Qadha Shubuh ikut Imam Tarawih, Why Not?

Banua.co – Bolehkah qadha shalat Shubuh ikut imam yang shalat Tarawih? Apakah shalatnya sah? Andai sah, apakah mendapatkan pahala berjamaah?

Oleh: Khairullah Zain*)

Sebelumnya, menurut para ulama, siapapun yang tidak mengerjakan shalat wajib di dalam waktu yang ditentukan, maka wajib membayar (qadha) di waktu lain.

Rasulullah shalallahu’alaihi wa aalihi wa sallam bersabda, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim, Abu Dawud, dan An Nasai:

قَالَ مَنْ نَسِيَ الصَّلَاةَ فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا فَإِنَّ اللَّهَ قَالَ “أَقِمْ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي 

“Siapa saja yang lupa akan shalat, hendaklah ia mengerjakannya ketika ia ingat, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku’’’

Ada dua kategori orang yang tidak mengerjakan shalat wajib di dalam waktunya, yaitu: karena ada udzur dan tanpa ada udzur.

Orang yang tidak mengerjakan sholat di dalam waktunya tanpa ada udzur diwajibkan membayar (qadha) sesegeranya.

Bahkan, menurut Syekh Ibnu Hajar Al Haytami, sebagaimana disebutkan Syekh Zainuddin Al Malibari dalam Fath Al Mu’in, orang yang tidak shalat di dalam waktunya dengan sengaja, haram mengerjakan shalat sunnah sebelum lunas hutang shalatnya

 قال شيخنا أحمد بن حجر رحمه الله تعالى: والذي يظهر أنه يلزمه صرف جميع زمنه للقضاء ما عدا ما يحتاج لصرفه فيما لا بد منه، وأنه يحرم عليه التطوع (قوله: وأنه يحرم عليه التطوع) أي مع صحته، خلافا للزركشي 

Guruku, Ahmad bin Hajar berkata, ‘hal yang jelas bahwasannya wajib (bagi orang yang meninggalkan shalat tanpa udzur) untuk mengalokasikan seluruh waktunya untuk melakukan qadha selain waktu yang ia butuhkan berupa sesuatu yang tidak dapat ia tinggalkan, dan sesungguhnya haram baginya melakukan shalat Sunnah, meski shalatnya tetap sah, namun imam az-Zarkasyi berpandangan berbeda (tidak sah shalatnya).’

Bagaimana dengan seseorang yang sering tidak shalat Shubuh dan belum dibayarnya, sementara dia juga ingin ikut Tarawih di bulan Ramadhan? Bolehkan dia Tarawih?

Berdasarkan pendapat Syekh Ibnu Hajar diatas, dia tidak boleh bahkan haram shalat Tarawih, karena shalat Tarawih hukumnya sunnah. Dia masih punya tanggungan kewajiban menqadha shalat Shubuh. Maka yang wajib bagi dia adalah menqadha shalat Shubuh.

Kemudian, bolehkah dia qadha shalat Shubuh ikut Imam Tarawih?

Perlu diketahui, dalam berjamaah tidak disyaratkan kesamaan niat dan jumlah rakaat antara Imam dengan Makmum.

Jadi, sah saja seorang yang shalat wajib bermakmum kepada imam yang shalat sunnah, demikan pula sebaliknya. Bahkan, sah orang yang shalat Zhuhur tunai bermakmum kepada orang yang qadha shalat Shubuh, karena tidak disyaratkan juga dalam berjamaah kesamaan qadha atau tunai.

Syekh Ibrahim Al Baijuri dalam Hasyiah Al Baijuri ‘Ala Fath Al Qarib menjelaskan:

ولا يضر اختلاف نية الإمام والمأموم فيصح اقتداء المفترض بالمتنفل والمؤدي بالقاضي وفي طويلة بقصيرة كظهر بصبح وبالعكوس

“Perbedaan niat antara imam dan makmum tidak masalah. Karena itu, seseorang yang shalat wajib lalu bermakmum kepada orang yang shalat sunah, seseorang yang shalat tunai lalu mengikuti orang yang mengqadha shalat, seseorang yang shalat panjang lalu bermakmum kepada orang yang shalat pendek seperti zhuhur dengan subuh, atau sebaliknya, maka semua shalat itu sah,” 

Apakah dengan keabsahan shalat berjamaah seperti itu, berarti mereka (imam dan makmum) mendapat pahala berjamaah?

Menurut Syekh As Syarqawi dalam Hasyiah As Syarqawi ‘ala At Tahrir, mereka mendapatkan pahala berjamaah.

  فان اختلفا نوعا فقط كعصر خلف ظهر أو نوعا وصفة كمغرب خلف ظهر كانت الجماعة مكروهة، ومع تحصل ذلك فضيلتها كفرض خلف نفل وعكسه ومؤداة خلف مقضية وعكسه   

“Tetapi kalau hanya berbeda jenis seperti orang shalat ashar yang bermakmum kepada orang shalat zhuhur, atau berbeda model dan sifat seperti orang shalat maghrib yang bermakmum kepada orang shalat zhuhur, maka shalat jamaah tersebut makruh. Meskipun demikian, keutamaan shalat berjamaah tetap didapat seperti orang shalat fardhu yang bermakmum kepada orang shalat sunah atau sebaliknya, orang shalat tunai yang bermakmum kepada orang yang mengqadha shalat atau sebaliknya,”

Dengan demikian bisa kita simpulkan, orang yang masih ada ketingalan shalat wajib, jangan mengerjakan shalat sunnah, tapi fokus membayar hutang shalatnya alias qadha. Kemudian, orang yang menqadha shalat wajib, sah dan mendapat pahala berjamaah bila dia ikut imam, meski berbeda shalatnya. Jadi, orang yang qadha shalat Shubuh, dia akan mendapatkan pahala berjamaah meski ikut imam yang sedang shalat Tarawih.

Wallahu Muwaffiq ilaa Aqwamith Thoriiq.

*) Penulis adalah alumnus Jurusan Fiqhiyyah Ma’had’Aly Darussalam Martapura.

Klik Untuk Membaca Kajian Fikih Shalat Lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *