Paribasa Banjar: Kadada Nang Manyasal Badahulu

Banua.co – Kadada nang manyasal badahulu, mungkin kita sebagai urang Banua Banjar pernah mendengar paribasa banua ini. Apa maksudnya? Mari kita simak bersama ulasan pemerhati budaya Banua Banjar berikut ini.

Oleh: Noorhalis Majid*)

Norhalis MajidBerhati-hati sejak awal, jangan sampai salah mengambil keputusan atau tindakan. Bila keliru, akan menjadi penyesalan di kemudian hari. Menyesal kemudian tak berguna, tidak ada artinya, hanya berbuah kesedihan. Itulah maksud kadada nang manyasal badahulu.

Tidak ada yang menyesal lebih dahulu. Penyesalan, selalu datang belakangan, setelah peristiwanya terjadi. Kalau menyesal datang di awal, pasti tidak akan melakukan tindakan.

Akibat kurang perhitungan – sembrono -tanpa perhitungan – bahkan tidak memikirkan akibat jangka panjang, akhirnya berbuah penyesalan.

Cermat dalam bertindak, dapat mencegah penyesalan. Kalau sudah berhati-hati, memaksimalkan segala bentuk persiapan detil – terukur, bila pun terjadi yang tidak diinginkan, tidak akan menjadi penyesalan. Hasil, tidak pernah mengingkari upaya. Seberapa besar upaya dilakukan, selalu berkorelasi dengan hasilnya.

Ungkapan ‘kadada nang manyasal badahulu’ ini, selain memberikan nasehat agar berhati-hati sejak awal, juga memberikan penekanan untuk tidak berlama-lama larut dalam kesedihan – penyesalan. Bahwa yang sudah terjadi, biarlah terjadi, jadikan pengalaman – pelajaran hidup, agar tidak terulang di kemudian hari. Apapun konsekuensinya, cari hikmah tersembunyi yang dapat dipetik.

Guru paling berharga adalah pengalaman. Bila gagal, dapat menjadi guru – pelajaran perbaikan tahap selanjutnya. Jangan pernah jera, kapok mencoba. Terus lakukan, tetap mencoba, kerjakan dengan cermat, suatu waktu pasti berbuah hasil yang diharapkan.

Jangan sampai patah arang, sekali gagal dan lalu menyesal, tidak mau lagi melakukannya. Seperti arang, kalau sudah patah, tidak dapat disambung lagi. Hidup bukan seperti arang, hidup adalah hidup, terus bertumbuh – dari waktu ke waktu dapat diperbaiki sesuai proses pengalaman.

Berguru pada pengalamanlah, orang menjadi perfek. Tidak mungkin tanpa adanya pengalaman langsung, tiba-tiba menjadi perfeksionis. Kesempurnaan lahir dari banyak kegagalan yang mampu dijadikan pelajaran. Karena tidak ada level terampil, tanpa melalui tahap dasar yang terus diulang hingga menjadi mahir dan selanjutnya berbuah terampil. Sekalipun sudah terampil, tetap harus berhati-hati, mungkin saja lengah, lalu berbuah penyesalan. Kalau suka sembrono, dan terjadi yang tidak diinginkan, yakinlah kadada nang manyasal badahulu. (nm)

*) Penulis adalah Kepala Ombudsman perwakilan Kalsel, pemerhati budaya Banua Banjar.

Paribasa Banua Banjar Sebelumnya: Adat Urang Main, Ada Kalah Ada Manang.

Paribasa Banua Banjar Selanjutnya: Balayar di Pulau Kapuk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *