Madzhab Fikih yang Paling Lama Bertahan, Bukan Syafi’i!

Banua.co – Ternyata, menurut ahli kasyaf madzhab fikih yang nantinya paling lama bertahan bukanlah madzhab Syafi’i atau madzhab mayoritas umat muslim di Indonesia.

Oleh: Khairullah Zain*)

Dahulunya, sangat banyak madzhab-madzhab fikih. Dari murid-murid Imam Syafi’i saja muncul beberapa orang imam madzhab, misalnya Abu Tsaur, Daud Azh Zhahiri, Abu Ja’far Ath Thabari, dan Ahmad bin Hanbal. Namun, madzhab-madzhab yang mereka dirikan lamban laun kehabisan pengikutnya, hingga yang mampu bertahan hanya madzhab yang didirikan Imam Ahmad bin Hanbal.

Ketika madzhab-madzhab tersebut kehilangan para ulama panutan yang mendakwahkan, dan sisi lain minimnya pembukuan atas prinsip-prinsip madzhab, umat Islam pun meninggalkannya. Akhirnya madzhab-madzhab yang pernah menorehkan catatan dalam sejarah perjalanan agama Islam tersebut hanya menjadi cerita sejarah belaka. Tak ada lagi yang menjadi penerusnya.

Dari sekian madzhab fikih yang pernah hadir mewarnai agama Islam, hari ini hanya tersisa beberapa madzhab saja. Kalangan Ahlussunnah Waljamaah hanya mengakui empat madzhab yang masih bisa diikuti, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Sementara dari kalangan Syi’ah, tersisa hanya Imamiyah (Ja’fariyyah) yang mengikuti Imam Ja’far As Shadiq, Zaidiyah yang mengikuti Imam Zaid bin Imam Ali Zainal Abidin, dan Isma’iliyah yang berimam kepada Imam Ismail bin Imam Ja’far As Shadiq.

Hari ini, mayoritas Ahlussunnah Waljamaah mengikuti Madzhab Syafi’i. Madzhab ini diikuti oleh 50% Aswaja di dunia. Urutan kedua Madzhab Hanafi. Sebanyak 35% Aswaja di dunia menjadi pengikut madzhab Hanafi. Sementara, sisanya menganut Madzhab Maliki dan Hanbali.

Kendati Madzhab Syafi’i menjadi ikutan mayoritas Aswaja saat ini, ternyata menurut ahli kasyaf madzhab yang nantinya paling lama bertahan bukanlah madzhab Syafi’i.

Seorang sufi yang dikenal sebagai Wali Qutb, Syekh Abdul Wahhab Asy Sya’rani dalam Al Mizan Al Kubra mengatakan:

ومذهبه اول المذاهب تدوينا واخرها انقراضا كما قاله بعض اهل الكشف قد اختاره الله تعالي اماما لدينه وعباده ولم يزل اتباعه في زيادة في كل عصر الي يوم القيامةلو حبس احدهم وضرب علي ان يخرج عن طريقه ما اجاب فرضي الله عنه واتباعه وعن كل من لزم الادب معه ومع سائر الائمة

“Madzhabnya (Imam Abu Hanifah) adalah madzhab yang paling awal terbukukan dan yang paling akhir kehancurannya. Ini sebagaimana dikatakan oleh sebagian pada ahli kasyaf. Allah telah memilih Imam Abu Hanifah sebagai imam bagi agamaNya dan hamba-hambaNya. Pengikut madzhab ini senantiasa bertambah di setiap zaman hingga hari kiamat. Andai ditahan salah seorang dari pengikut madzhab ini dan dihukum agar keluar dari madzhab yang dianutnya, niscaya mereka tidak akan berkenan. Allah meridhoi Imam Abu Hanifah dan pengikutnya serta setiap orang yang menjaga adab terhadap dia dan terhadap semua imam madzhab.”

Makam Pendiri Madzhab Fikih Hanafi
Makam Imam Nu’man bi Tsabit atau Abu Hanifah, Pendiri Madzhab Fikih Hanafi

Apa yang dilihat oleh para ahli kasyaf ini kalau kita sandingkan dengan kondisi umat manusia hari ini masuk akal. Madzhab Hanafi adalah madzhab yang paling rasional di antara empat madzhab. Dahulunya madzhab ini dikenal dengan isitlah “Madzhab Ahlur Ra’yi” (Madzhab Para Rasionalitas). Satu contoh, dalam hal membayar zakat fitrah misalnya, Madzhab Hanafi dari dahulu sudah membolehkan zakat fitrah dibayar dengan nilai, tidak terbatas pada materi wajib zakat.

Dalam Bada’i as Shana’i, sebuah kitab fikih Madzhab Hanafi disebutkan:

“Diceritakan dari Abu Yusuf (murid Imam Abu Hanifah) bahwa bayar zakat fitrah dengan tepung itu lebih aku sukai daripada bayar dengan jelai, dan bayar dengan dirham (uang) lebih aku sukai daripada bayar dengan tepung atau juga dengan jelai; karena uang lebih bisa menyelesaikan hajatnya si fakir.”

Sementara, kondisi umat manusia semakin hari semakin berpegang pada akal pikiran. Semakin masuk akal sebuah pendapat, semakin mudah diikuti dan diminati. Hanya yang sesuai dengan rasional yang akan sanggup beradaptasi dengan kemajuan berpikir umat manusia. Karenanya, tidak mustahil apa yang dilihat oleh ahli kasyaf tersebut benar-benar akan terjadi, Madzhab Hanafi adalah madzhab yang paling lama bertahan hingga akhir zaman.

Wallahu A’lam.

*) Penulis adalah pemerhati fikih dan sosial masyarakat.

Baca Juga: Martin van Bruinessen: Negara Penting di Asia Menganut Madzhab Hanafi.

Baca Juga: Muslimat NU: Perlu Format Fikih Modern Berbasis Madzhab Hanafi!

Baca Juga: Akal dan Nalar, Urgensinya dalam Beragama.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *