Berkat Sedekah Dua Potong Roti, Menjadi Kaya dan Masuk Surga

Banua.co – Cerita unik berkat sedekah dua potong roti menjadi kaya dan masuk surga ini terjadi pada seorang ulama abad ketiga Hijriyah, Syekh Ahmad bin Miskin.

“Tahun 219 aku ditimpa kemiskinan. Saking miskinnya, bahkan aku tidak punya apa-apa yang bisa dimakan,” cerita Syekh Ahmad.

“Sementara, aku memiliki seorang isteri dan anak kecil. Kami menderita kelaparan yang bersangatan,” lanjutnya.

Syekh Ahmad kehabisan jalan untuk mendapatkan rejeki sekedar memenuhi kebutuhan pangan diri dan keluarganya.

Akhirnya, karena tidak ada lagi solusi, dia berniat menjual rumahnya.

“Aku berniat menjual rumah yang kami tempati dan pindah dari rumah itu,” katanya.

Ia berharap bisa membeli rumah yang lebih murah dan mendapatkan uang sisanya sekedar untuk bertahan hidup.

Syekh Ahmad pergi berjalan-jalan, ingin menawarkan rumahnya. Barangkali ada seseorang yang berminat membelinya.

Malangnya, setelah berkeliling menawarkan, belum jua ada orang yang berminat. Setelah kelelahan, akhirnya dia duduk istirahat bersandar di dinding sebuah bangunan.

Tiba-tiba, seorang pria yang dikenalnya lewat. Seorang sufi bernama Bisyr Al Hafi, biasa dipanggil Abu Nashr. Ia digelari Al Hafi (si kaki telanjang) karena tidak mau mengenakan alas kaki.

“Ada apa Ahmad?” Tanya Abu Nashr.

Syekh Ahmad menceritakan problemnya. Dia menawarkan rumahnya kepada sahabatnya itu.

“Sayang sekali, aku tidak sedang ingin membeli rumah sahabatku,” tanggapan Abu Nashr membuat Ahmad kecewa.

“Tapi aku memiliki dua potong roti. Silakan kah bawa pulang sekedar memenuhi kebutuhanmu hari ini,” sahabatnya itu menghibur hatinya.

Syekh Ahmad bin Miskin pun berjalan menuju rumahnya membawa dua potong roti pemberian sahabatnya. Terbayang di matanya anak dan isterinya sedang menantikan kehadirannya, berharap membawa sesuatu yang bisa mengisi perut kosong mereka.

Di perjalanan, tiba-tiba ada seorang perempuan bersama anak kecil menyambanginya.

“Tuan, tolonglah kami,” melas suaranya.

“Anak saya ini yatim Tuan. Kami berdua kelaparan. Anak yatim ini tidak kuat lagi menahan lapar. Barangkali Tuan punya sesuatu yang bisa disedekahkan,” harap perempuan tersebut sambil melirik roti di tangan Syekh Ahmad.

“Anak yatim itu memandangku dengan pandangan yang tidak bisa kulupakan seumur hidupku,” cerita Syekh Ahmad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *