak mampu membangun fisik untuk kebutuhan umum seperti tempat ibadah, sekolah, jalan, jembatan dan lain sebagainya, boleh pula non fisik seperti mengajar mengaji di surau, di sekolah, memberikan kursus, pelatihan dan banyak bentuk pendidikan lainnya. Kalau mampu melakukan hal tersebut, berarti sudah menanam kelapa, bentuk dari warisan bermanfaat.

Ada banyak yang datang hanya mencari nafkah – bekerja, baik perorangan ataupun perusahaan, tanpa mau tahu lingkungan sekitar. Lebih parah lagi, jenis pekerjaannya merusak lingkungan – ekosistem, sehingga bukannya meninggalkan kebaikan, malah keburukan dan ancaman ekologi.

Kebudayaan dengan halus menyindir melalui ungkapan ini, jangan hanya mencari nafkah, tapi mestinya juga memberi manfaat. Jangan hanya mengeruk sumber daya, namun harus pula meninggalkan warisan yang berguna. Semakin banyak yang diwariskan, menggambarkan kehadirannya memberi manfaat, tidak datang hanya untuk mencari nafkah – mengeruk, menguras sumber daya dengan rakusnya. Kalau tidak peduli pada lingkungan tempat mencari nafkah, berarti kada batanam nyiur. (nm)

*) Penulis adalah Kepala Ombudsman RI perwakilan Kalsel, pemerhati Budaya Banjar.

Baca Paribasa Banua Banjar sebelumnya: Bacaramin di Banyu Karuh.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *