Paribasa Banua Banjar: Kaya Kambing Tajarat di Buntut

Banua.co – Pernah mendengar ungkapan “Kaya Kambing Tajarat di Buntut”? Apa makna dari paribasa bubuhan Banua Banjar ini? Simak ulasan pemerhati budaya Banua Banjar berikut ini.

Oleh: Noorhalis Majid*)

Norhalis MajidUntuk mampu menyanyi, atau apapun yang dapat mengeluarkan suara merdu, perlu latihan panjang dan pembiasaan. Selain bakat atau faktor turunan, latihan olah vokal sangat penting, bahkan lebih menentukan dari bakat. Kalau tidak, maka suara akan hancur, seperti menjerit, tidak seirama dengan nada, itulah maksud kaya kambing tajarat di buntut.

Bagaikan kambing terikat ekornya, demikian arti harfiahnya. Bisa dibayangkan, bagaimana bila seekor kambing ekornya diikat, tentu berteriak sejadinya. Ilustrasi tersebut dipinjam menyindir seseorang yang memaksakan diri menyanyi atau melantunkan suara, diharapkan terdengar suara merdu – syahdu, ternyata jelek – tidak sesuai nada.

Menyanyi, nampak mudah bagi yang biasa – terlatih, namun yang tidak biasa, akan sangat susah. Begitu susahnya, mungkin yang terjadi suara tidak akan mampu keluar – tidak terdengar. Kalaupun terdengar, bunyinya seperti sedang berkumur-kumur, atau lebih parah lagi, seperti sedang menggosok gigi, begitu biasanya sindirian terhadap suara yang tidak nyaman didengar telinga.

Karena menyanyi bagian dari keterampilan, tidak ada cara kecuali melatihnya dengan sungguh-sungguh. Semua penyanyi hebat, lahir dari latihan yang sangat keras – berulang-ulang sampai menemukan karakter vokal yang sesuai dengan dirinya.

Olah vokal dan olah napas, satu kesatuan dalam melatih suara, begitu para ahli merekomendasikan. Suara bagus, datang dari kemampuan pengaturan napas. Bagaimana cara menarik, menyimpan dan mengeluarkan napas. Perlu bimbingan ahli untuk dapat melakukannya, sehingga kualitas vokal dan napas, saling mendukung satu sama lain.

Ungkapan ‘Kayak Kambing Tajarat di Buntut” ini menyindir yang memaksakan diri, tidak pernah berlatih, tapi langsung ingin bernyanyi – menghibur. Hasilnya bukannya suara dan nada yang nyaman terdengar, malah seperti suara kambing yang berteriak – menjerit karena ekornya terikat.

Dalam kehidupan sosial, ungkapan ini justru sebaliknya, bermakna suara sumbang, yang berarti suara kebenaran. Tidak nyaman didengar penguasa, mengganggu dan mengancam penguasa itu sendiri. Kalau suara sumbang sampai terdengar, menggambarkan berbagai keharmonisan sedang terganggu. Bila sangat substantif, menyangkut prinsif seperti keadilan – kebenaran, maka suarakan saja, walau bunyinya kaya kambing tajarat di buntut. (nm)

*) Penulis adalah Kepala Ombudsman perwakilan Kalsel, pemerhati budaya Banua Banjar.

Paribasa Banua Banjar sebelumnya: Balayar di Pulau Kapuk.

Paribasa Banua Banjar selanjutnya: Kaya Hayam Kahilangan Umanya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *