Mencium Isteri Ketika Berpuasa, Apa Hukumnya?

Banua.co – Mencium isteri ketika berpuasa, ada yang diperbolehkan dan ada yang tidak. Demikian bila kita telaah dalam kitab-kitab fikih. Tidak mutlak boleh atau sebaliknya, mutlak tidak boleh. Seperti apa yang boleh dan yang tidak boleh? Mari kita kaji bersama.

Oleh: Khairullah Zain*)

Khairullah ZainMenurut Imam Al Ghazali dalam Ihya ‘Ulumiddin, puasa adalah seperempat keimanan. Hal ini berdasarkan hadits bahwa puasa adalah separo kesabaran, dan hadits bahwa kesabaran adalah separo keimanan.

Secara bahasa, arti puasa adalah menahan. Prinsip puasa adalah menahan nafsu dari melakukan apa pun yang membatalkan.

Mencium isteri ketika berpuasa, pada dasarnya tidak termasuk hal yang membatalkan puasa. Namun, apakah hal ini diperbolehkan?

Menjawab pertanyaan diatas, Sayyidatina Aisyah radhiallahu ‘anha, sebagaimana diriwayatkan Imam Al Bukhari dan Imam Muslim pernah bercerita:

كان رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُقَبِّلُ وهُو صَائِمٌ وَيُباشِر وَهُو صَائِمٌ ولَكِنَّه كَان أَملَكَكُم لأَرَبِه

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium (isterinya) dan bercumbu ketika puasa, namun beliau adalah orang yang paling kuat menahan nafsunya.”

Dalam riwayat Imam Abu Daud, Sayyidatina ‘Aisyah menceritakan bahwa yang dicium Nabi adalah dirinya sendiri:

كان رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُقَبِّلُني وهُو صَائِمٌ وأنا صائمة

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menciumku ketika beliau sedang berpuasa dan aku juga berpuasa.”

Sekilas, dalam hadits diatas tidak ada larangan mencium isteri ketika sedang berpuasa, dan tentu saja tidak membatalkan puasa. Namun, Al Imam An Nawawi merincikan masalah ini dalam Majmu’ sebagai berikut:

ومن حركت القبلة شهوته كره له أن يقبل وهو صائم والكراهة كراهة تحريم. وان لم تحرك شهوته قال الشافعي فلا بأس بها وتركها أولي. والاصل في ذلك ماروت عائشة رضى الله عنها قالت ” كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقبل ويباشر وهو صائم ولكنه كان أملككم لاربه “. وعن ابن عباس انه ارخص فيها للشيخ وكرهها للشاب ولانه في حق احدهما لا يأمن ان ينزل فيفسد الصوم وفى الاخر يأمن ففرق بينهما

“Sesiapa yang syahwatnya terangsang ketika mencium isteri, maka makruh baginya mencium saat sedang berpuasa. Makruh di sini ‘makruh tahrim’. Bila (mencium isteri) tidak membuat syahwat terangsang, maka Imam Syafi’i mengatakan tidak apa-apa. Namun meninggalkan (dari melakukan hal tersebut) lebih utama. Dalil masalah ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menceritakan dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium (isterinya) dan bercumbu ketika puasa, namun beliau adalah orang yang paling kuat menahan nafsunya. Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau memberikan keringanan kepada orang tua (mencium isteri ketika puasa) dan memakruhkan kepada orang muda. Karena pada orang muda riskan keluar mani (tidak mampu menahan syahwat) yang mengakibatkan puasanya rusak. Adapun pada orang tua, lebih aman. Maka Ibn Abbas membedakan hukum keduanya.”

Merincikan masalah mencium isteri ketika berpuasa, Imam An Nawawi menggunakan istilah yang biasa digunakan para ulama Madzhab Hanafi, yaitu “karahah tahrim” alias makruh yang mendekati haram. Dalam Madzhab Hanafi ada dua kategori makruh, yaitu “karahah tahrim” (makruh yang mendekati haram) dan “karahah tanzih” (makruh yang mendekati boleh).

Imam An Nawawi tidak menganggap mencium isteri ketika berpuasa berpengaruh pada ranah hukum wadh’i, yaitu tentang batal tidaknya puasa. Namun terbatas pada ranah hukum taklifi, yaitu makruh tahrim bagi orang yang syahwatnya mudah terangsang.

Adapun bagi orang yang tidak, maka sesuai pendapat Imam Syafi’i, tidak mengapa. Namun sebaiknya ditinggalkan, karena mencium isteri ketika sedang berpuasa menyalahi yang lebih utama (khilaful awla), yaitu tidak melakukan hal apapun yang mengundang nafsu dan syahwat.

*) Penulis adalah alumnus lembaga pengkaderan ahli fikih Ma’had’Aly Darussalam Martapura.

Baca Juga: Puasa Menyentuh Kemaluan Isteri, Batal?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *