Selamat Datang Ramadan, Bulan Budaya!

Jika ingin melihat bagaimana agama dan budaya berpadu dan saling bertaut, saksikanlah bagaimana Ramadan berlangsung. Ramadan bulan budaya.

Oleh: Yunizar Ramadhani*)

RAMADAN sebentar lagi tiba, bulan istimewa buat umat Islam dan pada sisi tertentu juga spesial buat selain muslim. Dalam ajaran Islam, memang ada yang istimewa di antara yang banyak. Dalam sehari ada lima waktu salat, dalam seminggu ada hari Jumat, dalam sebulan ada puasa ayyamul bidh, dan dalam setahun ada bulan Ramadan.

Di dalam bulan Ramadan terdapat banyak keistimewaan. Kata Nabi, pintu-pintu surga dibuka, setan-setan dibelenggu. Segala amal ibadah bernilai lipat-ganda, segala dosa mendapat ampunan. Di dalam bulan Ramadan ada satu malam yang lebih mulia dari seribu malam, malam ketika al-Quran turun untuk pertama kalinya, malam tatkala manusia yang jiwanya mengembara ke alam ilahi mendapat salam atau kedamaian.

Karena kemuliaan bulan ini, Tuhan mensyariatkan puasa bagi kaum beriman sebagaimana Ia pernah titahkan kepada umat-umat terdahulu. Karena mulianya dan segala keutamaan yang ada di dalam bulan ini pula, patutlah jika setiap muslim merasa bahagia akan kedatangannya. Nabi berkata: siapa yang berbahagia akan kedatangan Ramadan, diampuni segala dosanya yang telah lalu. Mengenai hal ini, setiap orang punya caranya sendiri-sendiri dalam berbahagia.

Para agamawan, alim-ulama, dan orang-orang saleh adalah mereka yang paling bahagia dengan kedatangan Ramadan. Demi mengetahui betapa sang kekasih yang telah lama dirindukan datang, jauh-jauh hari mereka sudah mempersiapkan diri.

Sebagian ulama tradisional biasanya menutup majelis-majelis pengajian, meliburkan pesantren-pesantren, tidak menerima permintaan tausiyah untuk sementara. Semua itu demi memberi waktu bagi diri untuk beribadah, bermunajat, bertafakkur, beristirahat dari segala kesibukan duniawi, demi meraih kemuliaan Ramadan.

Sementara bagi para pendakwah, bulan Ramadan menjadi kesempatan besar untuk menyiarkan agama. Sepanjang bulan puasa, kaum Muslim kelas menengah perkotaan biasanya membatasi aktivitas fisik dan mengalihkan perhatian lebih untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan.

Keadaan itu menghajatkan kehadiran para da’i dan penceramah dalam acara-acara seperti kuliah subuh, buka puasa bersama, dan majelis selepas salat tarawih. Dengan itu, bulan puasa adalah bulan penuh berkah, baik bagi para jamaah maupun para pendakwah, baik berkah ilmu agama maupun “berkah” untuk berhari-raya.

Bukan hanya agamawan yang terlimpahi “berkah hari raya”. Para pedagang, pebisnis dan para pemilik modal adalah mereka yang juga merasa bahagia akan hadirnya bulan Ramadan yang penuh berkah.

Pada bulan Ramadan yang merupakan waktu seremonial dalam Islam, aktivitas dan kegiatan kaum Muslim tidak normal layaknya bulan-bulan lain. Karena itu, bulan ini menjadi momentum yang berharga bagi para pedagang, pebisnis dan para pemilik modal itu untuk lebih gencar memasarkan produk-produknya dan meraih berkah sebanyak-banyaknya.

Dulu sebelum pandemi, sejak beberapa pekan sebelum Ramadan tiba, warung-warung dan kios-kios yang akan menjajakan makanan dan minuman untuk berbuka puasa sudah didirikan. Pemerintah bahkan meresmikan Pasar Ramadan sebagai salah satu komoditi pariwisata. Sekarang warung-warung dan kios-kios itu ada di ponsel-ponsel kita.

Iklan-iklan dan program-program acara di televisi, koran, spanduk yang dipajang di lingkungan masjid-masjid dan di media-media sosial tampil dengan nuansa Ramadan. Semua menawarkan produk-produk barang dan jasa serta hiburan, mulai dari makanan dan minuman segar hingga multivitamin dan obat sakit maag, mulai dari ceramah agama dan film bernuansa Islami hingga penampilan komedi dan demo masak.

Momentum tersebut bertemu dengan karakter konsumtif masyarakat kita yang memang sudah menggejala. Boleh jadi masalahnya bukan itu, atau bukan hanya itu. Masyarakat kita memiliki tingkat komunal cukup tinggi dan makanan boleh dibilang salah satu pengikat komunitas itu, seperti terlihat dari maraknya acara buka puasa bersama.

Selain itu, datangnya Ramadan berarti makin dekatnya hari raya idul fitri. Itu berarti tingkat permintaan (demand) terhadap barang dan jasa juga tinggi, dan itu mendorong peningkatan produksi di lain sisi. Meningkatnya konsumsi dan produksi itu harus dilihat sebagai cara setiap anggota masyarakat dalam mengekspresikan kebahagiaan Ramadan.

Anak-anak dan para remaja tak ketinggalan pula ikut merasakan kebahagiaan hadirnya bulan Ramadan. Waktu sekolah yang diperpendek atau bahkan diliburkan, membuat mereka banyak menghabiskan waktu di rumah atau bergaul dengan teman-teman sebaya.

Sebagian mereka mungkin akan mengisi hari-hari Ramadan dengan beribadah atau bertadarus al-Quran, terlepas karena niat meraih pahala atau mengisi kolom-kolom Buku Kegiatan Ramadan yang ditugaskan Sekolah. Tapi sebagian lain merayakan bulan puasa dengan riuh dibalut kenakalan remaja yang menyenangkan. Maka tak heran jika menara-menara masjid dan surau mendengungkan bacaan kitab suci, dari arah lain terdengar dentuman petasan dan kembang api.

Pada malam hari selepas buka puasa, anak-anak dan remaja di pedesaan atau pinggiran kota juga turut mengisi malam-malam Ramadan dengan salat tarawih dan tadarus Quran, sembari bermain kejar-kejaran atau menjajaki kemungkinan bertemu dengan sang pujaan. Setelah bergadang semalaman, di subuh hari mereka akan berkeliling kampung membangunkan orang untuk bersahur dengan menabuh ember-ember bekas atau alat-alat musik bikinan.

Sementara sebagian anak dan remaja kelas menengah dan atas di perkotaan melewati bulan puasa dengan mengikuti program-program Ramadan, seperti pesantren kilat, kursus-kursus dan pelatihan-pelatihan. Tentu sebagian kegiatan itu berbayar.

Namun sebagian lain menghabiskan waktu membuat konten-konten kreatif dan narsis di media sosial seputar Ramadan atau menyerbu mall dan pusat-pusat perbelanjaan. Ada pula yang jalan-jalan sore atau ngabuburit sambil menunggu waktu berbuka puasa, dan bila sirene Maghrib berbunyi, mereka pun menyantap menu buka puasa bersama yang disuguhkan di kafe-kafe atau restoran.

Sungguh Ramadan bukanlah hanya bulan ibadah nan penuh fadhilah, melainkan juga bulan penuh berkah nan meriah. Setiap orang berbahagia menyambut kehadirannya. Apa dan bagaimanapun kebahagiaan itu tafsirnya dan bentuknya, itulah yang acapkali kita sebut dengan budaya. Fenomena-fenomena yang kami sebutkan di atas hanyalah sedikit di antara banyak bentuk budaya masyarakat kita dalam mengekspresikan kebahagiaan menyambut bulan puasa.

Jika kita semata-mata berpijak pada doktrin agama, bulan Ramadan memang semestinya bulan khusus beribadah dan mengurangi aktivitas duniawi. Ibadah Puasa juga mengajari kita untuk menahan diri dari makan dan minum, yang berarti juga menahan diri dari sifat konsumtif dan serakah. Tapi begitulah budaya: doktrin dan kreativitas manusia selalu saling bernegosiasi.

Karena itu, tidak peduli apakah Ramadan berlangsung dalam ketenangan, kesunyian dan kekhusyukan beribadah, atau dalam kesibukan, keramaian dan kebisingan, Ramadan tetaplah bulan penuh kegembiraan. Jika ingin melihat bagaimana agama dan budaya berpadu dan saling bertaut, saksikanlah bagaimana Ramadan berlangsung. Di tengah keharusan menjaga jarak dan menghindari kerumunan seperti sekarang ini, budaya-budaya baru di bulan Ramadan akan mengambil bentuk yang semakin beragam.

Arkian, sambutlah bulan Ramadan ini dengan penuh rasa bahagia. Selamat datang Ramadan, bulan agama, bulan budaya![]

*) Penulis adalah Guru Pondok Pesantren Darul Hijrah Putri Martapura


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *