Inna Lillah, Ulama Kharismatik Banten, Buya Uci Turtusi Wafat

Banua.co, BANTEN – Kabar duka datang dari Banten, Buya KH Uci Turtusi, ulama kharismatik dari Cilongok, Pasar Kemis, Tangerang, Banten, dikabarkan wafat pada pagi ini, Selasa (06/04/2021).

Kabar Buya Uci Turtusi wafat segera beredar menghiasi media sosial. Beberapa akun Youtube memuat postingan yang mengabarkan wafatnya putra ulama terkenal Buya Dimyathi Banten tersebut.

Buya Uci Turtusi adalah penerus ayahnya, Buya Dimyathi Banten. Beliau memimpin pengajian untuk umum yang dihadiri ribuan jamaah. Tidak kurang dari 5.000-an orang datang dari sekitar wilayah Tangerang, Banten, Bogor, Bekasi dan juga Jakarta untuk menghadiri majelis akbar yang dilaksanakan di Pesantren Salafiyah Al Istiqlaliyah tersebut.

Selain acara pengajian rutin mingguan, Abuya Uci Turtusi juga melaksanakan acara-acara akbar yang selalu dihadiri puluhan ribu jamaah, seperti acara Maulid Nabi, Haulan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Bukan hanya dari kalangan masyarakat biasa, acara yang dipimpin Buya Uci Turtusi sering dihadiri tokoh-tokoh besar, baik dari kalangan ulama, habaib, maupun pejabat pemerintahan. Termasuk diantara yang pernah hadir tokoh besar NU dan mantan Presiden Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Buya Uci Turtusi
Buya Uci Turtusi bersama Habib Luthfi Bin Yahya

Profil Buya Uci Turtusi

Dikutp dari Laduni.id Buya Uci Turtusi memulai pendidikannya dengan belajar langsung kepada ayahnya, Abuya Dimyathi al-Bantani. Setelah selesai belajar dengan ayahnya, beliau melanjutkan pendidikannyan dengan belajar kepada 32 orang guru di berbagai pesantren, yang beliau tempuh selama 32 tahun.

Ketika beliau belajar di pesantren, beliau termasuk orang yang sering pindah-pindah. Paling lama waktu belajar, beliau tempuh selama 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari kemudian beliau pindah lagi. Hal tersebut dikarenakan ketika pengasuh pesantren mengetahui bahwa beliau adalah anak Abuya Dimyathi al-Bantani, maka kebanyakan para kiai justru tidak berani menerimanya sebagai murid.

Setelah wafat ayahandanya, Abuya Dimyathi al-Bantani, Buya Uci Turtusi melanjutkan kepengasuhan Pondok Pesantren Salafiyah Al-Istiqlaliyah yang berdiri sejak tahun 1957. Pondok pesantren tersebut berada di kampung Cilongok, Desa Sukamantri, Kecamatan Pasar Kemis, berdiri di atas lahan seluas ± 4,5 ha.

Editor: Shakira.

Baca Juga: Kisah Keramat Buya Uci Turtusi.

Baca Juga: Memaknai Wafatnya Ulama, Bagaimana Sikap Kita Seharusnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *