Adat Urang Main, Ada Kalah Ada Manang

Adat Urang Main, Ada Kalah Ada Manang, demikian salah satu ungkapan peribahasa alias Paribasa Banua Banjar yang tidak asing bagi para tetuha kita jaman dahulu. Apa maksudnya? Mari simak ulasan pemerhati budaya Banua Banjar berikut ini.

Oleh: Noorhalis Majid*)

Norhalis MajidSudah menjadi menjadi hukumnya dalam permainan, ada kalah dan ada pula yang menang. Jangan risau saat kalah, jangan jumawa – besar hati – sombong kalau menang. Semua bisa terjadi dalam permainan, begitulah maksud dari adat urang main, ada kalah ada manang.

Ungkapan ini memberi nasehat tentang adat atau hukum permainan. Satu bentuk kesadaran tentang hidup. Ada beranggapan, hidup ini laksana permainan, dalam setiap babak, ada kalah, ada pula yang menang. Sekalipun seorang juara, tidak setiap waktu menjadi pemenang. Sebaliknya, walau pecundang, tidak selalu dalam posisi kalah. Roda berputar, kadang di atas – menjadi pemenang. Kadang pula di bawah – kalah terpuruk. Bila mampu memahami itu, maka biasa saja – enjoy, sudah menjadi hukumnya.

Berbagai bidang kehidupan, ekonomi – sosial – budaya – ataupun politik, dari waktu ke waktu merupakan permainan. Jangan mudah lengah sehingga dikalahkan. Tidak pula ngotot selalu menang. Ada kalanya mesti menang, ada waktunya mengalah. Agar ada keseimbangan, sehingga kehidupan terus berputar – berjalan.

Yakinlah, orang hebat, sehebat apapun, tidak selamanya hebat. Orang kaya, sekaya apapun, tidak selamanya kaya. Nanti juga akan kalah, atau terpuruk digilas yang lain. Di atas langit, masih ada langit. Generasi akan terus berganti, sebagai bentuk pergiliran. Kekuasaan kami pergilirankan di antara kalian, begitu ajaran agama menjanjikan. Jangan bermimpi selalu menang, nanti malah kecewa.

Ada juga yang sadar, sesadar-sadarnya bahwa hidup yang penuh permainan ini adalah tipu daya belaka. Agar tidak tertipu – terpedaya, berusaha keluar dari permainan. Caranya dengan mengikhlaskan – pasrah, bahwa semua yang terjadi suatu ketentuan – sudah menjadi ketetapan – takdir, tinggal menjalaninya sebaik mungkin dan berdoa.

Namun banyak pula yang tidak sadar – hingga makan hati. Apa lagi dalam politik yang jelas permainan, kalah – menang silih berganti – saling menindas, memperdaya. Jangan suka baper (bawa perasaan), isinya penuh permainan. Bahkan Tidak ada kawan, kecuali kepentingan. Maka, kebudayaan mengingatkan, adat urang main ada kalah ada manang. (nm)

*) Penulis adalah Kepala Ombudsman RI perwakilan Kalsel, pemerhati Budaya Banjar.

Baca Paribasa Banua Sebelumnya: Mamasang Lukah di Karing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *