Kisah Sufi: Yang Hebat Itu Guru Kalian, Bukan Saya!

Banua.co – Kisah sufi berikut ini menceritakan bagaimana akhlak seorang ulama Sufi yang menjaga murid sesamanya tidak terhijab dari gurunya. Bukan sebaliknya, menggoda murid orang lain supaya berpindah menjadi muridnya.

Oleh: Khairullah Zain*)

Khairullah ZainKisah sufi ini terjadi di abad ketiga Hijriyah. Kisah tentang seorang sufi yang menyembunyikan keutamaan dan keramat yang diberikan Allah kepadanya.

Suatu hari, ketika Syekh Sahl At Tustari (W. 282 H) sedang bersama murid-muridnya, seorang pria melintas di hadapan mereka.

Sahl memandang pria itu, kemudian berpaling kepada murid-muridnya dan berkata, “Pria itu mempunyai keramat rahasia.”

Ketika murid-murid Sahl menoleh, pria itu bergegas meninggalkan mereka.

Beberapa waktu kemudian, Syekh Sahl At Tustari wafat. Usai pemakaman, para murid masih tidak meninggalkan makam gurunya tersebut.

Tiba-tiba, ada seorang pria asing datang ke pemakaman. Rupanya diantara murid Sahl ada yang mengenali pria itu. Dia adalah orang yang dahulu pernah disebut gurunya mempunyai keramat rahasia.

“Tuan, dahulu guru kami pernah mengatakan bahwa Tuan mempunyai keramat rahasia. Berkenankah Tuan menunjukkan kepada kami?”, ucap salah seorang murid Sahl.

Pria itu adalah seorang sufi. Dia mengetahui adab-adab dalam dunia Tashawuf, diantaranya adab seorang murid terhadap gurunya.

Seorang murid tidak akan mendapat keberkahan dari gurunya selama masih ada orang lain yang lebih mulia dalam pandangannya dibandingkan gurunya.

Pria itu tidak ingin murid-murid Sahl terhijab dan terputus dari gurunya gara-gara dirinya. Dia tidak ingin terlihat mulia di hadapan murid-murid Sahl, hingga membuat mereka tergoda dan berpaling kepadanya.

“Yang hebat dan mempunyai keramat rahasia itu guru kalian, bukan saya!” Tegasnya.

“Tapi guru kami sendiri yang mengatakan Tuan mempunyai keramat rahasia,” sanggah seorang murid Sahl.

“Baiklah, saya akan buktikan bahwa yang mempunyai keramat itu adalah guru kalian”.

Pria itu kemudian berpaling ke kubur Sahl dan berseru, “Hai Sahl, bicaralah!”.

Tiba-tiba dari dalam kubur terdengar suara yang sangat dikenali murid-murid Sahl.

“Laa Ilaaha Illallah Wahdah La Syarika Lah” terdengar begitu jelas suara Sahl bin Abdullah At Tustari.

Pria itu kembali berseru, “Telah dikatakan: Barangsiapa yakin bahwa Tiada Tuhan Selain Allah, maka tiada gelap baginya di dalam alam kubur. Benarkah demikian Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari?”

Dari dalam kuburan itu terdengar jawaban Sahl bin Abdullah At Tustari:

“Benar!”

“Nah, benar bukan, yang hebat itu guru kalian. Bukan saya!”.

Begitulah akhlak para ulama Sufi. Mereka senantiasa saling menjaga murid sesamanya tidak terhijab dari gurunya. Bukan sebaliknya, menggoda murid orang lain supaya berpindah menjadi muridnya.

Editor: Shakira.

Silakan Klik di Sini untuk Membaca Kisah Sufi Lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *