Membayar Hutang Puasa Orang yang Sudah Wafat, Begini Caranya!

Kewajiban membayar hutang puasa bersifat muwassa’ alias longgar. Sepanjang tahun, sebelum masuk Ramadhan berikutnya, orang yang terhutang diberi kelonggaran membayar hutang puasa kapan saja. Namun, bagaimana bila seseorang wafat, sementara dia masih mempunyai hutang puasa?

Oleh: Khairullah Zain*)

Khairullah ZainPuasa di bulan Ramadhan adalah kewajiban setiap muslim dan muslimat. Siapapun yang telah memenuhi persyaratan, wajib melaksanakannya.

Bahkan, wanita yang haram berpuasa di bulan Ramadhan disebabkan haidh atau nifas, ketinggalan puasanya dihitung sebagai hutang. Dia wajib membayar hutang puasa yang ditinggalkannya pasca bulan Ramadhan.

Dalam Surah Al Baqarah ayat 84, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka jika di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain”. 

Kewajiban membayar hutang puasa bersifat muwassa’ alias longgar. Sepanjang tahun, sebelum masuk Ramadhan berikutnya, orang yang terhutang diberi kelonggaran membayar hutang puasa kapan saja. Tentunya selain di hari yang diharamkan berpuasa, yaitu dua Hari Raya (Idul Fitri dan Idul Adha), Hari Tasyrik (11,12, dan 13 Dzulhijjah), Hari Meragukan (tanggal 30 bulan Sya’ban), dan hari yang telah tentukannya untuk puasa nadzar.

Namun, bila sampai bertemu Ramadhan berikutnya, seseorang belum membayar hutang puasa Ramadhannya, maka selain wajib membayar hutang puasanya, ia juga dikenakan denda. Dendanya adalah dengan membayar fidyah alias memberi makan satu mud untuk orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya.

Ini sebagaimana disabdakan Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam dalam riwayat Ad Darquthni dan Al Bayhaqi:

من أدرك رمضان فأفطر لمرض ثم صح ولم يقضه حتى أدركه رمضان آخر صام الذي أدركه ثم يقضي ما عليه ثم يطعم عن كل يوم مسكينا 

“Sesiapa yang menemui bulan Ramadhan tidak berpuasa, karena sakit, kemudian dia sehat namun tidak membayar puasanya hingga menemui Ramadhan (tahun) berikutnya, maka dia wajib berpuasa (menunaikan kewajiban) Ramadhan yang ditemuinya itu, kemudian (pasca Ramadhan) wajib membayar hutang puasanya, kemudian (sebagai denda) wajib memberi makan satu orang miskin dari setiap hari puasa yang ditinggalkannya tersebut.”

Tentu saja denda ini dibebankan kepada orang yang sengaja meninggalkannya. Adapun bila tanpa sengaja, semisal seseorang lupa bahwa dia punya hutang puasa, hingga tiba Ramadhan berikutnya, maka tidak wajib bayar denda.

Sayyid Sa’id bin Muhammad Ba ‘Ali Al Hadhrami, seorang ulama fikih bermazhab Syafii, dalam Busyra Al Karim mengatakan:

أَمَّا تَأْخِيْرُهُ بِعُذْرٍ كَسَفَرٍ وإِرْضَاعٍ وَنِسْيَانٍ وَجَهْلِ حُرْمَةِ التَّأْخِيْرِ وَلَوْ مُخَالِطًا لَنَا فَلَا فِدْيَةَ فِيْهِ

“Adapun mengakhirkan (bayar hutang puasa hingga datang Ramadhan berikutnya) bagi orang yang udzur, seperti (terus menerus dalam) musafir, menyusui, lupa, tidak tahu keharaman melambatkan, meski ia bergaul dengan kami (ulama), maka tidak ada kewajiban bayar fidyah (sebagai denda) atasnya”. 

Bila sampai bertemu Ramadhan tahun berikutnya, dia belum juga membayar hutang puasanya, maka dendanya berlipat ganda.

Syekh Nawawi Al Bantani dalam Kasyifah As Sajaa mengatakan:

واعلم أن الفدية تتكر بتكرر السنين وتستقر في ذمة من لزمته.

“Ketahuilah bahwa fidyah berganda dengan sebab bergandanya tahun. (Selama belum lunas) denda tetap berada dalam beban tanggungan orang yang wajib membayarnya”.

Kemudian, bagaimana bila seseorang wafat, sementara dia masih mempunyai hutang puasa?

Simak lanjutannya, klik Membayar Hutang Puasa Orang yang Sudah Wafat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *