Mantan Gubernur Menjadi Pengemis, Ini Kisahnya!

Kisah seorang mantan gubernur yang menjadi pengemis. Demi menempuh jalan spiritual, dia mengundurkan diri dari semua jabatan dan memilih jalan hidup yang sukar dimengerti kebanyakan orang.

Oleh: Khairullah Zain

Hari itu adalah hari yang menggembirakan hatinya. Hari yang membuat orangtuanya bangga terhadap dirinya. Hari itu adalah pelantikan para gubernur. Namanya termasuk dalam daftar yang akan dilantik. Iya, dia salah seorang yang beruntung dipilih sebagai seorang gubernur, perwakilan pemerintah pusat di daerah.

Sebagai seorang anak, dia berhasil membuat orangtuanya bangga. Ayahnya, meski menjadi pejabat pemerintahan, namun tidak pernah menduduki jabatan gubernur. Sementara dia, diangkat sebagai seorang gubernur di provinsi Demavend.

Hari itu dia bersama rombongan telah berada di ibu kota. Jarak tempuh yang jauh antara Demavend dengan Baghdad, ibu kota pemerintahan, seakan tidak membuatnya lelah. Rasa letih seakan lebur dalam kegembiraan ketika dia dilantik oleh khalifah dan dikenakan jubah kehormatan.

Usai pelantikan, dia langsung berangkat pulang. Tugas sebagai pemimpin di tingkat provinsi, mewakili pemerintah pusat, terbayang di matanya. Ah, jabatan bukan sebuah anugerah, tapi tanggungjawab.

Teriknya padang pasir, hembusan udara panas, menerpa wajahnya. Tiba-tiba dia bersin. Secara reflek, ia mengusap mulut dan hidungnya. Malangnya, dia tidak sedang memegang sapu tangan. Jubah kehormatan pun menjadi korban.

Mulanya, dia tidak menyadari bahwa ini awal dari sebuah cerita baru. Tindakannya menyapu bekas bersin di muka dan hidung rupanya ada yang melaporkan kepada pemerintah pusat. Dia dituduh menghina kehormatan dan wibawa pemerintah.

Dia dipanggil untuk di sidang. Di hadapan pengadilan, kalah argumentasi. Putusan pun ditetapkan. Dia dihukum cambuk dan dipecat. Nasib yang tragis. Dari gubernur menjadi narapidana. Hanya gara-gara bersin semata.

Tiba-tiba, di tengah kegalauan dan rasa sakit menerima deraan, secercah hidayah menyinari hatinya.

“Orang yang menggunakan jubah anugerah manusia sebagai sapu tangan dianggap patut dicela dan pantas menerima hukuman, bahkan dipecat dari jabatan, maka bagaimana dengan orang yang menggunakan jubah anugerah penguasa alam semesta sebagai sapu tangan? Malapetaka apa yang akan menimpanya?” Pertanyaan itu menggelayuti fikirannya.

Iya, sebagai seorang manusia, dia telah menerima jabatan ‘khalifatullah fil ardh’ (khalifah Allah di muka bumi). Dari sekian banyak makhluk Tuhan, sebagai seorang insan dia telah menerima ‘jubah kehormatan’ bernama ‘ahsanu taqwim’ (bentuk terbaik). Apa yang telah dia lakukan dengan jubah ‘ahsanu taqwim’ itu?

Renungan itu menggugah dirinya. Bahwa dia harus memanfaatkan ‘ahsanu taqwim’ untuk melaksanakan tugas ‘khalifatullah’, bukan sekedar menyapu bekas bersin di wajahnya.

Selesai menjalani hukuman, dia menghadap khalifah, kepala pemerintahan. Dia ingin mengajukan pengunduran diri sebagai bagian dari pegawai pemerintahan. Dia tidak mau menerima jabatan apapun lagi.

“Wahai Tuan. Semua orang mengetahui betapa tingginya nilai jubah yang kau anuegrahkan kepada pejabat-pejabatmu. Engkau pun tidak menyukai bila ada yang mengotori dan tidak mampu menjaga nilai kehormatan jubah itu,” ujarnya kepada khalifah.

“Sementara. Raja penguasa alam semesta telah menganugerahkan kepadaku sebuah jubah kehormatan, juga cinta dan pengetahuan. Apakah Dia akan rela apabila aku menggunakannya sebagai sapu tangan hanya demi mengabdi pada seorang manusia?”

Dia pun pamit, meninggalkan semua kemewahan dan fasilitas pemerintah. Dia bertekad menyusun cerita baru kehidupannya.

Lanjutannya, Klik di Sini


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *