Paribasa Banua: Kaya Hayam Kahilangan Umanya

Kaya hayam kahilangan umanya, tidak jarang tidak mendengar ungkapan bubuhan atau Paribasa Banua Banjar tersebut. Apa maksudnya? Simak ulasan pemerhati budaya Banua Banjar berikut ini.

Oleh: Noorhalis Majid*)

Norhalis MajidTerkocar-kacir, bingung – tidak tahu harus berbuat apa. Tidak ada yang dapat mengomando, dan tidak ada yang menjadi komando – penuntun agar teratur. Kehilangan arah dan tujuan, begitulah yang dimaksud kaya hayam kahilangan umanya.

Seperti ayam kehilangan induknya, begitu arti harfiahnya. Jangankan kehilangan induk, terpisah dari induknya saja membuat ayam bingung tidak tahu berbuat apa. Hanya berteriak dan berlari kesana-kemari, kehilangan tujuannya. Fenomena anak ayam kehilangan induk, dipinjam untuk melihat fenomena sosial.

Manusia juga sering kali layaknya seperti ayam. Dalam satu organisasi, bila pemimpinnya yang berkharisma tidak ada, pergi atau meninggal dunia, semua anggota organisasi, bila tidak segera memilih pemimpin pengganti, akan kebingungan seperti halnya anak ayam tadi. Pun begitu murid sekolah yang belum dewasa, belum dapat mengatur dirinya secara mandiri, bila ditinggal wali kelas atau gurunya, kocar-kacir tidak tahu harus berbuat apa.

Dalam rumah tangga juga begitu, seketika orang tua meninggalkan anak-anaknya, padahal anak-anak belum ada yang dewasa, maka bila tidak ada yang menggantikan untuk mengatur – memandu, akan kocar-kacir pula, bahkan tidak jarang saling berebut harta, menjadi tidak kompak lagi.

Ungkapan ‘kaya hayam kahilangan umanya’ ini memberi nasehat, bahwa manusia bukan ayam. Manusia makhluk berakal, sehingga kalau terjadi sesuatu, tiba-tiba saja kehilangan pemimpin menjadi panutan, segera bermusyawarah, merapatkan barisan – untuk menentukan langkah selanjutnya, sehingga tidak kehilangan arah dan tujuan.

Apalagi dalam satu keluarga, segeralah duduk bersama, ambil inisiatif, jangan sampai terkocar-kacir dan membuat keluarga menjadi pecah – saling tidak percaya satu sama lainnya.

Musyawarah, adalah satu kearifan yang bersumber dari agama, asal kata dari syawara-yasy’uru-musyawarah atau syura, yang bermakna petunjuk atau nasehat, pertimbangan. Menjadi metode untuk mengambil langkah bersama berdasarkan nasehat dan pertimbangan semua anggota kelompok. Saat sudah menjadi kesepakatan, maka menjadi suara bersama – menjadi arah dan tujuan.

Dengan musyawarah, manusia membedakan dirinya dengan ayam. Tidak bingung, tidak terkocar-kacir bila seketika kehilangan pemimpin yang menjadi panutan. Tidak hilang arah, kaya hayam kahilangan umanya. (nm)

*) Penulis adalah Kepala Ombudsman perwakilan Kalsel, pemerhati budaya Banua Banjar.

Simak Paribasa Banua Banjar sebelumnya: Kaya Kambing Tajarat di Buntut.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *