Sambut Ramadan dan Hari Kartini, Gusdurian Banjarmasin Gelar Diskusi Tentang Perempuan

Banua.co – Dalam rangka menyambut bulan Ramadan dan Hari Kartini, Gusdurian Banjarmasin menggelar diskusi tentang perempuan secara daring via Zoom Meeting, Rabu 21/4.

Diskusi bertema “Ramadan dan Perempuan Muslimah” tersebut mengetengahkan pembicara Yunizar Ramadhani, guru Pondok Pesantren Darul Hijrah Putri Martapura dan pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Darul Hijrah, dan Nur Ana Mila, mahasiswi Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Antasari Banjarmasin sekaligus pengurus Gusdurian Banjarmasin.

Dalam presentasinya, Nur Ana Mila mengurai tentang persoalan perempuan muslimah di bulan Ramadan. Menurutnya, kesejatian seorang perempuan muslimah selain memiliki kewajiban menjalankan perintah yang dianjurkan dalam ajaran Islam, juga memiliki kewajiban atas peranan lain yang melekat pada dirinya yakni sebagai seorang anak, istri, ibu dan yang lainnya dalam kehidupan.

Terlebih lagi perannya di saat Ramadhan yang dua kali lebih sibuk dalam mempersiapkan segala sesuatunya, terutama bagi yang sudah berumah tangga. Bagi Ana Mila, ada problem umum yang terus melekat di masyarakat yakni terkait perempuan dan padapuran.

Ini menjadi pikiran baginya yang juga menentang atas ungkapan-ungkapan mengenai perempuan itu makhluk penurut, dan hanya bisa mengurusi soal padapuran, serta menjadi objek pasif di rumah. Menurutnya, harus ada kesalingan terkait pembagian peran dalam berumah tangga, agar perempuan (istri) tidak lelah dalam urusan rumah tangga. Alangkah elok kiranya laki-laki (suami) ikut membantu peranan dalam urusan rumah tangga.

Ihwal lainnya yang menjadi problem di kalangan perempuan saat Ramadan yakni cita-cita menjalankan ibadah Ramadan secara penuh yang seringkali tidak bisa terpenuhi, karena adanya halangan, semisal haid, mengandung atau menyusui. Kondisi seperti menstruasi seringkali menurutnya menjengkelkan, dikarenakan datang secara tak terduga kapan waktunya. Ini menjadi kekhawatiran penuh bagi perempuan dalam menjalankan ibadah selama Ramadhan.

Ana Mila berpendapat, kekhususan yang didapati perempuan berupa halangan menstruasi tidak sepenuhnya menjadi kekhawatiran. Ada juga kalangan perempuan yang menanggapinya sebagai anugerah, suatu kebahagiaan bersyarat dikarenakan dapat makan atau memuaskan hasrat konsumsi dan hasrat lainnya.

Sementara Yunizar Ramadhani dalam paparannya lebih banyak menceritakan pengalamannya saat mengajar pelajaran Fiqih dengan Kitab Bidayatul Mujtahid di Pesantren Putri tempatnya bertugas. Materi pelajarannya adalah mengenai hak anak gadis dalam memberikan persetujuan nikah. Imam al-Syafi’i berfatwa ayah boleh menikahkan anak gadisnya tanpa persetujuan si gadis, sementara Imam Abu Hanifah menyatakan pernikahan hanya sah apabila ada persetujuan dari anak gadis.

Reaksi santri putri setelah menyimak materi tersebutlah yang menarik. Sebagian santri putri berpihak pada Imam al-Syafi’i, sementara sebagian lain yang lebih besar membenarkan pendapat Imam Abu Hanifah, tidak mau dipaksa menikah.

Menurutnya, pengalaman mengajarnya itu sedikit-banyaknya memberi gambaran kecil seputar bagaimana posisi perempuan pada umumnya di tengah wacana tentang perempuan, kesetaraan gender dan feminisme. Yunizar memandang perempuan berada di tengah pertarungan dua kuasa, yakni kesadaran akan otonomi perempuan sebagai manusia dan kuasa kebudayaan yang patriarkis.

Untuk itu ia menyarankan perlunya optimalisasi pendidikan perempuan agar perempuan semakin sadar akan eksistensinya. Selain itu, kampanye hak-hak perempuan tidak mesti selalu bersifat perlawanan terhadap dominasi laki-laki, melainkan berdialog dengan budaya yang telah mengakar di tengah masyarakat.

Forum yang dimoderatori oleh Dewi Mastuarina, esais muda sekaligus mahasiswi Aqidah dan Filsafat Islam, ini juga membicarakan hal-hal lain berkenaan dengan keperempuanan, seperti penikahan dini dan pernikahan usia muda. Diskusi kemudian berakhir dengan rekomendasi kepada para perempuan untuk membuktikan diri dan meraih prestasi-prestasi di tengah masyarakatnya.

Arief Budiman, Koordinator Gusdurian BanjarmasinDiskusi menyambut Ramadan dan Hari Kartini ini merupakan kegiatan pertama Gusdurian Banjarmasin. Arief Budiman, Koordinator Gusdurian Banjarmasin, menegaskan diskusi tersebut sekaligus menjadi momen inisiasi komunitasnya, jaringan pecinta dan pembelajar pemikiran KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

“Kegiatan pertama diskusi daring ini digagas dan menjadi momen inisiasi oleh teman-teman Gusdurian Banjarmasin dengan tema Ramadan dan Perempuan Muslimah, bertepatan pada 21 april yang merupakan lahirnya R. A. Kartini panutan perempuan di Indonesia, pelopor hadirnya emansipasi bagi perempuan,” ujarnya.

“Sebagaimana pernah dikatakan Gus Dur, ‘memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya.’ Melalui kemuliaan bulan Ramadan dan Hari Kartini, perayaan lahirnya sosok perempuan panutan, barangkali dapat menjadi refleksi penting bagi kita semua untuk lebih menghargai atau memuliakan peranan perempuan di setiap sendi kehidupan”, ungkap Arief lagi.

Selanjutnya, Gusdurian Banjarmasin akan menggelar kegiatan Ngobrol Asik bersama Zacky Khairul Umam, alumnus Program Studi Arab FIB UI dan kandidat doktor sejarah Islam di Freie Universitat Berlin. Di sana akan diulas para pemikir Muslim masa modern dan kontemporer sekaligus membincang bukunya yang akan terbit berjudul “Renungan Pemikir Muslim Dunia: Filsafat, Sastra, Politik”.

Bincang-bincang dengan tema “Renungan Pemikir Muslim Dunia” ini akan disiarkan langsung lewat akun Instagram (live IG) @riefbudz_ dan @zachumam pada Rabu 28 April mulai pukul 21.00 Wita.[]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *