Ibadah yang Lebih Utama dari Puasa Sunnah

Banua.co – Setiap hari ada 24 jam waktu berputar, dan ada satu jam di antara 24 jam tersebut yang apabila diisi dengan ibadah lebih utama dari puasa sunnah.

Oleh: Khairullah Zain.

20210226 224907 1 1 150x150 - Ibadah yang Lebih Utama dari Puasa SunnahSetiap waktu memiliki keberkahan masing-masing. Waktu sepertiga malam terakhir misalnya, adalah waktu di mana Allah menawarkan pengabulan atas permintaan hamba-hambaNya. Namun, satu jam waktu yang apabila diisi dengan ibadah pahalanya lebih utama dari pada puasa seharian bukan di tengah malam atau sepertiga malam terakhir tersebut.

Imam Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad dalam kitab Risalah Al Mu’awanah menceritakan bahwa seorang syaikh bernama Ahmad bin Abi Al Hawari pernah minta pendapat kepada gurunya yang berkuniyah Abu Sulaiman tentang apa yang harus dia pilih, apakah berpuasa sunnah di siang hari ataukah menghidupkan waktu antara Maghrib dan Isya dengan ibadah.

“Lakukan keduanya,” kata Syekh Abu Sulaiman.

“Tapi guru, aku tidak sanggup. Karena apabila aku berpuasa, aku akan sibuk dengan berbuka puasa di waktu tersebut,” sahut Syekh Ahmad.

Syekh Abu Sulaiman kemudian memberikan pilihan, “Bila kau tidak sanggup melakukan keduanya, maka tinggalkan puasa sunnah di siang hari dan hidupkan waktu antara Magrib dan Isya dengan ibadah.”

Screenshot 20210410 114017 1 1024x905 - Ibadah yang Lebih Utama dari Puasa Sunnah
Imam Al Haddad menceritakan tentang ibadah yang lebih utama dari puasa sunnah

Menghidupkan waktu antara Magrib dan Isya boleh dengan ibadah apa saja. Baik itu sholat sunnah, menuntut ilmu, membaca Al Qur’an, berdzikir, membaca sholawat, dan ibadah-ibadah lainnya.

Cerita di atas bukan berarti memperenteng ibadah puasa sunnah. Karena setiap ibadah pasti memiliki kelebihan dan keutamaan masing-masing. Cerita tersebut hanya menggambarkan betapa pentingnya mengisi waktu antara Maghrib dan Isya dengan ibadah.

Sebelum mengutip cerita di atas, Imam Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad menyebutkan dua hadits tentang keutamaan shalat sunnah antara Magrib dan Isya.

Hadits pertama adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaih wa aalih wa sallam, “Sesiapa shalat antara dua Isya sebanyak dua puluh rakaat, niscaya Allah membangunkan sebuah rumah untuknya dalam surga.”

Adapun hadits kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaih wa aalih wa sallam bersabda, “Sesiapa shalat setelah Magrib sebanyak enam rakaat, tidak menyela antara rakaat tersebut dengan membicarakan sesuatu, maka Allah akan menyetarakan untuknya pahala ibadah dua belas tahun.”

Shalat sunnah yang dikerjakan setelah Maghrib ini disebut para ulama, di antaranya Al Imam Al Ghazali dalam kitab Bidayah Al Hidayah dengan “Shalat Awwabin”.

Sementara, bagi para penuntut ilmu, sebaiknya mengisi waktu ini dengan menghapal ataupun mengulang pelajaran. Karena dalam kitab Ta’limul Muta’allim disebutkan bahwa waktu yang baik untuk menghapal atau mengulang pelajaran adalah waktu antara Magrib dan Isya.

Wallahu A’lam.

Baca Juga: Membayar Puasa Orang yang Sudah Wafat, Begini Caranya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *