Rabi’ah Al ‘Adawiyah dan Misteri 18 Potong Roti.

Rabi’ah Al ‘Adawiyah bersikeras bahwa 18 roti itu bukan untuknya. Budak wanita yang menjadi kurir juga bersikeras bahwa roti itu memang dihadiahkan tuannya untuk Rabi’ah. 

Oleh: Khairullah Zain

20210226 224907 1 1 150x150 - Rabi'ah Al 'Adawiyah dan Misteri 18 Potong Roti.Rabi’ah Al ‘Adawiyah adalah salah seorang Awliya Allah yang sangat terkenal. Statement-statement cintanya kepada Sang Kekasih menjadi inspirasi dan motivasi para ulama sufi di jamannya dan generasi sesudahnya.

Sufi wanita ini diperkirakan lahir antara tahun 713 – 717 Masehi, atau 95 – 99 Hijriah, di kota Basrah, Irak dan meninggal sekitar tahun 801 Masehi / 185 Hijriah.

Suatu kali, dua orang pemuka agama bertemu kepada Rabi’ah Al ‘Adawiyah. Mereka berharap mendapat suguhan dari Rabi’ah. “Makanan yang disuguhkan Rabi’ah pasti diperolehnya dengan halal,” pikir mereka. Makanan yang halal sangat baik pengaruhnya terhadap peningkatan spiritual.

Ketika mereka masuk, ternyata Rabi’ah Al ‘Adawiyah sudah menyiapkan dua potong roti siap disantap. Mendadak, sebelum mereka dipersilakan makan, ada pengemis datang. Herannya, Rabi’ah malah memberikan dua potong roti tersebut kepada pengemis.

Tentu saja dua orang pemuka agama itu kecewa. Dua potong roti yang disuguhkan dan siap disantap, ternyata malah diberikan kepada pengemis yang datang belakangan. Namun, mereka tidak berani berkata apa-apa.

Tidak berapa lama, ada seseorang datang. Rupanya dia adalah seorang budak perempuan. Ia disuruh tuannya mengantar roti sebagai hadiah kepada Rabi’ah.

“Tuanku menyuruh mengantarkan roti ini untukmu,” jelas budak tersebut.

Rabi’ah tidak langsung menerima, tapi dia menghitung jumlah roti. Rupanya ada 18 potong roti yang diberikan kepadanya.

“Sepertinya roti-roti ini bukan untukku,” ujar Rabi’ah menolak pemberian tersebut.

Budak pengantar roti meyakinkan Rabi’ah bahwa roti itu memang dihadiahkan untuknya. Tapi Rabi’ah bersikeras menolak. Alasannya roti itu bukan untuknya.

Tidak berhasil meyakinkan Rabi’ah, akhirnya budak wanita itu membawa pulang 18 potong roti tersebut.

Tidak lama berselang, budak itu datang lagi membawa roti.

“Tuanku menyuruh mengantarkan roti ini untukmu,” katanya.

Seperti sebelumnya, Rabi’ah tidak langsung menerima, tapi menghitung jumlah roti. Rupanya ada 20 potong roti.

Heran, kali ini Rabi’ah mau menerima.

“Roti ini benar untukku,” ujarnya menyambut pemberian tersebut.

20 potong roti langsung disuguhkan Rabi’ah kepada dua orang tamunya. Tapi mereka berdua belum mau makan. Mereka masih merasa heran menyaksikan apa yang baru saja terjadi.

“Ada rahasia apa di balik semua ini?” Salah seorang memberanikan diri bertanya.

“Anda menyuguhkan dua potong roti, tapi kemudian anda berikan kepada pengemis. Ketika ada budak wanita mengantarkan 18 roti sebagai hadiah, anda tolak. Kemudian ketika dia kembali membawa 20 roti, anda terima,” dia berharap mendapat penjelasan Rabi’ah untuk mengusir rasa herannya.

“Ketika kalian datang, aku sudah tahu kalian dalam keadaan lapar. Dua potong roti tidak cukup untuk kalian berdua. Aku merasa tidak pantas menyuguhkan roti itu kepada kalian. Tapi hanya itu yang aku punya,” Rabi’ah menjelaskan.

“Ketika tiba-tiba ada pengemis datang, kenapa aku langsung memberikan? Karena aku berharap Allah membalas sedekah dua potong roti sepuluh kali lipat, sebagaimana janjiNya membalas satu kebaikan dengan sepuluh kali lipat,” lanjut Rabi’ah.

“Aku berdoa, Ya Allah, Engkau telah berjanji bahwa akan memberikan ganjaran kebaikan sepuluh kali lipat dan janji-Mu itu ku pegang teguh. Kini telah ku sedekahkan dua potong roti utuk meraih riho-Mu. Semoga Engkau berkenan untuk memberikan dua puluh potong sebagai imbalannya,” terang Rabi’ah.

“Aku benar-benar yakin bahwa balasan setiap kebaikan adalah sepuluh kali lipat. Sebab itulah aku langsung memberikan 2 potong roti itu, seraya meyakini akan mendapat rejeki sepuluh kali lipat.”

Rupanya karena yakin balasan setiap kebaikan sepuluh kali lipat, Maka Rabi’ah memilih menyedekahkan dua potong roti miliknya, agar di bisa menyuguhkan lebih banyak lagi untuk dua tamunya.

Benar tidak berapa lama langsung ada yang mengantarkan roti, tapi jumlahnya bukan 20, hanya 18. Dengan keyakinan bahwa 2 berbalas 20, Rabi’ah tidak mau menerima. Dia benar-benar yakin bahwa kalau memang balasan dari Allah, pasti tepat jumlahnya. Tidak salah, karena berikutnya datang lagi orang mengantarkan roti, jumlahnya 20. Kali ini Rabi’ah yakin bahwa itu benar-benar untuknya.

Di balik peristiwa itu, sebenarnya hadiah untuk Rabi’ah memang 20 potong roti, tapi dikorup dua potong oleh budak yang menjadi kurir. Setelah ternyata Rabi’ah tidak mau menerima, dia kembali kepada tuannya dan meminta dua potong roti sebagai ganti yang dia ambil.

Kisah Rabi’ah Al ‘Adawiyah diatas diceritakan Fariduddin Al ‘Aththar dalam Tadzkirah Al Awliya.

Editor: Shakira.

Baca Juga: Berkat Sedekah Dua Potong Roti Menjadi Kaya.

Baca Juga: Syeikhah Sulthonah, Sang ‘Rabi’atul ‘Adawiyah’ dari Hadhramaut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *