Paribasa Urang Banjar: Kaladi Manyambati Birah

Banua.co – Nang kaya kaladi manyambati birah, sebuah paribasa urang Banjar yang mewarnai pembicaraan bubuhan Banua Banjar jaman dahulu. Apa maknanya? Mari kita simak bersama.

Oleh: Noorhalis Majid*)

Screenshot 20210331 074156 1 150x150 - Paribasa Urang Banjar: Kaladi Manyambati BirahOrang biasa – bukan siapa-siapa, tidak punya kedudukan – apalagi mempunyai harkat dan martabat yang tinggi, tetapi berani mengata-ngatai orang yang lebih tinggi harkat, martabat dan kedudukannya, itulah yang dimaksud kaladi manyambati birah.

Keladi mencerca jenis keladi yang lebih besar, begitu arti harfiah paribasa urang Banjar ini. Dipinjam untuk melihat prilaku – sifat seseorang yang tidak sadar, tidak bisa melihat diri sendiri, namun berani mencerca, menghina orang lain, ternyata orang tersebut lebih hebat. Alfa untuk bercermin – melihat ke dalam diri, sehingga tidak tahu keadaan sekitar, orang lain ternyata lebih hebat.

Dalam keseharian, baik sebagai individu, institusi – bahkan kewilayahan (daerah – negara), sering berani mengata-ngatai orang lain, institusi lain, bahkan daerah lain. Ternyata justru orang lain tersebut lebih baik keadaannya. Mencerca orang lain kurang berpendidikan, ternyata yang dicerca lulusan perguruan tinggi ternama dari luar negeri.

Suatu daerah merasa bangga mampu memberikan beasiswa kepada anak tidak mampu dan merasa lebih hebat dari daerah lain, ternyata daerah lain justru gratis biaya seluruh jejang pendidikan. Merasa hebat membuat taman-taman kota di setiap perempatan, menganggap lebih mumpuni mengelola kota dibanding orang lain, ternyata kota lain seluruh daerahnya justru sudah hijau laksana berada dalam taman besar bebas polusi.

Merasa mampu mengelola wilayah aman damai dan mencerca daerah lain sebagai tidak aman, ternyata orang sudah berulang kali mendapat penghargaan sebagai kota atau wilayah harmoni. Bahkan memiliki regulasi yang menjamin keharmonisan terjaga dengan baik.

Ungkapan ‘Kaladi Manyambati Birah’ ini memberikan pelajaran, sebelum berkata atau bahkan mengata-ngatai orang lain, lebih baik mempelajari situasi terlebih dahulu, jangan-jangan orang lain lebih bagus. Hendaknya lebih banyak introspeksi, melihat ke dalam diri. Jangan suka mengagungkan diri sendiri dan merendahkan orang lain, bisa jadi yang direndahkan justru lebih tinggi.

Kesombongan, acap kali menutupi cara pandang lebih luas. Kesalahan yang sering terjadi, mengira orang lain selalu sama atau lebih rendah dari dirinya, padahal boleh jadi orang lain justru sudah berlari lebih jauh, akhirnya kaya kaladi manyambati birah. (nm)

*) Penulis adalah Kepala Ombudsman RI perwakilan Kalsel, pemerhati Budaya Banjar.

Simak Paribasa Urang Banjar Sebelumnya: Nang Gatal Dagu, Nang Digaru Siku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *