Paribasa Banjar ‘Kaya Cina Kakaraman’, Apa Maksudnya?

Pernah mendengar paribasa Banjar ‘Kaya Cina Kakaraman’? Apa makna dari paribasa atau ungkapan orang Banjar ini? Simak ulasannya dalam refleksi budaya Banjar berikut ini.

Oleh: Noorhalis Majid*)

Screenshot 20210331 074156 1 150x150 - Paribasa Banjar 'Kaya Cina Kakaraman', Apa Maksudnya?Semua orang berbicara dalam waktu bersamaan, tidak ada yang mau mengalah, ingin suaranya saja yang didengarkan, akhirnya yang terdengar hanyalah suara gaduh – gemuruh, tidak ada satu pun isi pembicaraan dapat disimak dengan jelas, itulah yang dimaksud kaya cina kakaraman.

Seperti Cina yang kapalnya mengalami kekaraman – tenggelam, begitu arti harfiahnya. Sebenarnya kalau kapal akan tenggelam, semua pasti gaduh – panik, semua akan berteriak, berusaha menyelamatkan diri, bukan hanya Cina, tapi semua yang mengalami pasti panik luar biasa. Namun kebudayaan meminjam Cina, mungkin karena pedagang, maka kepanikan tersebut dianggap berlipat, tidak hanya menyelamatkan diri, tapi juga menyelamatkan barang dagangan, akhirnya kepanikan berubah jadi kegaduhan.

Cina menjadi ilustrasi, menggambarkan hubungan sosial dan budaya yang sangat akrab dengan banjar. Keakraban yang amat sangat, membuatnya saling bercermin – berefleksi diri atas satu dengan lainnya. Lahirlah ungkapan-ungkapan seperti ini, termasuk ungkapan Cina kahilangan dacing.

Dipinjam untuk melihat tingkah polah saling berebut berbicara dalam satu forum, sehingga tidak ada yang dapat disimak, semuanya menjadi satu – bergemuruh, tanpa ada yang dapat ditangkap.

Dalam komunikasi keseharian sesama orang banjar, sering kali hal yang lumrah berbicara berbarengan satu dengan lainnya. Semuanya berbicara bersamaan – sekaligus masing-masing sebagai pendengar.

Hal yang sudah biasa tersebut, memaksa mampu menangkap semua pembicaraan yang saling beradu. Tentu membuat bingung bagi yang tidak biasa. Kebiasaan tersebut disindir melalui ungkapan ‘Kaya Cina Kakaraman’ ini, agar dalam berkomunikasi bisa saling bergantian, supaya mudah dipahami dengan utuh.

Sebentar akan saling mendengarkan, terutama bila ada yang menarik diperhatikan. Akan fokus pada satu topik pembicaraan, namun ada kalanya seketika tidak sabar, lalu menimpali, saling memotong, dan kembali lagi saling berbicara secara bersamaan.

Pola komunikasi verbal seperti ini, membuat mampu menangkap suara yang gemuruh, walau membingungkan bagi yang tidak biasa.

Ungkapan paribasa Banjar ini ingin memberikan toleransi pada yang tidak biasa. Agar teratur dan bergantian dalam berkomunikasi, sehingga mudah ditangkap – disimak, mengerti maksud isi pembicaraan, tidak gaduh, kaya Cina kakaraman. (nm)

*) Penulis adalah Kepala Ombudsman RI perwakilan Kalsel, pemerhati Budaya Banjar.

Simak Paribasa Banjar Sebelumnya: Kaya Wayang Kasurupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *