Ujian Cinta Samnun ‘Sang Pecinta’ Al Khawwas

Banua.co – Samnun ‘Sang Pecinta’ bernama asli Abu Al Hasan Samnun bin Hamzah Al Khawwas. Termasuk salah seorang ulama Sufi dari kalangan Ahlussunnah Wal Jamaah.

Oleh: Khairullah Zain

Khairullah ZainSamnun hidup pada abad ketiga Hijriyah. Tidak ada catatan kapan tahun lahirnya. Para ulama hanya mencatat bahwa Sumnun lahir di Baghdad. Namun wafatnya menurut As Sulami dalam Thabaqat as Shufiyyah pada tahun 298 Hijriyah.

Imam Al Qusyairi dalam Ar Risalah Al Qusyairiyah menuliskan bahwa Samnun adalah murid Sari (Sirri) bin Al Mugallas as Saqathi.

Samnun mendapat julukan ‘Sang Pecinta’ karena sering melantunkan puisi-puisi cinta, ungkapan cintanya kepada Sang Pencipta. Kendati orang-orang menjuluki dengan julukan ‘Samnun Sang Pecinta’, namun dia sendiri menjuluki dirinya sebagai ‘Sang Pendusta’.

Statement Samnun 'Sang Pecinta'
Salah satu statement Samnun ‘Sang Pecinta’

Cerita menarik tentang Samnun adalah bahwa suatu kali dia bermimpi. Dalam mimpinya Samnun menyaksikan hari kebangkitan telah tiba. Ketika itu setiap kelompok memiliki panji-panji. Diantaranya ada satu yang panji-panjinya begitu terang cahayanya. Samnun mengagumi kelompok itu.

“Golongan siapa itu,” tanya Samnun.

Ada yang menjawab, “Itulah orang-orang yang sebagaimana dikatakan ‘Dia mencintai mereka, dan mereka mencintaiNya'”.

Samnun pun ingin masuk dalam kelompok tersebut. Dia menyelinap ke dalam rombongan mereka. Tiba-tiba, seseorang mengusirnya.

“Kenapa kau mengusirku?” Tanya Samnun.

“Ini adalah kelompok para pecinta. Kau bukan pecinta!”, Lugas orang itu.

“Apakah Aku bukan seorang pencinta? Bukankah orang-orang menjulukiku sebagai Samnun Sang Pencinta dan Allah Maha Mengetahui apa-apa yang terkandung di dalam hatiku ini,” sahut Samnun.

“Samnun, dahulu engkau memang seorang pencinta. Tetapi sejak hatimu lebih cenderung kepada anakmu, namamu telah dihapus dari daftar para pencinta.”

Di dalam mimpinya itu, Samnun pun memohon ampunan kepada Allah: “Ya Allah, jika karena anakku aku akan tergelincir, tunjukilah aku jalan yang baik.”

Ketika Samnun terbangun, terdengarlah suara gaduh, “Anak itu terjatuh dari atas loteng dan mati.” Rupanya Puteri Samnun yang baru berusia tiga tahun dan sangat disayanginya terjatuh dan tewas.

Sumnun menjuluki dirinya ‘Sang Pendusta’ karena suatu kali dia pernah berkata:

فليس لي في سواك حظ، فكيفما شئت فامتحني

“Tidak ada ruang lagi bagi selainMu untukku, maka bila Engkau hendak, silakan uji aku”.

Seketika itu juga saluran kencingnya tersumbat. Tentu saja sakitnya luar biasa. Samnun kemudian mengunjungi anak-anak di berbagai sekolah. Kepada mereka Samnun bermohon, “Berdoalah untuk pamanmu Sang Pendusta ini”.

Cerita Samnun ‘Sang Pecinta’ mengingatkan kita bahwa tidak mudah untuk mengaku sebagai ‘Sang Pecinta’, karena setiap orang bisa mengaku atau mengklaim, namun setiap pengakuan perlu diuji kebenarannya.

Edítor: Shakira.

Klik untuk menyimak Kisah Sufi dan Kisah Wali lainnya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *