Paribasa Banua Banjar: Balayar di Pulau Kapuk

Balayar di pulau kapuk, salah satu istilah yang masih popular di kalangan bubuhan Banua Banjar. Kendati demikian, apa makna yang lebih luas dari paribasa Banua Banjar ini? Mari kita simak bersama ulasan berikut ini.

Oleh: Noorhalis Majid*)

Norhalis MajidMenyindir yang tidak mau bekerja, hanya bermalas-malasan saja di tempat tidur. Seharian kerjanya hanya tidur, tidak mau berusaha mencari pekerjaan, atau berkreasi menciptakan lapangan pekerjaan. Mengira dengan bermalas-malasan di tempat tidur – tanpa berusaha, uang  datang dengan sendirinya, itulah maksud balayar di pulau kapuk.

Berlayar di pulau kapuk – kasur sebagai tempat tidur, begitu artinya. Memang agak aneh, karena berlayar tentu saja di laut – danau – atau samudera luas, mengarungi perairan. Berlayar di sini merupakan sindiran, karena bukan untuk mengarungi laut dengan penuh tantangan menuju pulau harapan, tapi berlayar di tempat tidur, bersama mimpi dan lamunan yang tidak direalisasikan dalam wujud nyata.

Waktu lebih banyak di tempat tidur bermalas-malasan, tidak mau bekerja membanting tulang untuk membangun penghidupan. Pagi tidur, siang – sore tidur, dan malam pun tidur, Sebagian besar waktu habis hanya untuk tidur. Saat ditanya ada di mana? Disindir dengan ungkapan ini, sedang berlayar, bukan di samudera – menantang badai, tapi di tempat tidur.

‘Balayar di Pulau Kapuk’ gambaran kemalasan, karena tidak mau bekerja, mencari penghasilan.

Ungkapan ‘Balayar di Pulau Kapuk’ ini menggambarkan bahwa kebudayaan ingin menempa masyarakatnya agar rajin dalam bekerja – berusaha membangun penghidupan. Secara halus mengatakan, kalau ingin hidup layak, kurangi waktu tidur dan perbanyak waktu bekerja. Kalau ingin menjadi orang alim, kurangi waktu tidur dan perbanyak beribadah dan menuntut ilmu. Dan seterusnya, agar waktu tidak habis percuma hanya untuk kesenangan dalam bentuk tidur. Tidurlah secukupnya, sekedar mengistirahatkan badan, menghilangkan penat, setelah itu waktu harus dimanfaatkan untuk hal-hal produktif.

Banyak cerita orang-orang besar, waktu tidurnya sebentar, lebih banyak terjaga untuk belajar, bekerja, beribadah, atau hal-hal lain sesuai tujuan hidupnya. Bahkan ibadah yang sangat istimewa, adalah saat orang lain lelap tidur, dia justru bangun di tengah malam dan berdialog dengan Tuhannya.

Mengurangi waktu tidur, dan memperbanyak waktu produktif, adalah tradisi orang-orang sukses, para pelopor yang melakukan banyak perubahan sosial – budaya – ekonomi dan bahkan politik. Sebaliknya, para pemalas, lelap tidur bersama mimpinya, balayar di pulau kapuk. (nm)

*) Penulis adalah Kepala Ombudsman perwakilan Kalsel, pemerhati budaya Banua Banjar.

Paribasa Banua Banjar Selanjutnya: Kaya Kambing Tajarat di Buntut.

Paribasa Banua Banjar Sebelumnya: Kadada Nang Manyasal Badahulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *