Berkat Sedekah Dua Potong Roti, Menjadi Kaya dan Masuk Surga

“Aku memuji Allah dan bersyukur. Setelah mendapat pembayaran harta warisan ayahku, kucari janda miskin dan anak yatim itu dan kupenuhi kebutuhan hidup mereka,” tutur Syekh Ahmad.

Dengan modal harta warisan yang didapatkan tanpa disangka itu, Syekh Ahmad berbisnis. Semakin hari usahanya makin sukses, dia menjadi orang kaya. Ia pun makin rajin bersedekah. Semakin sedekah, harganya makin bertambah.

“Aku merasa diriku orang baik dan hebat. Berkat sedekah, hartaku terus bertambah. Aku berharap diriku dicatat sebagai orang shalih di sisi Allah,” ujar Syekh Ahmad.

Sampai pada suatu malam, Syekh Ahmad bermimpi.

“Aku merasa diriku berada di hari kiamat. Kulihat gelombang manusia begitu banyak. Herannya, tubuh mereka masing-masing memikul beban. Mereka memikul dosa-dosa yang berbentuk nyata. Bahkan sampai-sampai seorang fasik memikul dosanya sebesar kota,” cerita Syekh Ahmad.

“Akhirnya tibalah saatnya aku dihadapkan pada timbangan. Amal kebaikanku ditimbang dengan amal jahatku. Ternyata amal jahatku lebih berat,” ujar Syekh Ahmad.

“Ternyata di balik amal baik yang kukerjakan, selalu ada terselip kejahatan. Aku tidak selamat dari riya, ingin mendapatkan pujian, dan lainya. Tidak ada jalan lagi bagiku untuk bisa selamat,” lanjutnya.

Syekh Ahmad dalam masalah besar. Amal jahatnya jauh lebih banyak. Ternyata meski dalam hidupnya selalu berbuat kebaikan, namun ada saja keburukan tersimpan di balik kebaikan tersebut. Sehingga, bukannya menjadi pahala, malah menjadi dosa.

Tiba-tiba ada suara, “Apa tidak ada lagi tersisa sedikit pun yang bisa dimasukkan dalam timbangan?”.

“Hanya tersisa ini,” ada suara menyahut.

Syekh Ahmad melihat dua potong roti yang pernah ia sedekahkan kepada janda dan anak yatim.

“Aku sudah putus asa. Apalah artinya sedekah dua potong roti itu. Pernah satu kali sedekah aku menghabiskan seratus dinar (425 grams emas), namun tidak berarti apa-apa bobotnya dibandingkan dosa-dosaku. Aku merasa pasti akan celaka,” ujar Syekh Ahmad.

Sedekah dua potong roti itu diletakkan di timbangan. Ajaib! Timbangan bergerak. Amal kebaikan Syekh Ahmad terlihat seimbang dengan amal kejahatannya. Rupanya, meski kecil nilainya tapi sangat berat bobotnya. Kendati demikian, Syekh Ahmad masih belum bisa tenang. Ia berada antara dua kemungkinan, masuk surga atau neraka.

“Kemudian, air mata wanita janda yang menangis karena aku lebih mengutamakan bersedekah untuk ia dan anak yatimnya ketimbang anak dan isteriku, juga dimasukkan dalam timbangan. Tiba-tiba timbangan amal kebaikanku menang drastis. Beratnya terus bertambah, hingga terdengar seruan, ‘Ia telah beruntung!'”, Syekh Ahmad menutup ceritanya.

Cerita di atas mengajarkan kepada kita bahwa tidak pasti sesuatu yang secara kuantitas besar namun juga besar secara kualitas. Tidak mesti sedekah yang banyak lebih berbobot dari yang sedikit. Nilai sedekah ada pada keikhlasan, tingkat kebutuhan yang bersedekah terhadap yang disedekahkan (nilai pengorbanan), juga tingkat kebutuhan yang menerima sedekah tersebut (nilai kebermanfaatan). Berkat sedekah dua potong roti, bisa saja menyebabkan seseorang di beri Allah kekayaan dan masuk surga.

Wallahu A’lam.

Diceritakan kembali oleh: Khairullah Zain.

Baca Juga: Sedekah Salah Sasaran, Apa Manfaatnya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *